Mantanku Hot Daddy

Mantanku Hot Daddy
Chapter 108


__ADS_3

"Kau tidak mengunci pintunya lebih dulu." usul Bryan bahkan ia langsung tersenyum lebar mendengar istrinya itu memintanya lebih dulu.


Karena setelah mereka menikah Bryan-lah yang selalu memintanya duluan.


"Sebentar." ucap Ariell sambil beranjak dan berjalan ke arah pintu untuk menguncinya, takut nanti Mama mertua atau putranya tiba-tiba masuk.


Bryan bangkit begitu melihat istrinya kembali setelah mengunci pintu, "Kau mau dimana di sofa atau di sini?" tanya Bryan.


Ia mengangkat tubuh Ariell ke atas meja lalu mencium mesra istrinya, dengan tangannya menahan tengkuk Ariell untuk memperdalam ciuman itu.


Tangan satunya membelai wajah Ariell lalu turun ke leher, hingga berada di atas bukit kembar itu.


Ariell merintih dalam ciumannya saat jemari nakal suaminya itu membelai puncaknya yang menegang.


" Kau tidak memakai br*?" tanya Bryan sambil melepas ciumannya.


Ariell meringis sambil menggeleng lemah, " Ini sudah malam kupikhir kita akan langsung tidur tadi."


"Yah aku sangat setuju kau tidak memakainya saat tidur."


Bryan melepas baju atasan yang di pakai istrinya sementara tubuhnya sedikit menunduk hingga sejajar dengan bukit kembar yang bulat sempurna itu.


"Punyamu sangat indah sayang." pujinya lalu mendekatkan bibirnya dan meng*lum puncak yang menegang itu, hingga Ariell menjerit lirih.


Oh Tuhan, ini terasa begitu nikmat. bibir Bryan terus mencec*p, menj**at, dan membelai gunfmdukan itu senentara istrinya menggelinjang penuh kenikmatan.


Tangan Bryan turun ke perut Ariell, jemarinya membelai lembut, lalu semakin turun menangkup milik istrinya di balik celana piyamanya itu.


Lalu tangannya ia masukkan lewat celah dan mengusap-usap kain segitiga tipis yang di pakai istrinya, membuat Ariell mendes*h tertahan.


" Keluarkan sayang." bisik Bryan dengan suara seraknya, saat satu jarinya berhasil masuk ke liat yang hangat itu.


Jari telunjuknya ia tusuk-tusukan membuat Ariell semakin gelisah. "Kau sudah basah sayang." desah Bryan.


"Sayang." desah Ariell semakin gelisah.


"Yah, katakan yang kau inginkan.!" bisik Bryan lembut.


Ariell tersenyum sambil membelai rambut tebal suaminya itu, "Aku menginginkanmu sekarang, masuki aku." bisiknya pelan.


"Tentu saja sayang." tangannya sudah menarik celana yang masih menempel itu sambil terus memandang wajah istrinya dengan pandangan sudah erkabut.


Setelah tubuh istrinya itu sudah polos, Bryan memandang takjub, sungguh pemandangan yang sangat luar biasa.


Ariell sudah tidak sabar ia turun dari atas meja dan mendorong sedikit kasar tubuh suaminya itu hingga menabrak sandaran kursi.


Membuat Bryan terkekeh paham lalu ia membuka sendiri celana pendek yang ia pakai sampai jatuh teronggok di lantai," Kau begitu agresif malam ini sayang."


Tanpa menjawab perkataan suaminya, Ariell langsung duduk di atas pangkuan Bryan, sambil di bantu suaminya untuk memasukkan si djordy kedalam sangkarnya.

__ADS_1


"Aahhh," jeritnya bersamaan. Ariell pun perlahan menggerakkan tubuhnya naik turun, sambil mencium bibir suaminya.


"Aaah, kau semakin membuatku gila sayang," racau Bryan di sela ciuman mereka.


Ariell masih terus bergoyang rasanya sungguh luar saat sedang di puaskan oleh istrinya seperti ini.


"Bryan, aku sudah dekat." desah Ariell semakin mempercepat goyangannya itu.


Tak lama Ariell mencapai puncaknya, setelah menunggu beberapa menit membiarkan Ariell untuk menikmati rasa kenikmatannya itu.


Bryan menggendong tubuh istrinya dan menjatuhkan tubuh mereka ke sofa panjang dengan pelan, sebab milik mereka masih menyatu.


