
Para monster bersayap kini memporak-porandakan seisi desa, serangan dadakan mereka sukses membunuh banyak orang dalam sekali serang.
Para penduduk desa yang sedang menikmati secangkir kopi, memasak masakan di dapur, mencuci, berjualan, dan melakukan aktivitas hariannya dalam sekejap lenyap akibat serangan itu.
Seakan-akan mereka mengawali hari untuk kematian mereka yang akan terjadi.
Para monster selain menyerang desa mereka semua berkumpul dan menyatukan kekuatan mereka sehingga tercipta daya ledakan besar saat kekuatan tersebut di arahkan tepat ke titik tengah desa.
Orang-orang terkuat yang memiliki level diri tertinggi pun dikerahkan untuk menghabisi maupun mengalahkan para monster yang menyerang desa secara membabi buta. Disebut dengan kesatria pelindung.
"Kristal pembekuan!"
Kesatria bernama Eldard menghadapi satu monster di depannya, dia barusan mengeluarkan sihir elemen kristalnya dan es yang disatukan, membuat lawan dihadapannya menjadi beku seketika.
Krak..krak..
"Berhasil."
Whosh...
"Arghh."
Grep!
Tidak disangka monster yang dibekukan kesatria Eldard masih bisa bertahan dan langsung mengeluarkan dirinya dari dalam. Hempasan saat dirinya memaksa keluar sangat kuat sehingga kesatria Eldard tak sanggup menahannya. Membuatnya terhempas kuat kebelakang begitu saja.
Momen dia terhempas pun dijadikan kesempatan bagi monster tersebut untuk membalas dendam padanya.
Kini kesatria Eldard dalam genggaman monster tersebut.
Crak!
"Monster itu membunuh kesatria Eldard dengan sekejap!?"
Salah satu penduduk yang sedang menyelamatkan diri mengetahui kematian tragis kesatria pelindung dari kejauhan.
Di sisi lain.
"Cepat pergi dari sini dan selamatkan para penduduk desa yang masih tersisa!" perintah ketua kesatria pelindung kepada salah satu anggotanya.
"Tapi bagaimana dengan anda? Para monster itu sangat kuat, kita harus bersatu untuk mengalahkannya."
"Tidak usah. Aku saja sudah cukup. Cepat pergi dari sini!"
"... baiklah, aku mengandalkan anda untuk mengalahkan para monster itu."
Dua monster mendekati ketua kesatria dengan aura membunuh yang sangat kuat. Dan langsung menyerang secara bersamaan.
Bugh!
__ADS_1
Kecepatan dua monster yang dihadapinya sangat cepat hingga mengenainya dalam tiga kali serangan.
Berbagai cara telah dilakukan ketua kesatria, tapi kedua monster yang dilawannya masih bisa bangun dan berdiri dengan tegak.
"Tidak kusangka monster ini begitu kuat, sepertinya aku terlalu meremehkan dia sebelumnya," ucapnya dalam hati.
Penyesalan datang di akhir kini ketua kesatria dalam keadaan hidup dan mati, tinggal menunggu dua monster itu bergerak dan mengakhirinya.
"Biar aku beri pilihan padamu manusia rendahan. Ingin mati terhormat sebagai kesatria atau menjadi pengikut kami, aku lihat kemampuanmu lumayan untuk sekedar dijadikan rekan."
Salah satu dari kedua monster tersebut memberikan dua pilihan dalam kondisi menyulitkan bagi ketua kesatria yang kini sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Monster ini.. telah mematahkan tangan dan kakiku..." dalam hati ketua kesatria merasakan rasa sakit yang amat sangat, namun ia tetap menahan rasa sakit tersebut dihadapan dua monster bersayap di depannya.
"Aku lebih memilih mati terhormat sebagai kesatria!"
"Keputusan yang bagus, aku ingin mendengar sekali lagi. Jika kau berani, tanggung akibatnya sendiri."
"Tentu saja aku lebih baik mati daripada menjadi pengikut monster keji seperti kalian!!" ucapnya lantang.
"Oh, baiklah. Tapi apa kau kira pilihan itu hanya membuatmu terbunuh saja!"
"He heh tentu saja kami akan membuatmu sengsara sebelum mati..."
Keringat dingin bercucuran bercampur rasa takut dirasakan oleh ketua kesatria, dia hanya bisa pasrah menunggu bala bantuan.
