
Richard baru saja duduk di hadapan pria yang tidak lain adalah Armand sang Detektif." Bagaimana?" tanya Rich sambil memanggil pelayan untuk memesan minuman.
" Seperti dugaanku, orang yang sama, motif yang sama namun wanita yang berbeda. dan wanita ini dulunya pernah sempat tergil4-gil4 pada adik iparmu itu." jelas Armand yang langsung to the poin kepada Richard.
" Tergil4-gil4? jadi maksudmu motifnya sama balas dendam, begitu?" tanya Rich sedikit kurang paham.
" Bisa jadi seperti itu, sebab ia dulu sempat membuat onar dan hampir mencelakai adikmu pada waktu kuliah dulu, beruntung Bryan datang tepat waktu dan bertindak tegas padanya. namun ada yang aneh dan janggal dari wanita bernama Felina ini. ternyata dia mempunyai kembaran." terang Armand membuat Rich kembali tidak paham.
" Felina mengatakan bahwa ia akan membalas kematian Kakaknya, aku jadi berpikir atau jangan-jangan wanita yang aku lempatkan ke laut waktu itu. tapi itu adalah perbuatanku sendiri tanpa ada permintaan dari Bryan yang saat itu sedang koma. seharusnya aku-lah yang menerima ini semua, bukanlah Bryan." sahut Armand sedikit merasa kasihan pada sahabatnya yang kembali merasakan koma untuk kedua kalinya.
" Maksudmu Felicia yang juga telah merencanakan pembunuhan mereka berdua dulu? dan sekarang pelakunya adalah kembarannya begitu?" Armand pun mengangguk.
" Shiit.", Richard mendesah kasar memikirkan ini semua." Aku sungguh kasihan sekali dengan nasib adik dan juga sahabatku, masalah terus saja menimpa keluarga kecil mereka." ujar Rich kemudian.
Armand memberitahu bahwa ia akan terus mencari keberadaan dalang semua ini, yang tidak lain adalah calon mertuanya sendiri, " Entah dimana Bram bersembunyi, pintar sekali otak pria tua itu, kau tenang saja aku akan terus mencari tua bangka itu hidup atau mati. Aku akan seret dia dan aku akan membuat perhitungan dengannya, dasar bangs4**!." seru Armand menggebu-gebu, sebab ia sudah sangat geram pada Papa kekasihnya yang begitu bajing4n.
Tak lama Richard pun kembali ke rumah sakit setelah cukup lama bercengkrama dengan pria detektif itu, Rich melihat sang Ibu duduk di ruang tunggu sambil menunduk sepertinya sedang tidur. "Kasihan sekali Ibu." lirihnya sambil menarik Ibu Ayu ke dalam pelukannya.
Malam menjelang, sore tadi Rich mengajak Ibunya untuk pulang sebentar, walau awalnya menolak tetapi akhirnya Ibu Ayu mau di ajak pulang ke rumah. tepatnya pulang ke Mansion Bryan, sebab di rumah Ibunya pasti tidak ada siapa pun disana, sedangkan di Mansion sang adik pasti ramai sebab anak-anak semua berkumpul.
" Huaaa.. huaaa.. hikk."
Terdengar begitu nyaring suara tangis Kay saat mainan kesukaannya sedang di genggam erat oleh Miqhuel, pria kecil itu tidak mau sharing pada sang pemilik mainan. Ibu Ayu terus berusaha menenangkannya namun tangis Kay semakin kencang saja." Sudah cup sayang, Kakak pinjam sebentar mainannya ya." bujuknya, namun Kay tetap saja menangis.
" Qhuel, pinjamkan sebentar pada adiknya, jangan seperti itu nak sharing, nanti Dad akan membelikan banyak untukmu, jika kau mau sharing." Zoey sang Mama juga berusaha membujuk putra bungsunya yang terus saja mempertahankan mainan boneka Kay yang ia peluk erat sedari tadi.
Ken yang mendengar adiknya tiba-tiba menangis kencang segera berlari dari dalam kamar, sebab sedari tadi ia belajar bersama Mike dan juga Calista, walau mereka bertiga berbeda usia. Ken mendekati adiknya dan mencoba menenangkan bocah dua tahun lebih itu." Cup, cup kita mainan yang lainnya ya Dek, coba lihat Kakak pegang apa?" seru Ken begitu lembut, ia amat menyayangi adiknya cantiknya itu.
