
Beberapa bulan berlalu..
Saat ini Bryan sudah terbang ke Ibukota seorang diri dwngan menggunakan heli pribadi milik mendiang sang Papa setelah mendapatkan sebuah bukti yang cukup kuat, ia sangat geram sebab sudah tidak tahan lagi untuk mendatangi seseorang yang sudah membuat keluarganya hancur selama ini. Bahkan hari masih gelap di luar sana tetapi ia tidak peduli, ia ingin segera sampai dan memberi pelajaran pada orang tersebut.
Begitu sampai Heli mendarat di lapangan yang luas, dan pria tiga anak itu pun langsung bergegas menuju Mansion kediaman seseorang yang sangat ia kenal cukup dekat, tak berapa lama taksi yang mengantarkannya pun sudah sampai ke tempat yang ia maksud. Dari kejauhan ia sudah melihat seseorang yang ia cari tengah duduk di sofa belakang sendirian, dan tanpa berbasa-basi untuk menyapa atau hanya untuk sekedar beramah-tamah Bryan berjalan cepat dan segera melayangkan tinjuan maut yang selama ini ia pelajari.
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Tak hanya wajah yang ia pukuli tetapi juga perut dan sebagian tubuhnya, ia tidak peduli di anggap tidak sopan pada orang yang lebih tua darinya. Seharusnya orang itu yang lebih tidak pantas di sebut orangtua.
" Bray tunggu dulu, ada apa ini?" protes orang tersebut, namun Bryan tidak mengindahkannya rasanya ia ingin sekali membunuh orang itu jika saja membunuh tidak di larang oleh hukum negara ini, tentu saja agar impas, kematian seharusnya di balas dengan kematian, bukan begitu!
Beberapa anak buah Bram berlari mendekat ke arah mereka dan siap untuk menyerang dan mengepung Bryan segera. Namun Bram justru mengangkat sebelah tangannya memberi kode pada mereka semua, agar tidak ikut campur untuk saat ini, para anak buahbya pun mengangguk paham dan berdiri mematung di setiap sudut ruangan.
" Bryan, kau sudah tidak waras! tidak punya sopan santun terhadap orang yang lebih tua, aku ini sudah seperti Papamu. Hentikan!!" pekik orang tua itu yang tidak lain adalah Bram.
" Kau yang lebih tidak pantas di sebut orangtua, kau sudah menusukku dari belakang selama ini, apa salahku juga keluargaku Hah!! ya aku memang sudah tidak waras sejak kami mengalami kecelakaan untuk kedua kalinya, dan mengetahui istriku masih dalam keadaan koma terbaring di rumah sakit. Tapi kurasa kau yang lebih tidak waras disini di bandingkan diriku, seharusnya jika ingin membunuhku langsung habisi aku saja tidak perlu melibatkan istri dan juga anak-anakku. JAWAB CEPAT APA YANG MEMBUAT OM TEGA MELAKUKAN HAL SEKEJI ITU!!" Hardik Bryan yang terlihat sangat murka sekali saat ini, jiwa iblisnya perlahan keluar dari sisi lainnya yang ia bersebunyi selama ini.
Bahkan melihat Bram yang sudah babak belur dan berdarah-darah, ia sama sekali tidak punya rasa belas kasih, yang ada hanya rasa jijik dan muak pada pria tua b********n seperti Bram. Bryan terus saja memukulinya, seperti seseorang yang kerasukan oleh iblis.
" HAHAHA, jadi kau sudah mengetahuinya anak muda." Lihatlah disaat seperti ini saja Bram masih bisa tertawa dengan keras, walau darah sudah mengalir di hampir seluruh wajahnya.
__ADS_1
" Kau memang bang4t om, kau lebih pantas di sebut binatang, bagaimana bisa binatang ini bisa mempunyai dua putri yang bersikap baik, bahkan kau tidak pantas di sebut Ayah oleh kedua putrimu itu." desis Bryan menatap tajam pada Bram yang sedang berdiri sedikit sempoyongan karena di hajar olehnya.
" HAHAHA,, Putriku hanya satu, selamanya hanya satu." sahut Bram dengan ambigu.
