
"Aaakkhh,,kau?! kenapa tidak mengetuk pintunya lebih dulu." pekik Vivi begitu melihat suaminya yang tiba-tiba masuk membuka pintu kamar mereka.
Sebab ia baru saja mandi dan akan berpakaian, dan mengira suaminya itu akan pulang terlambat seperti biasanya.
"Salah siapa tidak mengunci pintunya, kau benar-benar ceroboh." sahutnya datar walaupun sebenarnya ia sedang menetralkan degub jantungnya itu yang tiba-tiba bertalu-talu.
Apalagi dengan susah payah ia menelan salivanya sendiri, yang terasa begitu kering di tenggorokannya.
Untung saja Vivi sudah memakai satu set ********** tadi kalau tidak? bisa berabe urusannya, tapi ia tetap merasa malu tubuhnya di lihat oleh seorang pria, walaupun kenyataannya pria itu adalah suaminya sendiri.
Ya siapa sangka sudah menikah tiga tahun lebih tapi dirinya masih gadis perawan, salahkan saja suami buaya buntungnya itu yang tidak pernah menyentuhnya? tapi ia bersyukur sampai sekarang suaminya belum meminta haknya.
Sebab kalau pernikahan mereka tiba-tiba saja selesai, dan dirinya sudah tidak bersegel lagi, otomatis yang rugi dirinya bukan suaminya itu.
David langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, begitu selesai ia langsung keluar dengan keadaan tubuh yang polos, sebab tadi di dalam tidak ada handuk sama sekali.
Ia juga mengira bahwa istrinya itu sudah keluar kamar, karena biasanya seperti itu, atau istrinya itu ada di ranjang miliknya yang ada di balik pintu rahasia.
"Astaga kenapa kau masih disini?" David langsung terkejut begitu melihat istrinya masih duduk di meja riasnya.
"Cepat pakai bajumu, kenapa kau malah berdiam diri di situ!" desis Vivi yang sedari tadi sudah menutup wajahnya dengan mengunggunakan kedua tangannya.
"Memangnya kenapa?" tanya David sengaja menggoda.
"Apa kau tidak malu, bertelanjang begitu, dasar buaya buntung!" Vivi semakin kesal saja pada tingkah suaminya itu.
" Bukankah kau istriku? kenapa harus malu? oh iya aku batu sadar, kalau selama ini aku belum pernah meminta hakku padamu bukan? jadi bersiaplah." setelah mengucapkan itu David masuk ke dalam walk in closet untuk berpakaian.
"Apa tadi dia bilang? meminta haknya? apa aku tidak salah dengar? kenapa semenjak pulang dari bali dia jadi aneh begitu." gumam Vivi pada dirinya sendiri.
Merasa aneh dengan tingkah suaminya yang tidak seperti biasanya, yang begitu cuek, dan dingin kepadanya.
Sementara David di dalam sana mendengar ucapan Vivi barusan, karena ia memang masih berdiri di dekat pintu penghubung antara kamar dan walk in closet. mudah-mudahan saja tidak masuk angin dianya.
Nando kembali mengingat kejadian di Mansion sahabatnya tadi, kini rasa dendamnya itu sudah pergi dibawa angin tornado yang dalam sekejap saja hilang tak bersisa, membuat hatinya kembali tenang, apalagi persahabatan mereka kembali lagi seperti dulu.
Seolah mata David pun terbuka ketika ia melihat putranya sudah tumbuh besar, begitu pintar ternyata sahabatnya itu, sangat memperhatikan tumbuh kembang putranya, walau yang sebenarnya Ken bukanlah putra kandung Bryan.
__ADS_1
Tapi ia bisa melihat Bryan begitu sangat mencintai Ken, begitu pun sebaliknya Ken juga begitu mencintai Bryan, mungkin karena dari lahir hanya sosok Ayahnya-lah yang menemaninya membuatnya begitu.
Sementara dia Ayah biologisnya tidak tahu apa-apa, biar bagaimana pun Bryan andilnya jauh lebih besar di bandingkan dirinya yang tidak pernah ada di samping putranya yang sedari awal Ken lahir ke dunia sampai dengan sekarang sudah sebesar ini.
Bryan yang membesarkan putranya seorang diri, tanpa istri di sampingnya hanya bantuan dari Mama dan pengasuhnya saja, dia tidak pernah mengeluh apapun bahkan dia masih harus menjalankan bisnisnya juga.