"Segini sajakah upaya kalian untuk melindungi diri, apa kalian memang terlahir sebagai sampah yang pantas diinjak-injak oleh kami para ras monster."
"Cih. Sudah tidak bisa berkata lagi. Matilah saja kau!"
"Aaargrh!!!"
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan ketua kesatria, tapi beberapa menit dia berteriak tanpa henti-hentinya.
Di waktu sebelumnya para kesatria pelindung mengerahkan seluruh kemampuan mereka demi menjaga sebagian penduduk desa yang masih tersisa dan selamat dari reruntuhan bangunan, para kesatria tersebut nampak kesusahan sekali melawan para monster bersayap.
"Petir penghukuman!!" ucap kesatria ber-elemen petir menggunakan kemampuannya yang digabungkan dengan sihir miliknya.
Sracsh...
Petir tersebut berwujud cambuk lalu secepat kilat menuju ke salah satu monster.
Di tempat lain.
Beberapa relawan yang bisa menggunakan sihir masih menyerang para monster bersayap hingga satu dari 2 monster yang mereka hadapi jatuh tersungkur akibat serangan tersebut.
Dikira monster yang jatuh tadi mati mereka semua bersorak bahagia sambil mendekatinya secara perlahan, tak diduga monster itu kembali bergerak dan menyerang mereka secara keji.
Banyak para kesatria dan penduduk yang tak selamat dari tragedi pembantaian kecuali dari awal mereka menyadari kedatangan monster bersayap tersebut.
__ADS_1
Sayangnya upaya mereka tidak seindah yang dibayangkan, para monster bersayap jauh lebih kuat dibandingkan dengan mereka.
Tingkatan monster di dunia ini masih belum dia catat dalam sejarah, itulah mengapa mereka tidak tahu monster seperti apa yang akan dihadapinya.
Hanya bermodalkan tekad kuat dan perkirakan terkadang ras manusia bisa menang melawan monster. Walaupun begitu di waktu-waktu tertentu mereka bisa saja kalah.
Bahkan level kesatria tertinggi pada kisaran level diri 10 harus mati konyol karena nekat ingin melawan para monster sendirian.
Hyun Wo masih berlarian bersama dengan Liliana menuju ke tempat aman atau mungkin tidak ada sama sekali. Karena ketua monster sudah memerintahkan bawahannya untuk tidak meloloskan satupun penduduk desa.
Satu monster yang melihat dua orang berlarian dari kejauhan langsung mengarahkan bola api pada mereka.
[Pemberitahuan sistem]
"Tuan, sepertinya bola api itu menuju kemari, saya harap tuan dapat menghindarinya dalam hitungan mundur saya!"
"Oke, aku mengandalkan mu."
Hyun Wo memberitahukan kepada Liliana untuk lepas dari sekitaran tempatnya setelah mendengar aba-aba.
"Ingat. Ketika aku bilang menghindar kamu harus secepat mungkin mengelak!"
"..3..2..1.. sekarang waktunya!"
"Menghindar!!!"
Dhuar...
Mereka berdua berhasil menghindari serangan bola api tersebut, karena efek ledakannya tidak terlalu besar. Sedangkan Liliana masih shock jika saja dia tidak sempat menghindar.
Liliana kembali bangkit hanya saja dia tidak mau mengikuti Hyun Wo sekarang.
"Kamu duluan aja Hyun, aku mau pergi menyelamatkan ayah dan Ibuku!"
"Tapi Lia, monster itu terlalu kuat, kamu bisa dalam bahaya jika kembali ke sana. Pokoknya kita harus pergi menjauh terlebih dahulu!"
"Maaf. Tapi aku memiliki tanggung jawab sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tua, mana mungkin aku tega meninggalkan mereka begitu saja."
"Kali ini lain, lihat. Sebagian desa sudah hancur berantakan karena ulah para monster itu."
"Hyun. Sepertinya kamu tidak tahu aku ini bisa menggunakan kekuatan supranatural! Bahkan sebelumnya aku masih bisa mengubah arah serangan bola api itu."
"Tapi kenapa kamu...?"
"Aku melakukannya demi mendapatkan perhatian darimu, jadi aku selalu berpura-pura lemah ketika berada di dekatmu, aku harap kita dapat bertemu kembali!"
Wosh...
"Tunggu Lia!"
__ADS_1