
"Semoga cepat tumbuh di dalam sini." seru Nando mengusap perut rata istrinya, mereka pun tertidur kembali saling berpelukan.
Sementara di kamar lain, dua insan yang baru saja selesai bercinta dengan panas seperti biasanya, kini mereka sedang berbaring sambil berpelukan.
Beruntung Ken ingin pulang dengan para Omanya, kalau tidak auto gagal untuk memproses baby nya.
Kepala Ariell berada tepat di atas jantung suaminya yang berdetak dengan teratur.
Ini adalah saat yang Ariell sukai berada di dalam pelukan pria yang ia cintai, bisa merasakan tubuh hangat dan kuat pria ini, juga masih bisa mendengar detak jantungnya.
Ariell tidak pernah berhenti bersyukur masih di beri kesempatan untuk bersamanya, kecelakaan mereka dulu membuatnya merasa sedikit trauma.
Takut tidak pernah bisa melihat pria ini lagi, takut tidak bisa mendengar detak jantungnya lagi, ketakutannya sungguh memenuhi seluruh pikhirannya saat itu, dan hanya bisa melihat Bryan yang terbaring koma di atas ranjang rumah sakit.
Dan sekarang di saat ia sudah di takdirkan bersama dengan pria ini, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan untuknya.
"Kau ingin anak berapa?" tanya Bryan sambil mengelus perut istrinya yang masih rata itu.
" Memiliki banyak anak sangat menyenangkan, rumah menjadi ramai karena teriakan rengekan manja dari mereka, bagaimana denganmu?" tanyanya balik.
"Begitupun denganku, aku menginginkan kehadiran banyak anak-anak dari darah dagingku sendiri, tapi kau tidak apa 'kan kita membesarkan Ken? aku sudah sangat mencintai anak itu, aku tahu suatu saat dia akan mengetahui segalanya dan mungkin saja ingin tinggal dengan Papa kandungnya, tapi selagi dia belum dewasa aku ingin membahagiakannya sampai waktu itu tiba." terang Bryan merasa takut kehilangan.
Sebab ia dan Ken sudah bersama-sama sejak Ken baru di lahirkan untuk melihat dunia ini.
"Aku pun sudah sangat menyayanginya seperti putraku sendiri, kalau pun Ken adalah putra kandungmu, aku pun tidak mempermasalahkannya, dia berhak mendapatkan kasih sayang dari kita." Bryan semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya.
Bryan tidak salah mencintai wanita ini, dialah wanita yang ia cari selama ini, wanita yang begitu tulus menerimanya apa adanya, keadaannya yang sudah tidak sama sewaktu mereka masih berpacaran dulu.
Sekarang Bryan malah semakin cinta, semakin sayang tidak peduli ia di bilang bucin, tapi kenyataannya memang dia sangat bucin pada wanita ini dari dulu.
Ariell -lah pawangnya, yang bisa menakhlukkan hati dan jiwanya, "Baiklah, ayo kita membuat yang lebih banyak lagi."
Bryan sudah menggeser tubuhnya dan kini sudah berada di atas mengukung tubuh istrinya kembali.
"Kau memang tidak ada lelahnya sama sekali, tapi aku suka dengan semua sentuhanmu itu, ayo cepat hamili aku." ucap Ariell sambil tersenyum menggoda.
"Kenapa kau jadi agresif begini? tapi aku suka, apa kau tahu jika membuatmu hamil adalah salah satu kegiatan favoriteku sekarang?" Ariell tertawa mendengarnya.
__ADS_1
" Bercinta denganku memang hal yang ingin kau lakukan padaku sejak dulu buka? beruntung dulu aku masih bisa mengendalikannya." jelasnya.
"Aku tidak akan membantah untuk itu, kau adalah wanita pertama yang membuatku ingin menerkammu setiap kita bertemu. dan sekarang aku seperti anak remaja yang baru mengenal s***." terangnya membuat Ariell tersenyum bangga.
" Benarkah? bahkan dengan istrimu dulu tidak seperti itu?"
Ariell tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu, terlebih suaminya sudah benar-benar siap untuk memasukinya lagi.
