
PoV Ariell
Satu bulan kemudian setelah insiden kecelakaan yang menimpa supir suamiku Mang Ujang, aku dan Bryan suamiku menjadi sangat berhati-hati dan waspada mulai sekarang.
Mengingat banyak kejadian yang menimpa keluargaku akhir-akhir ini dan tentu saja terasa ganjal, hingga suamiku meminta bantuan kepada sahabatnya Armand untuk kembali membantunya kali ini menemukan orang yang akhir-akhir ini selalu meneror keluarga kami.
Ternyata ini adalah orang yang sama yang telah menyelakai kami dulu hingga suamiku mengalami koma dan amnesia, dan entah kejadian apalagi aku kurang begitu tahu karena suami tidak menceritakan semuanya padaku, takut mengganggu kehamilanku.
Aku baru saja menidurkan Kay di kamarnya dan sekarang aku sedang berjalan menuju ke kamarku dan suami yang ada di samping kamar putriku.
Setiba di kamar aku tak melihat keberadaan suamiku, mungkin ia sedang berada di kamar mandi, aku pun menyusulnya untuk bersih-bersih sebelum mengistirahatkan tubuh lelahku ini.
Walau sudah di bantu banyak maid di rumah, namun aku tetap ingin terjun langsung untuk mengurus kedua putra putriku dan juga membuat makanan untuk keluarga kecilku.
Karena ini rumah tanggaku jadi aku tidak bisa lepas begitu saja dari tanggung jawabku sebagai seorang istri dan juga seorang Ibu.
Ceklek.
Ternyata di dalam kamar mandi pun suamiku tidak ada, aku pun tetap melanjutkan niatku tak lama aku keluar kembali dan ternyata suamiku juga baru masuk dan menutup pintu ternyata sedari tadi ia ada di balkon kamar.
Aku pun melempar senyum begitupun dengan suamiku ia berjalan menghampiriku, " Anak-anak sudah pada tidur?" tanyanya sembari mengelus perut buncitku yang sudah terlihat begitu besar di usia kandungan yang baru menginjak empat bulan.
" Sudah, Kay baru saja terlelap." jawabku mengusap tangannya yang berada di atas perutku.
" Perutmu semakin besar begitupun dengan tubuhmu yang juga semakin bulat sayang, membuatku ingin selalu memakanmu saja." celetuk suamiku, bahkan salah satu tangannya sudah mengusap area favoritnya itu.
Kemudian suamiku membungkuk kepalanya di dekatkan krpalanya di perutku seperti biasa ia akan mengajak komunikasi calon baby kami.
" Hey, baby-baby Daddy, kalian sedang apa? oh, kalian ingin di tengok lagi sama Daddy? baiklah sebentar lagi kita akan betemu. " bisiknya menggoda sambil terus mengecupi perutku.
Aku memukul punggungnya sedikit kesal, bukan tanpa sebab, setiap malam suamiku ini rajin sekali mengajak olah raga ranjang, katanya 'baby kita ingin di tengok', alasannya selalu saja seperti itu.
Ya kalian pasti sudah bisa menebaknya kenapa suamiku mengatakan kalian pada calon baby kami, karena memang aku sedang mengandung baby twin.
Aku dan suami sangat bersyukur semua keluargapun sangat bahagia, mendengar kabar kehamilan keduaku ini, apalagi di dalam keluarga kami belum pernah ada yang mengandung bayi kembar, dan ini adalah untuk yang pertama kalinya.
Bahkan Mama mertuaku begitu antusiasnya sampai nanti akan terus tinggal di Mansion kami tidak akan bepergian dulu hanya untuk membantu merawat mereka, aku pun dengan senang hati menyetujuinya.
" Ayolah B**ee, tidak baik menolak permintaan anak sendiri, aku tahu kau sendiri pun juga menginginkannya bukan?" tanyanya setelah keluar dari kamar mandi sembari menaik turunkan kedua alisnya, membuatku sedikit geli.
__ADS_1
Kami sudah berada di atas ranjang dan tubuhnya miring menghadapku, bertopang dengan sebelah tangannya.
Astaga genit sekali sekarang suamiku ini, dan itu juga yang selalu ia ucapkan ketika melihatku ingin menolak ajakannya, padahal apa yang ia ucapkan memang benar adanya.