Bryan sedikit terkesiap mendengar pernyataan yang di lontarkan Bram barusan, tetapi ia masih memasang wajah datarnya. Tidak ingin tertipu oleh tipu muslihatnya, walau rasa penasaran tetaplah ada, apa yang di maksud oleh Bram barusan, jadi siapa kira-kira putri yang dia maksud di antara keduanya? Fay ataukah Bonee? batinnya bertanya-tanya.
" Kau tahu Bonee itu adalah putri kandung Papamu Bryan, Papamu yang kau banggakan itu, dia yang justru menusukku dari belakang selama ini, maka dari itu aku pun melenyapkannya, aku benci dengan orang-orang munafik! HAHAHA," pekik Bram dengan suara lantangnya.
" APA?! ITU TIDAK MUNGKIN! Papaku tidak mungkin mengkhianati Mama! kau pasti hanya membual saja Om. Aku sangat mengenal Papaku lebih dari siapapun, dan aku tidak akan percaya pada kata-kata kotormu itu!" pekik Bryan kembali ingin memukul Bram kembali, namun kali ini Bram bisa menangkis pukulannya.
" HAHAHHA, memang itulah kenyataannya, bagaimana sakit bukan kau mengetahui yang sebenarnya, bagaiamana denganku selama ini!" teriak Bram, masih tertawa terbahak di tempatnya setelah membuat Bryan terjatuh tertunduk di lantai.
Walau Bram tidak mencintai istrinya selama ini, namun jika ada yang mengkhianatinya ia pun akan murka. Sekalipun itu adalah sahabatnya sendiri yang sudah menusuknya dari belakang. Ia tidak akan segan-segan membuatnya menghilang dari muka bumi ini.
Dan tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang sedang berdiri di balik dinding sekat di ujung sana dan telah mendengar semua pembicaraan mereka sedari awal, dan kini orang tersebut terduduk di lantai dingin itu setelah mendengar kenyataan pahit baginya.
Pantas saja aku terlihat seperti bukan anak Papi? Papi terlalu memanjakan Kak Fay dari dulu, di bandingkan aku yang adiknya. Dan itulah sebabnya aku di kirim kerumah Tante di bandung dan tinggal disana selama ini.
Karena tidak ingin terlihat lemah, Bonee pun segera bangkit dan pergi dari sana, ia berjalan kembali ke kamar lalu memutuskan untuk segera pergi dari tempat jahanam ini. Dan Bonee kembali terkejut saat mengetahui jika Papinya yang telah menghancurkan keluarga Djandra selama ini bahkan hingga detik ini.
Di tempat yang tadi Bryan dan Bram masih pada posisi yang sama, tak lama terdengar suara deringan keras dari salah satu ponsel milik keduanya. Dan ternyata ponsel milik Bryan yang bergetar, pria itu pun segera mengangkat panggilan tersebut.
" Ya Hallo_" jawabnya begitu panggilan itu sudah terhubung.
" Apa? Baiklah aku akan kembali." sahutnya, dan mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
" Akan aku pastikan kau akan menerima hukuman yang berat sebentar lagi hingga membusuk di balik jeruji besi." hardik Bryan menatap nyalang Bram.
Sedangkan Bram hanya tersenyum mengejek, " Kau tidak akan pernah bisa menangkapku tanpa bukti anak muda, HAHAHA..!" sanggahnya pongah.
" Kau tenang saja akan aku kumpulkan semua bukti kejahatanmu itu Pak tua, kau belum melihat siapa Buruan yang sebenarnya!" teriak Bryan sebelum meninggalkan Mansion milik Wijaya tersebut, kediaman mantan Ayah mertuanya.
" Cih, Ayah mertua konon! dia lebih pantas di sebut sebagai Domba berkepala serigala." gumamnya bergegas kembali dimana Heli-nya berada dan siap untuk terbang ke kota besar dimana seluruh keluarganya sudah berkumpul disana.
.
.
.
.
.
.tbc
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi semua yang menjalankan, semoga semuanya di beri kesehatan yang berlimpah..
Maaf slow up yaa kakak...boleh dong mampir ke karyaku yang lainnya..maaf sedikit memaksa...haha..
Thank's yaa sudah mampir baca, maaf kalau masih banyak typo.
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