"Sekarang giliranku sayang," bibir Bryan mencari bibir istrinya mereka pun kembali berciuman dengan Bryan terus bergerak memompanya secara perlahan.


Bryan tidak ingin terburu-buru, meskipun sofa ini tidak terlalu lebar dan mereka tidak bisa bergerak dengan leluasa tapi penyatuan ini terasa begitu int*m.


Bryan mengakhiri ciumannya hanya untuk beralih menciumi leher Ariell dan terus turun ke puncak yang sudah kembali tegang.


Ciuman Bryan semakin mengirimkan gelenyar kenikmatan ke setiap inti sel di tubuhnya dan berdenyut nyeri di area intinya.


Milik Bryan yang besar dan kuat menenuhi milik Ariell, menambah dahsyatnya ledakan yang akan Ariell rasakan ketika gelombang itu datang lagi, dan semakin dekat.


Bryan menekan pinggul Ariell semakin kuat, dan Ariell tahu bahwa suaminya itu pun juga akan meledak sebentar lagi.


Geraman tak terkendali terlontarkan dari tenggorokan Bryan, sementara Ariell terus mengimbangi gerakan suaminya itu untuk mencari kenikmatannya sendiri.


"Bryan." teriak Ariell begitu ia mencapai puncaknya untuk kedua kalinya.


Bryan mendorong semakin kuat dan detik berikutnya pria itu berteriak menggema di seluruh ruangan kerjanya.


Menabrak pinggul Ariell dengan kuat dalam beberapa kali hentakan di sertai semburan benih kecebong ke dalam rahim istrinya yang hangat.


Ariell masih dalam gelombang kenikmatannya, sambil memejam ketika Bryan melepaskan djordy dengan hati-hati. ia meringis nyeri dan mendes*h kehilangan saat akhirnya milik Bryan tidak lagi berada di dalam miliknya.


"Kita harus berpakaian dan naik ke kamar ini sudah sangat larut."


"Haruskah?" jawab Ariell setengah mengantuk, akibat kelelahan seusai olah raga malam denfan suaminya.


Bryan hanya terkekeh sambil memakai pakaiannya kembali," Ayo aku bantu memakainya".


Setelah istrinya sudah berpakaian kembali, Bryan pun menggendong istrinya seperti koala dan naik ke lantai atas dengan menggunakan lift saja.


...----------------...


Sementara di tempat lain, dua insan berlain jenis tidur secara terpisah di ranjang yang berbeda, sama-sama belum bisa memejamkan netranya, ini sudah hampir tiga tahun lebih mereka menjalaninya.


David menatap langit-langit kamarnya, ia tengah memikhirkan pernikahannya saat ini, akan di bawa kemana kalau seperti ini terus.


Di sini memang ia yang bersalah, sebab tidak menginginkan pernikahan ini sedari awal, padahal di awal pernikahan mereka sang istri sudah berusaha menjadi istri yang baik untuknya.

__ADS_1


Tidak, ia sudah meyakinkan dirinya untuk membuka hatinya untuk istrinya itu, mereka harus bicara.


Ia pun beringsut dari atas ranjang dan berjalan untuk membuka pintu rahasia dimana istrinya itu berada.


Terilhat Vivi yang sudah terpejam, tapi a tadi sempat menangkap gerakan kecil, ia pun hanya memastikan.


Sedangkan Vivi yang mendengar pintunya di buka ia spontan langsung memejamkan kedua netranya, pura-pura sudah tertidur.


David perlahan mendekat dan duduk di bibir ranjang, " Vi, kau sudah tidur?" tak ada jawaban.


Vivi merasa begitu gugup sampai ia beberapa kali menahan nafasnya, tapi ia memasang indra pendengarannya baik-baik.


Tangan David terulur untuk mengusap surai hitam milik istrinya, sambil memandang wajah istrinya yang sangat cantik, begitu cantik jika di bandingkan dengan wanita yang telah melahirkan putranya.


"Vi, maafin aku, kalau selama ini aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku di saat kita hanya berdua saja, tetapi sekarang aku akan mencoba untuk menjalani pernikahan kita, seperti pasangan suami istri lainnya di luar sana." seru David begitu pelan tapi masih terdengar di telinga Vivi.


Deg...


Apa barusan yang di katakannya? apa aku tidak salah dengar?..


.Ini Visualnya Vivian Luxio.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..

__ADS_1


__ADS_2