
"Maaf tuan, harga dari item tersebut memang mahal karena disesuaikan dengan kegunaannya. Menurut saya sendiri item ini cukup sepadan dengan harga yang menurut tuan sangat mahal, apalagi tuan sedang memerlukannya sekarang."
"Yah, aku tidak bisa menyangkalnya, cuma poin 7600 seingat ku belum pernah mencapainya. Sebenarnya aku mengincar item kultivasi sih."
"Kalau begitu ijin saya memperkenalkan transaksi hutang piutang dalam membeli skill maupun item! Sama seperti tuan memiliki properti yang belum dibayar lunas tapi tuan bisa memilikinya, walaupun belum sah dimiliki!"
"Memangnya aku bisa berhutang kapanpun yang aku mau tanpa syarat Luxia, lalu untuk batasnya bagaimana?"
"Batasan yang saya berikan pada setiap user berbeda dari berbagai dunia yang pernah saya tempati. Untuk tuan saya memberikan batasan 20.000 poin untuk setiap item maupun skill yang sewaktu-waktu bisa tuan beli kapanpun tanpa mengurangi poin utama."
Di satu sisi Sayuri memperhatikan Hyun Wo lebih dekat dengan tatapan kebingungan, dia lalu memperhatikan Hyun Wo lekat yang menurutnya sedang melamun kan sesuatu.
"Hyun, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Sayuri mulai khawatir.
"Aku baik-baik saja, cuma lagi mikirin wasiat nenekmu, apa aku akan menerimanya atau tidak. Jujur saja aku bisa mematahkan kutukan itu!"
Ada perasaan tidak senang saat Hyun Wo mengatakan hal tersebut yang membuat Sayuri bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ucapan Hyun Wo barusan benar-benar dapat dipercaya.
Sementara Hyun Wo berpikir bahwa Sayuri pasti senang mendengar kabar baik barusan, ada titik terang guna melepaskan kutukan tersebut tanpa harus merugikan salah satu pihak.
"Kamu yakin... bisa mematahkan kutukan turun-temurun keluarga nenekku?" tandas Sayuri, dia sebenarnya tidak ingin kutukan tersebut dapat Hyun patahkan.
"Aku serius, lagipula hal tersebut memang tidak seharusnya terjadi. Maksudku kita baru saling kenal hanya dalam hitungan hari saja, tidak mungkin kan kamu terpaksa harus menikah denganku karena kutukan tersebut?"
"Iya sih, tapi... gimana ya aku bilangannya."
Sayuri masih menundukkan kepalanya dan malu-malu diakhir ucapannya membuat Hyun Wo mengerutkan dahi.
Pada akhirnya Sayuri menerima Hyun Wo untuk mematahkan kutukan tersebut, dia ingin mengetahui kekuatan apa yang bisa menghilangkan kutukan tersebut sampai ke akar-akarnya.
Hyun Wo berpura-pura melafalkan mantra lalu berkata bahwa kutukan tersebut sudah dipatahkan.
Karena melihat Sayuri masih bingung ia mencoba membuktikan kebenaran kutukan yang sudah dipatahkan melalui semacam sihir khusus.
__ADS_1
"Aku bersungguh-sungguh menolak menikah denganmu, Sayuri!" ucap Hyun.
"Hmm... Gitu aja Hyun? Tidak terjadi apa-apa?"
"Mungkin karena sihir tadi berhasil membuat kutukan tersebut lenyap, jadi tidak berefek apapun kepadaku. Yah, kemungkinannya begitu."
"Kamu pasti pernah mendengar nenekmu membicarakan soal kutukan tersebut?"
"Iya, katanya jika orang pilihannya menolak secara sungguh-sungguh dan terang-terangan seperti tadi orang tersebut bakal sesak nafas sebagai tanda awal, lalu jika kamu memiliki penyakit, maka seketika penyakit tersebut akan bertambah parah dari sebelumnya!"
"Begitu ya, kutukan tersebut memang sangat menakutkan."
Hyun Wo kemudian menyampaikan perpisahan kepada Sayuri karena ia memang sedang ada keperluan lain sekarang. Dan sedang terburu-buru oleh waktu.
Namun Sayuri memohon kepada Hyun Wo agar membawanya pergi sekarang. Dia tidak mau kembali ke desa dan tidak ingin hidup sendirian.
