Mantanku Hot Daddy

Mantanku Hot Daddy
Chapter 122


__ADS_3

" Siapa yang kau telepon untuk menjagaku?" tanya Ariell berjalan keluar dari arah dapur sambil membawa mangkok berisi buah segar yang baru saja ia kupas sendiri.


Bryan tersenyum memdengar nada penuh kekesalan yang di ucapkan oleh istrinya itu, ia pun beranjak dari sofa dan melihat Ariell baru masuk dan berdiri dengan perut besarnya.


Sudahkah Bryan bilang bahwa ia sangat menyukai bagaimana Ariell terlihat saat ini? dulu ia sudah melihat Fay hamil, melihat kakak iparnya Belinda juga.


Akan tetapi tidak ada yang terlihat semenawan istrinya saat ini, berat badan Ariell memang naik beberapa kilo dan wanita itu agak berat dari biasanya, tetapi itu tidak membuat Ariell terlihat gemuk.


Ariell justru terlihat semakin sexy dan jauh lebih cantik berkali-kali lipat bahkan bisa menaikkah gairah pada dirinya walau hanya melihat istrinya saja.


" Kenapa kau mengupas buahnya sendiri." Bryan langsung menggerutu pada istrinya saat melihat mangkok kecil yang berada di pegangan itu.


Membuat Ariell hanya memutar bola netranya malas, mandapati sikap berlebihan dari suami mesumnya itu.


" Ini hanya buah, kau ini jangan berlebihan. bibi juga lagi sibuk di belakang, mbanya lagi nganterin Ken satunya lagi sedang membersihkan kamar Ken." jawab Ariell sambil mengkerucutkan bibirnya.


Tapi itu malah membuat Bryan gemas, ia menarik istrinya dan mendudukkannya di bibir ranjang tak lupa meraih mangkok kecil itu dan meletakkannya di atas nakas.


" Jangan di manyunkan begitu bibirnya, membuat si djordy bangun lihat." tunjuknya ke arah celana panjang yang ia pakai sudah menggembung pas inti tubuhnya pada Ariell.


Ariell langsung memukulnya pelan, membuat Bryan sedikit mengaduh merasakan sedikit ngilu di ujung kepalanya." Kau mesum sekali."


" Aduh Bee, kenapa di pukul!! kau membuat kepalaku sakit." protesnya sambil mengelus barang pusakanya itu.


" Mana yang sakit?" Ariell meringis seolah merasakan ngilu juga.


" Bukan itu tapi kepalaku yang di bawah." ucapnya sambil tetsenyum menyeringai.


" Iish, dasar nyebelin, sudah sana nanti terlambat." Ariell sudah akan beranjak tapi tubuhnya di tahan oleh Bryan.


" Sebentar saja, toch pesawatku masih pukul sembilan nanti, berikan aku ciuman dulu, sebelum pergi." pintanya yang sudah mendekatkan wajahnya itu.


" Iish gak, sudah sana, siapa tahu Felix sudah datang." elaknya mencoba menghindar, tapi suaminya ini ternyata lebih pintar.


Bryan sudah lebih dulu menahan tengkuknya dan langsung menstempel kedua bibir itu, kalau sudah begini, Ariell hanya bisa pasrah dan mengimbangi ciuman dari suaminya itu.


Bryan memang*t, menyecap rasa bibir yang selalu membuatnya ketagihan. ciumannya selalu panas dan membuatnya bibir Ariell seketika bengkak.


Bryan melepas ciumannya masih menahan tengkuknya, " Ibu akan datang sebentar lagi, aku pasti akan merindukan bibir manismu ini Bee." lirihnya terlihat sudah menahan di bawah.


Ariell terlihat cemberut mendengarnya , " Kasihan Ibu, aku sudah bilang aku tidak apa-apa, lagipula hanya dua saja 'kan?! aku tidak akan melahirkan besok." keluhnya pada sang suami.

__ADS_1


Dokter memang berkata demikian, bahwa istrinya akan melahirkan sekitar semingguan lagi, namun Bryan sangat tahu jika kadang terjadi hal di luar prediksi, dan ia tidak mau mengambil resiko, apa salahnya ini juga untuk berjaga-jaga, agar ia lebih tenang untuk meninggalkan istrinya di rumah dengan Ibu mertuanya.


Melihat bibir itu kembali manyun Bryan dengan terpaksa harus melepaskan diri dari tubuh istrinya, kalau tidak sudah pasti istrinya itu akan di makannya sekarang juga.


