Mantanku Hot Daddy

Mantanku Hot Daddy
Chapter 121


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore saat Nando dan Val baru saja pulang dari rumah sakit sebab Val pun juga tengah mengandung, usianya kandungannya sudah memasuki empat bulan saat ini.


Nando semakin posesif sekali, selalu menjadi suami yang siaga untuk istrinya, apalagi ia sudah membuka beberapa Restoran masakan indo di negara istrinya sana.


Sementara Val sendiri setelah resign dari dunia modeling nya ia hanya di rumah saja dan ditemani oleh sang suami walau kadang pergi seminggu sekali hanya untuk mengecek laporan mingguan Restoran-restorannya miliknya itu.


Mereka memang tinggal di rumah Papa Mamanya, sebab Mama Wilona yang menyuruh mereka untuk tetap tinggal di rumah mereka saja, karena keduanya tidak mau kesepian.


" Hon, kita besok jadi kerumah Richard?" tanya Nando sambil terus fokus menyetir dan sesekali melirik istri cantiknya itu.


" Iya, Zoey menyuruhku untuk menemaninya sebab Kak Richard akan pergi ke suatu tempat." mobil pun melaju menuju kediaman Richard.


...----------------...


Di tempat berbeda pasangan suami istri malah sedang asyik bergumul, hingga peluh membasahi keduanya, saling mencari kenikmatan masing-masing.


" Uuchhh.." lenguhan panjang mengakhiri pergulatan panas mereka.


Permaianan mereka masih sama panas seperti sebelumnya, hanya saja sedikit pelan sebab di perut sang istri ada calon baby yang harus mereka perhatikan.


Bryan membantu istrinya itu untuk turun dari atas tubuhnya dengan dangat hati-hati, sebab Ariell yang memimpin permainan mereka.


" Bee terima kasih, kau selalu membuatku merasa puas, tubuhmu ini selalu menjadi candu buatku." serunya sambil memeluk tubuh Ariell dari belakang.


" Sama-sama tidurlah, besok pagi bukankah kau akan terbang ke pulau dewata," jawabnya sambil mengusap jemari kekar suaminya tersebut.


" Hmm tapi kau semakin terlihat sexy sayang, baiklah cepat kita tidur." sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, tak lama sepasang suami itu pun sudah menjelajahi mimpi indah.


Pagi-pagi sekali Ariell sudah sibuk berkutat di dapur untuk membuat sarapan, sebelum suami dan putranya itu bangun.


Semenjak usia kandungannya lima bulan, Bryan meminta para pelayan untuk memindahkan sebagian pakaian dan barang pribadi mereka ke kamar bawah, begitupun dengan Ken yang pindah di kamar depannya.


Bryan hanya tak ingin istrinya itu kelelahan harus naik turun tangga, walaupun terdapat lift juga di Mansion tersebut, tetap Bryan tidak mengijinkan Ariell menggunakannya.


Jangankan menaiki lift mengambil air minum saja yang berada di atas nakas saja tidak boleh ia sudah menggerutu panjang lebar, apalagi yang lain. entah dimana sifat dinginnya yang dulu itu, membuatnya menjadi sedikit cerewet sekarang.


Ariell hanya membuat beberapa sandwich dan coklat hangat untuk sarapan mereka, saat sudah selesai Ariell berjalan kembali ke kamar.


Yang ternyata suami itu sudah berada di dalam kamar mandi, ia pun keluar lagi dan berjalan ke arah kamar Ken dan berpapasan dengan satu maid.

__ADS_1


" Ken belum bangun mba?" mba nya itu hanya menggeleng sambil membuka pintu kamar Ken.


" Sayang ayo bangun, Ken sudah pagi nanti kau terlambar sekolah." bisiknya sedikit keras agar Ken cepat bangun.


Ken langsung mengeliat malas, kemudian mulai mengerjapkan kedua netranya, " Morning, Mom, " sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.


" Morning Son, ayo cepat bangun, kau tidak ingin terlambat ke sekolah bukan?"


Ken mangangguk dengan sedikit malas ia beringsut dari ranjang dan berjalan dengan gontai ke arah kamar mandi di ikuti mba di belakangnya.


Ariell kembali ke kamarnya dan melihat suaminya itu sudah memakai kemeja yang ia siapkan tadi sebelum keluar ke kamar Ken.