__ADS_1
Kay yang sedari tadi menangis, langsung mereda begitu ia melihat mainan asing yang di pegang Kakaknya itu, ia pun meraihnya sembari menerbitkan senyum manisnya melihat boneka teddy bear , " Pinter adik Kakak ini, ayo kita mainan ya."
Zoey, dan Ibu Ayu saling pandang sesaat, begitu Kay terlihat tenang kembali hanya mendengar bujukan dari Kakaknya." Sepertinya hanya Ken yang bisa menenangkannya." ujar Zoey pelan, Ibu Ayu hanya mengangguk mengiyakan dan kembali menatap dua bocah yang saling tersenyum senang sambil memainkan mainannya.
" Ibu istirahat saja di kamar, biar anak-anak sama Zoey." pinta Zoey tidak tega saat melihat wajah pucat Ibu mertuanya yang terlihat begitu kelelahan.
" Baiklah, jangan terlalu malam ajak mereka segera tidur Zoey." pesan Ibu Ayu sebelum beranjak menuju kamar kosong yang berdekatan dengan kamar Oma Lidya.
Walau mereka di bantu oleh dua pengasuh Ken dan Kay, namun semuanya kompak ikut andil dalam mengasuh kedua putra-putri Bryan dan Ariell. sebab mereka ikut bertanggung jawab selama kedua orangtuanya masih berada di rumah sakit.
Zoey mengangguk sambil tersebut, ia sangat kasihan dengan apa yang menimpa pada keluarga adik iparnya ini, apalagi melihat Ken dan Kay, mereka yang masih begitu kecil harus ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, sungguh hatinya terasa teriris.
Sementara Belinda belum lama ia pamit untuk masuk ke dalam kamarnya, sebab putranya itu sudah rewel sedari tadi karena mengantuk, sebab seharian bocah yang tubunya selalu gembul itu bermain dan mungkin merasa kecapaian.
Ken yang sudah besar memang tidak di beri tahu perihal kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya, sebab takut jika terjadi apa-apa pada anak itu, apalagi mengingat adiknya Kay yang masih sangat kecil, jadi mereka memberitahu bahwa keduanya sedang ada urusan di luar kota.
...----------------...
Seminggu kemidian.
Rich mulai terjaga, sedikit mengeliat di atas sofa kecil tempatnya istirahat dari semalam, ia mengedarkan pandangan sejenak karena tidak melihat keberadaan Fredly kakak dari sahabatnya yang sedang terbaring itu, " Sepertinya sedang keluar." gumamnya bermonolog.
Rich beranjak dan berjalan masuk ke dalam toilet, tak begitu lama ia keluar akan berjalan ke arah pintu untuk keluar sebentar melihat keadaan adiknya di ruangan berbeda yang tak jauh dari ruangan Bryan ini, namun langkahnya terhenti begitu ia melihat ada pergerakan di atas ranjang kecil rumah sakit, " Bray kau sudah sadar?" tanyanya begitu antusias, namun saat ia melihat ada pergerakan di bagian lainnya, Bryan justru mengalami kejang-kejang kembali.
Secara bersamaan pintu ruangan terbuka dari luar, dan muncullah Fredly dari balik pintu, " Astaga apa yang terjadi?" Fredly yang baru saja akan masuk langsung melihat adiknya kembali kejang-kejang, ia kembali panik.
Hingga Fredly kembali keluar untuk memanggil para dokter yang menangani adiknya, tak lama seorang Dokter masuk bersama dua suster, mereka segera memeriksa keadaan pasien, sementara Rich dan Fredly menunggu di luar dengan harap-harap cemas, semoga mereka mendapatkan kabar baik sebenta lagi.
__ADS_1
Sambil menunggu Bryan selesai di periksa, Rich berjalan menuju dimana ruangan adiknya berada, dari balik kaca pembatas Rich bisa melihat adiknya yang terbaring lemah tidak berdaya dengan berbagai alat menempel di tubuhnya, jangan lupakan perut buncitnya yang semakin membesar itu.
" Cepatlah bangun Adikku sayang, sungguh Kakak tidak tega melihat kemalangan hidupmu selama ini, semua menunggumu cepatlah sadar. kasihan mereka yang ada di dalam perutmu, juga suamimu yang sampai sekarang tak mau bangun juga, apa kalian bersekongkol,hah?" Lirih Rich sambil mengusap bulir bening yang tidak tahu kapan keluar, tahu-tahu sudah ada di ujung netranya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Thank's yaa sudah mampir baca, maaf kalau masih banyak typo.
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