Mantanku Hot Daddy

Mantanku Hot Daddy
Chapter 34


__ADS_3

Malam ini di ruang tamu terdengar suara celoteh dari Ken yang sedang bersenda gurau dengan Auntynya.


"Aunty sudah ampun Ken geli, nanti Ken ngompol gimana?." pinta Ken yang sudah terasa lemas tubuhnya.


"Ken sudah menyerah belum, kalau belum Aunty akan terus mengelitikmu." elak Bonita tangannya yang masih bereaksi mengelitiki telapak kaki Ken.


Bryan menengok sekilas pada keduanya lalu melanjutkan langkahnya menuju meja makan, " Ken ayo makan malam dulu.!" seru Bryan untuk menyudahi permainan mereka.


Bonita paham betul itu, lontaran Bryan secara tidak langsung itu memang untuknya. tapi Bonita tidak mempermasalahnya tidak ingin berdebat.


Kini mereka semua sudah berkumpul di meja makan, Bryan menatap Bonita yang mengambilkan makanan untuk Ken dengan sangat telaten.


Apa kelebihan wanita ini hingga Mama menyuruhku menikahinya, memang terlihat dia begitu menyayangi Ken, tapi kenapa harus dengan mantan adik ipar ku sendiri.Bryan membatin sambil menelisik Bonita yang duduk di hadapannya.


Memang keduanya sudah lama tidak bertemu semenjak Bonita memutuskan untuk kuliah di London dulu dan fokus bekerja di luar kota, mungkin dulu sewaktu masih kecil saja mereka bermain bersama.


"Eheemm" suara deheman dari Mama Lidya membuyarkan lamunan Bryan seketika. membuat semuanya menoleh ke arah Mama Lidya.


Kecuali Bryan yang mulai fokus kembali dan menyantap makanan yang tersisa tinggal sedikit."Jadi bagaimana keputusan kalian berdua.?" tanya Mama Lidya setelah mereka semua menyelesaikan makannya.


"Nanti Bryan akan bicara empat mata dengannya dulu Ma, tolong Mama jangan mengambil keputusan sendiri.!" seru Bryan menatap Mama Lidya dengan memohon.


"Baiklah Mama tidak akan mengganggu kalian. tapi Mama minta sama kamu Bryan jangan terlalu kasar sama Bonita." setelah memberi peringatan pada putranya Mama Lidya mengajak Ken masuk ke dalam kamar putranya.


"Maaf Bonee aku tahu kita sama sama tidak menginginkan perjodohan ini, lalu kamu maunya kita bagaimana.?" tanya Bryan datar menatap tajam pada Bonita.


Membuat Bonita sedikit takut di tatap seperti itu." A-aku memang tidak ingin menikah denganmu Kak, tapi aku tidak bisa menolak permintaan dari Tante Lidya. kamu tahu sendiri gimana Tante." jawab Bonita semakin waspada.


Kini mereka berpindah tempat, duduk bersebrangan di teras balkon Apartement.


"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan sesuatu padamu..?" ujar Bryan menatap bintang di langit yang gelap.

__ADS_1


Bonee masih diam sambil menunggu perkataan Bryan selanjutnya, sedangkan Bryan nampak bergeming. "Tanyakan saja.!" seru Bonee tidak sabar.


"Sejak kapan kau mengenal Ariell?" sudah dari kemarin kemarin Bryan sebenarnya Bryan ingin bertanya padanya.


"Tunggu, maksudnya Ariella Devika, Kak Bryan juga mengenalnya.?" Bonee malah balik bertanya.


"Ck, aku bertanya kenapa kau malah balik bertanya.!" Bryan sedikit kesal dengan Bonee.


"Sorry, sorry. aku sudah mengenalnya lumayan lama, kebetulan aja dulu dia nolongin aku terus kami memutuskan berteman, berlanjut sampai sekarang." Bryan mengernyitkan dahinya.


"Maksdnya dia nolongin kamu dari apa.?" Bryan sedikit penasaran.


"Jadi enam tahun yang lalu aku lagi liburan di jogja, pas baru turun dari kereta aku di copet semua isi tasku lenyap hanya koper kecil yang tersisa, aku bingung tidak ada yang aku kenal di kota itu, aku duduk menangis di sudut stasiun. aku hanya ingin merasakan naik kereta itu bagaimana, sungguh aku menyesal tidak naik pesawat saja, tapi tak lama ada seorang wanita mendekatiku, dia menenangkanku, kami berkenalan, lalu dia mengajakku untuk pulang ketempat tinggalnya. Ariella Devika dia wanita baik merawatku, aku hampir seminggu berada di rumahnya Ayah dan Ibunya juga baik padaku. hingga aku memberanikan diri mengabari Kak Fay, aku terlalu takut Papi marah padaku." Bryan sedikit Iba mendengar cerita Bonita.


Bryan jadi teringat sesuatu saat Ariell menceritakan bahwa dia habis menolong seorang wanita di stasiun waktu itu, rupanya adalah Bonita.


Ariell-nya memang wanita yang sangat baik kepada siapa saja." Dia memang wanita yang sangat baik, tak heran jika kamu di tolong olehnya." puji Bryan membuat Bonee semakin bertanya tanya kenapa seorang Bryan juga mengenalnya.


...----------------...


Di sisi lain wanita yang jadi gibahan mereka berdua tengah duduk berdua dengan tunangannya.


"Hari ini langit begitu cerah yaa, begitu banyak bintang bertaburan di sana.!" seru Ariell sambil memandangi ke atas.


"Iyaa sama secerah hatiku juga, begitu banyak bertaburan senyuman manismu.!" goda Nando sambil tersenyum jahil.


"Idih apaan sih gombal udah basi." pipi Ariell sedikit merona, membuat Nando semakin tertawa geli.


"Kok gombal sih, aku serius lho senyumanmu memang manis, aku hanya sedikit takut bila itu berlangsung lama." senang rasanya Nando ingin terus menggoda kekasihnya itu.


"Maksudnya apa, takut kenapa memangnya?" tanya Ariell yang belum ngeh.

__ADS_1


"Takut aku kena diabetes, kalau terlalu lama dekat sama kamu, kalau perlu buatin minuman aku jangan di kasih gula." gombal rayuan Nando pun membuat keduanya tertawa renyah.


"Kamu ih nyebelin." Ariell memukul pundak Nando membuat Nando semakin tertawa terbahak.


"Udah malam aja nih, aku balik dulu yaa sayang, kamu tidak lupa ngasih sesuatu gitu sama aku.?" tanya Nando sambil tersenyum genit ala pria.


"Apaan sih, aku tidak menyiapkan apa apa untukmu." Ariell semakin bingung.


"Ada kamu lupain sesuatu," Cup tiba tiba Nando mencium pipi putih Ariell, membuat pipi itu berubah warna seketika.


"Ih, Nando Omes.!" Ariell memukul punggung Nando sebelum pria itu pergi berlari keluar rumah.


"Bye, sayang aku pulang dulu." Nando sudah masuk ke dalam mobilnya, Ariell hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangan Nando tak lama mobil itu pun menghilang. dan Ariell kembali masuk ke dalam rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.tbc


Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..


__ADS_2