Ariell bisa merasakan djordy Bryan yang besar dan kuat itu sudah membelai miliknya yang sudah lembab, tapi Ariell hanya ingin tahu bagaimana perasaan suaminya sesungguhnya pada wanita itu.
Bryan menggeleng, " Aku kadang menikmatinya, tapi kami tidak sering melakukannya dan aku juga tidak pernah merasa rindu untuk melakukannya kembali, tetapi rasanya berbeda sekali denganmu, aku tidak bisa tidak untuk menyentuhmu walau barang sehari saja rasanya sudah berminggu-minggu lamanya." terangnya dengan jujur.
"Jadi kau tidak pernah mencintainya?"
Ariell sudah pernah mendengar penjelasan ini sewaktu mereka berada di Resto, tapi ia ingin mendengar apakah pria ini pernah mencintai istri pertamanya dulu atau tidak?
Bryan mengkerutkan dahi menatap istrinya, " Benarkah kita harus membahas itu sekarang?"
Ariell menyeringai tanpa dosa sambil mengangguk, " Aku hanya ingin tahu kau pernah mencintainya atau tidak?"
"Dan kau menyesali itu?" Bryan mengangguk pelan.
" Sangat, kalau saja aku tidak menikahinya mungkin dia bisa menikah dengan David pria yang sangat mencintainya dan Fay bisa hidup bahagia, tidak akan membuatnya tertekan dalam kondisi hamil seperti dulu, dan aku akui aku memang sangat cuek dan dingin padanya walau dia sedang hamil dan kupikhir itu adalah anakku, aku tetap saja tidak bisa mencintainya." sesalnya begitu dalam.
"Bukannya aku bahagia atas kehilangan wanita itu, tetapi aku lega wanita itu menerima hukuman dari perbuatannya sendiri yang telah mempermainkan perasaan David juga membohongi semua orang atas bayi yang di kandungnya." jelas Ariell sambil membelai djordy suaminya yang kembali mengecil.
" Dulu mungkin aku menyesali sikapku pada Fay yang membuatnya pergi untuk selamanya sesaat setelah melahirkan bayi yang aku duga adalah putraku kandungku." tangan Ariell masih terus membelai.
" Tetapi sekarang aku tahu jika itu sudah takdirnya dan Tuhan telah mempertemukan kita kembali untuk bersama, aku mencintaimu Bee sekarang, esok selamanya." Bryan mencium kening istrinya.
"Sekarang aku tidak menyesali apapun karena memilikimu dan Ken dan juga dengan anak-anak kita nantinya, kecuali saat kita berpisah dulu seandainya waktu bisa kuputar aku akan mengajakmu kemanapun aku pergi." suaranya sudah semakin berat.
Sekarang gantian Ariell yang bergerak dan dalam sekejap sudah duduk di atas perut suaminya." Kalau tidak seperti itu kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan kita setelah kita berpisah."
"Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu sendirian lagi, kau akan selalu di sampingku, kita akan selalu bersama kemanapun." mata Bryan menatapnya dalam seakan mengingatkan istrinya bahwa itu adalah sebuah janji yang Bryan akan penuhi.
"Aku akan mengingatnya dan menagih janji itu nanti." Ariell menunduk mencium bibir Bryan seperti yang pria itu lakukan padanya tadi.
__ADS_1
Sentuhan balasan dari bibir suaminya ke bibirnya menimbulkan gelombang ga***h yang segera membesar, Ariell sangat suka saat melihat pria itu takhluk di bawah kendalinya.
Sekarang bibirnya turun ke leher suaminya, terus hingga ke dad* pria itu mengulum dua ujung kecil itu secara bergantian.
Dan berakhir di djordy yang sudah berdiri tegak menantangnya, Ariell menatap suaminya sejenak lalu memulai aksinya.
Dan Bryan menggeram di bawahnya saat istrinya itu memainkan si djordy dengan lidahnya.
"Aaahh Bee." desahnya saat mulut Ariell menghisap ujung miliknya membuatnya sudah tidak kuat lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Di gantung dulu..hehe..
Lanjut ke Bab selanjutnya..
Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..
__ADS_1