"Kenapa Sayuri begitu kekeh memaksa diriku untuk menerimanya ikut pergi denganku? Apa dia..." ucapnya dalam hati.
"Aku bisa membantumu apapun itu, kamu tahukan, aku ini bisa mengunakan sihir penyembuhan dan regenerasi!"
"Kalau begitu ajak aku sekalian kesana, aku tahu kamu memiliki istri tapi aku nggak akan terlalu dekat sama kalian nantinya, maupun menggangu keluarga orang lain!" mohon Sayuri dengan wajah memelas.
"Baiklah, aku membolehkan kamu ikut. Namun Keputusan bukan hanya padaku seorang, kamu harus meminta persetujuan dari istriku dulu. Akan tetapi jika dia menolak aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Tidak apa-apa, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membujuknya."
Sementara di tempat pertemuan Liliana masih sabar menanti Hyun Wo yang masih belum kunjung datang, kurang lebih Liliana menunggu sekitar 30 menit lebih.
Ia hanya duduk manis sambil membayangkan sesuatu dibenaknya, sesekali tersenyum simpul seakan-akan dalam mimpi indah.
Tak lama Hyun Wo kembali, mendengar suara langkah kaki seseorang menginjak dedaunan dan merasakan hawa kehadiran. Membuatnya beranjak dari posisi duduknya.
Hyun Wo bernafas lega setelah melihat Liliana kembali, meskipun perasaan tersebut ditimbulkan dari hati si pemilik tubuh.
__ADS_1
Langsung menjelaskannya secara rinci kepada Liliana, karena Hyun Wo membawa orang lain untuk ikut pergi menuju kota Lytt.
Awalnya Liliana tidak nyakin jika Sayuri berniat untuk mengikuti perjalanan ke kota Lytt, mengingat Sayuri masih memiliki tempat tinggal di desanya.
Belum selesai memutuskan setuju atau tidaknya kepada Sayuri mengenai keputusannya yang kekeh ingin ikut, perkataan Liliana langsung di potong oleh Sayuri dengan segala macam alasan bahwa dirinya pantas untuk ikut serta dalam perjalanan.
Yang pada akhirnya Liliana memperbolehkan Sayuri untuk ikut dengan berat hati.
Berhubung ditengah perjalanan mereka bertemu dengan orang yang membawa barang-barang menggunakan kereta kuda. Hyun Wo lari dan berusaha untuk memberhentikannya.
Kereta kuda tersebut membawa buah-buahan yang terbungkus rapi pada wadah khusus, terdiri dari tiga kereta, salah satunya terdapat tempat untuk bernaung.
Untuk kuda sendiri berjumlah dua ekor berwarna coklat dan hitam.
Si pemilik pun memberhentikan kereta kudanya lantaran melihat anak muda yang melambaikan tangan tak jauh di depannya.
Hyun Wo lalu menjelaskan maksud dirinya yang hendak menumpang tersebut dengan ramah kepada si pemilik kereta kuda.
Pria tua beruban tersebut langsung membolehkan Hyun Wo untuk naik ke kereta kuda bersama dua orang lainnya, Liliana dan Sayuri.
Disela-sela perjalanan Hyun Wo berbincang dengan pria tua tersebut yang menurutnya mudah sekali diajak berbicara.
Apalagi tujuan pria tua tersebut sama dengan tujuan Hyun Wo menuju ke kota Lytt.
Sore hari mereka baru sampai setelah memakan waktu berjam-jam lamanya perjalanan. Mereka juga beruntung karena tidak bertemu monster maupun ras yang seringkali menyerang manusia.
"Terimakasih sudah memberikan tumpangan kepada kami pak, ini ada sesuatu sebagai imbalan buat kebaikan bapak!" ucap Hyun seraya menyodorkan kantung kecil berisi koin perunggu dan obat herbal buatannya.
"Tidak usah nak, bapak hanya semata-mata menolong kalian karena tujuan kita sama. Lebih baik kamu simpan saja, uhuk! uhuk!"
"Kalau gitu bapak terima ini saja, obat herbal buatan ku. Memiliki khasiat yang baik untuk tubuh."
"Ya sudah, bapak terima ini. Berhubung bapak sedang buru-buru jadi kita berpisah disini. Terimakasih untuk obatnya juga nak."
__ADS_1
"Sama-sama pak."