...Ia bangkit dan berjalan untuk mengambil sebuah h**oodie berwarna hitam lalu memakainya." Aku tahu tetapi akan lebih aman jika kau di rumah dengan Ibu."...


Ariell mendesah pelan, baiklah mungkin ini karena suaminya tidak tenang meninggalkannya sendiri di rumah.


Ariell mendekat lalu menarik tali hoodie itu dan mencium bibir suaminya dengan lembut." Aku sangat mencintaimu Daddy." bisiknya saat ciumannya terlepas.


Tarikan napas Bryan terasa sangat berat saat bibir mereka terlepas, ia menatap dalam manik hitam milik istrinya itu.


" Aku sungguh-sungguh tidak ingin pergi, aku takut kau bisa saja tiba-tiba melahirkan, kau tahu 'kan aku ingin berada di sampingmu saat itu terjadi." lirih suara Bryan sambil mengusap lembut sisi wajah cantik itu.


Ariell langsung menangkap tangan kekar suaminya mendekatkan pada bibirnya kemudian mengecupnya sekilas.


" Kami akan menunggumu pulang Daddy,"


" Kau janji?"


Ariell mengangguk, " Kami akan baik-baik saja selama kau pergi."


Bryan langsung memeluk tubuh Ariell lalu dengan berat ia melepaskannya dan menarik koper kecil yang sudah di siapkan oleh istrinya kemarin sore.


Felix langsung bangkit dan berjalan mengambil alih koper milik bosnya itu, kemudian berjalan lebih dulu ke mobil.


Sementara Bryan berhenti sejenak di depan istrinya, " Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." Ariell mengangguk sambil tersenyum tipis.


Bryan mengecup keningnya sedikit lama dan juga bibir mungil itu, " Eh Ibu kapan datangnya?."


Ariell langsung mengintrupsi begitu melihat Ibunya yang sudah berdiri tak jauh dari mereka, membuat Bryan seketika melepaskan tangannya yang tadi melingkar di pinggang istrinya dengan cepat.


Membuat Ariell dan Ibu Ayu terkekeh geli, " Baru saja Ibu sampai, nak Bryan tidak perlu khawatir ada Ibu yang menjaga istri cantikmu ini." ucapnya sambil menerima uluran tangan dari menantunya itu.


Bryan mencium punggung tangan Ibu mertuanya sekilas," Terima kasih Bu, Bryan titip istri dan juga putra Bryan pada Ibu." pintanya sebelum pergi.


...----------------...


Bryan baru saja mendarat di pulau itu bersama dengan asistrennya Felix, dan mereka tengah berada di dakam mobil menuju perusahaannya.


" Felix pukul berapa nanti Mr.Jhon akan datang?" tanyanya sambil mengirim pesan pada istrinya.

__ADS_1


" Sekitar pukul satu siang nanti tuan, lalu sore nanti Mr. Ramon meminta kita untuk datang ke Restoran yang sudah beliau reservasi sebelumnya." jawabnya sedikit menoleh ke bangku belakang.


" Biaklah kau atur saja, bagaimana dengan kekasihmu disini?" tanyanya kembali.


Felix sedikit terkejut bosnya tiba-tiba menanyakan tentang kekasihnya itu." Clara baik-baik saja tuan." cicitnya.


" Kapan kau menikahinya? jangan kau hanya jadikan dia penghangat ranjangmu saja, wanita menginginkan status Dude." nasehatnya.


Felix merasa sedikit tidak enak terhadap bosnya, walaupun keduanya berbeda agama tapi bosnya ini tidak membedakan perbedaan mereka tapi yang di katakan bosnya itu memang benar adanya.


Clara yang selalu menginginkan sebuah pernikahan, tapi ia masih belum bisa mewujudkan permintaan itu.


Sementara pekerjaanya masih banyak, apalagi istri bosnya sebentar lagi akan melahirkan dan otomatis bosnya pun akan cuti juga, akan sering berada di rumah bukan?


" Kau tidak perlu memikirkan tanggung jawabmu di perushaanku, ada Frank yang akan membantuku mengurusnya, seperti yang sudah kubilang sebelumnya kau akan memegang perusahaanku di sini, dan cepatlah kalian menikah, aku yang akan menanggung semua biayanya." serunya kembali di saat Felix masih terdiam.


Seolah bisa membaca pikiran Felix yang tepat sasaran, " Terima kasih banyak tuan, atas kebaikan yang selama ini anda berikan kepada saya." ucapnya bersungguh-sungguh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..


__ADS_2