" Bee, kau sudah memasukkan pakaianku bukan? sebenarnya aku tidak ingin pergi, entah kenapa aku takut kau melahirkan saat aku disana." lirihnya sambil melingkarkan kedua tangannya ke pinggang yang sudah tidak ramping itu, sambil mengelus perut besar Ariell dari belakang.


" Aku tidak apa-apa, bulankah dokter bilang seminggu lagi aku akan melahirkannya, dan kau juga hanya dua hari disana sayang, jangan khawatir ada bibi dan mba-mba disini." balasnya agar suami sedikit tenang.


" Aku harap dia akan menunggu Daddy nya pulang, aku ingin menemanimu saat dia lahir." sambil mengusap dan mencium perut buncit istrinya itu.


" Tentu saja Daddy, princess akan menunggu Daddy." jawab Ariell dengan menirukan suara anak kecil membuat keduanya tersenyum, sudah tidak sabar menunggu kelahiran princess mereka.


Ariell tersenyum senang, suaminya itu sangat perhatian dan selalu siaga saat ia sedikit mengeluh.


Walaupun sedikit nyleneh, seperti waktu itu Ariell meminta suaminya itu duduk diam di sofa kecil riasnya dan ia tersenyum senang melukis wajah Bryan, menjadikannya pria yang sangat cantik.


Mendadaninya ala princess, memakaikannya lipstik pink , memakaikannya wig rambut berwarna pirang, lalu memakaikannya dress panjang, yang terlihat seperti princess sungguhan, tapi tidak dengan high heel miliknya tidak akan cukup di pakai oleh kaki besar suaminya itu.


Membuat Ariell tertawa ngakak saat melihat hasil karyanya itu, tapi bagi Bryan itu tidak masalah di dandanin seperti apapun, asal istrinya itu selalu tersenyum, beruntung hanya satu kali saja di dandani seperti itu, kalau tiap hari bisa-bisa wajahnya seperti perempuan karena terlalu sering memakai kosmetik.


" Hallo Bu, apa Ibu bisa menginap di Mansion kami, Bryan akan terbang sebentar lagi, dan aku tidak ingin meninggalkan Ariell sendirian dirumah, sebab Mama lagi pergi ke Jogja Bu. " ujarnya saat sambungan telepon itu tersambung.


" Sampai kapan nak kau disana?" tanya Ibu Ayu di seberang sana.


" Hanya dua hari Bu, kalau bisa nanti aku akan mempercepat pekerjaan disana, dan besok Bryan akan segera kembali." ujarnya kembali.


" Baiklah, Ibu akan segera kesana."


" Terima kasih Bu, maaf merepotkan Ibu kali ini, Bryan_


" Tidak apa, tidak perlu merasa tidak enak begitu sama Ibu, kau 'kan juga putra Ibu, baiklah Ibu akan bersiap-siap sekarang." potong cepat Ibu Ayu.

__ADS_1


Bryan pun menutup telepon setelah mendengar jawaban dari Ibu mertuanya itu dengan perasaan lega, sebab istrinya tidak akan sendirian di rumah.


Usia kandungan Ariell sudah memasuki sembilan bulan dan Bryan harus terbang ke perusahaannya yang ada di pulau dewata sana.


Sebab ada sedikit masalah disana, terkait hubungan kerjasamanya dengan beberapa perusahaan travel agent yang berada di luar negeri sana.


Sebenarnya ia tidak ingin pergi mengingat kehamilan istrinya tinggal menunggu detik-detik melahirkan, apalagi ini adalah kehamilan pertama istrinya juga untuknya yang pertama kalinya menjadi ayah dari anak kandungnya darah dagingnya sendiri.


Namun ia memang harus pergi, sebab kali ini tidak bisa di wakilkan oleh asistennya Felix seperti biasanya.


Dan tentu saja sebenarnya Ariell tidak masalah jika harus di rumah sendiri toh banyak mba dan Bibi yang menemani, ia justru sedikit senang jika tak ada yang mengawasinya.


Dan Bryan jelas tidak akan membiarkan hal itu terjadi, harus ada seseorang yang menjaganya harus orang yang ia percaya, keluarga terdekat mereka.


" Siapa yang kau telepon untuk menjagaku?" tanya Ariell.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..


__ADS_2