Kehamilanku yang sekarang, aku yang lebih bergai*ah berkali lipat di bandingkan dengan suamiku, entah apa karena hormon ataukah yang lain, dan aku yang ujung-ujungnya selalu mendominasi permainan yang ia mulai.
" Jadi bagaimana Mrs. Djandra?" tanyanya kembali yang sudah berada di atas tubuhku, mengukungku, namun tidak sampai menindihku.
" Lakukanlah." jawabku pasrah.
Bryan suamiku langsung mecium lembut bibir manisku, dan terus melum*tnya, menghisapnya atas bawah, membuatku mendesah pelan apalagi sebelah tangannya sudah meremas lembut salah satu gunung kembarku. entah sejak kapan kami berdua tidak memakai pakaian sehelai benang pun.
Ciuman kami semakin panas, dan mulai turun ke leher jenjangku dan tak lama suamiku mengul*m bergantian gunung kembarku, membuatku sudah tidak tahan lagi.
" Sayang sekarang." pintaku dengan terus mendes*h, suamiku pun langsung menurutiku dan menposisikan pusakanya pada inti tubuhku.
" Pelan-pelan sayang." ucapku mengingatkan.
Suamiku mulai bergerak secara perlahan, aku pun mengimbangi peemainannya itu, hanya suara desah*n yang memenuhi ruangan kamar kami.
Hingga beberapa jam kemudian kami masih belum menyudahi dengan berganti beberapa gaya yang aman untuk ibu hamil dan posisiku sekarang sudah berada di atas tubuh suamiku.
Hingga tak lama aku pun mulai meradmsa akan sampai pada puncaknya, aku sedikit mempercepat namun tidak begitu cepat, dan lenguhan panjang pun keluar dari mulut kami berdua.
Nafas kami saling memburu, suamiku membantuku turun dari atas tubuhnya, kemudian ia berbisik pelan.
" Terima kasih kau memang sungguh nikmat Bee, kau selalu membuat suamimu ini begitu puas dengan servisemu yang selalu memabukkan itu." ucapnya sembari memeluk tubuhku erat.
Tubuh kami saling berpelukan dengan keadaan masih sana-sama polos di dalam selimut tebal yang membungkus tubuh kami.
Aku pun tersenyum membalas pelukannya, " Sana-sama sayang, aku sudah tidak kuat lagi." balasku sambil memejam merasakan kantuk yang luar biasa ini.
Suamiku terdengar terkekeh menciumi seluruh wajahku, semakin memperetlrat pelukannya, " I love you, Bee." bisiknya pelan, aku masih bisa mendengar bisikannya, namun aku sudah tidak kuat hanya untuk sekedar membuka mulutku.
...----------------...
Aku baru saja selesai memasak untuk makan siang lalu berjalan menghampiri putriku Kay yang saat ini tengah bermain bersama pengasuhnya di tempat bermain.
" Hai sayang, kau sedang membuat apa?" tanyaku sambil duduk di atas sofa.
__ADS_1
Sedangkan Kay duduk di karpet bawah, kemudian menoleh ke arahku sambil tersenyum perlahan mendekatiku.
" Mommy, Kay kangen sama Nenek uyut, ayo kita kesana ." rengeknya tiba-tiba sambil memelukku.
Aku membalas pelukannya sambil mengusap surai hitam yang sudah sedikit panjang, sambil menatap mba pengasuhnya.
" Iya Bu, sedari tadi Kay bicara ingin bertemu dengan Nenek uyutnya." jelas pengasuh Kay padaku.
Tak lama ponselku berdering terlihat di layar depan ponsel nama kontak Ibuku yang memanggil, aku pun segera mengangkatnya.
" Iya Hallo Ibu, ada apa?" tanyaku ketika sambungan telepon itu sudah tersambung.
" Ariell, kamu bisa kesini sekarang. ini Nenekmu sedari tadi memanggilmu dan juga memanggil Richard terus menerus. tolong kesini ya."
" Nenek? Nenek kenapa Bu? baiklah Ariell akan kesana sekarang juga." jawabku sedikit panik.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Thank's yaa sudah mampir baca, maaf kalau masih banyak typo.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1