Kalau harus egois David bisa saja memperjuangkan hak asuh Ken jatuh di tangannya, apalagi sekarang ia adalah Ayah biologis dari Ken, bukankah hak asuh itu akan jatuh ke tangan orangtua kandungnya.
Tapi ia tidak mau melakukan itu semua, itu hanya akan membuat putranya Kenzie nanti akan membenci dirinya, mengingat Bryan-lah yang selama ini menjaganya, merawatnya dari bayi, ia sungguh malu jika sampai ia melakukan hal tersebut.
David tidak mau itu terjadi, biarlah seperti ini, mungkin dengan ini ia masih bisa dekat dengan putranya, mungkin sedikit menunggu waktu dimana Ken akan memanggilnya dengan sebutan Daddy, ya dia akan bersabar menunggu waktu itu tiba.
Dulu ia juga bisa bersabar memendam perasaan cintanya begitu lama dan menunggu untuk bisa mendapatkan wanita itu, walaupun dengan cara yang tidak baik pada ending nya, tapi ia tidak menyesali perbuatannya bahkan sampai membuahkan seorang putra dari hasil hubungan tersebut.
Sekarang pun ia masih sanggup untuk bersabar sedikit lagi, demi buah hatinya, walaupun menunggu itu melelahkan, tapi ia pasti bisa sekali lagi.
Sungguh itu adalah moment yang paling ia tunggu selama ini, dan mungkin juga ia mulai sedikit demi sedikit untuk embuka hatinya untuk istrinya itu, wanita yang selama tiga tahun lebih bersamanya tidak ia anggap sebagai istrinya sendiri.
Tapi tiba-tiba ingatannya kembali beberapa minggu yang lalu saat ia bertabrakan dengan seorang wanita yang wajahnya begitu sangat familiar di ingatannya.
Siapa wanita itu sebenarnya? kenapa wajahnya begitu mirip dengan wajah seseorang yang sangat dekat denganku.
Sementara di sebuah Mansion Bryan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya." Kau sungguh sudah tidak apa-apa? jangan di paksakan." seru Ariell saat suaminya itu sudah duduk di kursi kerjanya.
"Iya aku sudah tidak apa-apa Bee, aku harus mengecek beberapa laporan minggu lalu." jawabnya sambil membuka gadget lipatnya yang berada di atas meja kerjanya.
"Ya sudah, aku buatkan kopi kesukaanmu ya,." ujarnya sambil keluar menuju dapur.
Tak lama Ariell kembali masuk kedalam dan meletakkan segelas kopi dan biskuit di atas meja untuk teman suaminya bekerja.
"Terima kasih sayang, sini?" panggil Bryan sambil menepuk kedua pahanya itu untuk meminta istrinya duduk di atas pangkuannya.
"Katanya mau kerja, tapi malah godain istrinya." gerutu Arielk tapi tetap menuruti keinginan suaminya itu.
Bryan langsung merangkul pinggang ramping itu lalu menempelkan kepalanya juga pada aset kembar milik istrinya.
Ariell yang sudah tahu ada maksud tersembunyi dari perilaku suami mesumnya ini, ia pun mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
__ADS_1
"Mau bekerja atau mau mesumin istrimu Mr, Djandra?" sindir Ariell sambil tersenyum.
"Aku belum mencium ini sedari aku bangun tidur." ibu jarinya sudah mengusap bibir mungil yang berwarna pink itu.
Tak lama Bryan langsung saja menyambar bibir istrinya, yang seolah-olah adalah makannan lezat yang memintanya untuk segera mencicipinya.
Tangan satunya menahan tengkuk Ariell untuk memperdalam ciuman mereka, semakin dalam semakin menuntut.
Tangan satunya lagi menyingkap dress yang di pakai oleh Ariell, lalu mengusap lembut dari paha sampai ke permukaan segitiga pengaman yang di pakai istrinya itu.
"Bee, kau sudah sangat basah,." lirih Bryan menyeringai saat ciuman itu terlepas, lalu memasukkan tangannya ke dalam celah itu, bermain-main di bawah sana, membuat Ariell mengeluarkan suara sexynya.
"Aahhh, aku ingin melakukannya disini." pinta Ariell yang sudah tidak tahan lagi atas penyerangan yang dilakukan tangan nakal suaminya itu.
"Kau tidak mengunci pintunya lebih dulu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..