
"Ya ada apa?" ucap Nando ketus dan dingin saat panggilan itu tersambung walaupun dengan terpaksa ia mengangkatnya.
"Kak, tolongin aku! please?" ucap seseorang di seberang sana.
"Ada apa lagi? sudah kukatakan jangan menggangguku!." desis Nando tajam.
"Please Kak hanya kakak yang aku kenal disini, ini mungkin untuk terakhir kalinya aku akan meminta tolong pada kakak."
Nando berpikhir sejenak sebelum menjawab, kata-kata 'terakhir kalinya' itu sedikit mengganggunya kali ini.
"Kau kirimkan saja alamatnya. nanti aku kesana." jawab Nando langsung mengakhiri panggilan itu.
Membuat seseorang di seberang sana tersenyum senang.
Aku pasti bisa mendapatkan hatimu Kak. batinnya tersenyum penuh arti.
Nando pun segera keluar dari mobil, dan akan masuk kedalam resto tapi langkahnya terhenti saat melihat kekasihnya kembali keluar.
"Ada apa sayang? kau mau kemana?" tanya Nando penasaran.
"Aku pergi ke Kedai Ibu dulu, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sana.!" jawab Ariell cepat akan berjalan ke jalan raya tapi langkahnya terhenti saat Nando mencekal pergelangan tangannya.
"Aku antar ya.!" pinta Nando.
Ariell sebenarnya mau menolak tapi bagaimana lagi, mau tidak mau Ariell pun pasrah berjalan masuk ke dalam mobil Nando kembali, walau sebenarnya ia pun tidak ingin selalu merepotkan Nando.
Di perjalanan menuju Kedai Roti milik Ibunya mereka saling diam tidak ada yang mau memulai berbicara.
Beeb.
Beeb.
Terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Nando. tapi tidak di hiraukan oleh sang pemilik.
Ariell pun tidak ingin bertanya jauh, sekarang pikhirannya hanya mencemaskan keadaan Kedai dan sang Ibu.
Kedai yang berada di Jogja dulu sudah di tutup dan pindahkan ke kota ini, karena Ibu Ayu ingin terus meneruskan Kedai peninggalan dari orang tuanya, sayang kalau di tutup begitu saja kata Ibu Ayu dulu, di sini pun tidak kalah ramai di bandingkan dengan yang di Jogja dulu.
Sesampainya di Kedai Ariell langsung berlari di ikuti Nando di belakangnya, dan begitu masuk ke dalam keduanya tercengang saat melihat ada beberapa orang bertubuh besar tengah membuat ulah di dalamnya.
"Maaf ada apa ini, siapa kalian?!" seru Nando tegas dan membuat semua orang berbadan besar itu menoleh padanya.
"Kamu siapa? jangan ikut campur dengan urusan kami," ucap lantang salah satu dari mereka. lalu kembali menatap Ibu Ayu." Cepat serahkan berkas itu pada kami?" ucapnya semakin berang sambil menodongkan sebuah pistol padanya.
Dua pegawainya sudah terduduk di sudut bawah etalase, Ariell langsung berlari menghampiri Ibunya, "Ibu apa maksud mereka? berkas apa yang mereka minta itu?" tanya Ariell melihat wajah Ibunya yang sudah pucat pasi.
__ADS_1
"Jadi dia putrimu?" tanya seorang lagi dari mereka sambil mengamati wajah cantik Ariell dan berjalan semakin dekat.
Tangan Nando segera merogoh ponsel yang ada di dalam kantong celananya dengan pelan sambil mengawasi orang-orang itu, tapi belum sampai mengambilnya aksinya di ketahui oleh salah satu dari mereka dan langsung menodongkan sebuah pistol tepat di kepalanya.
Membuat kedua tangannya langsung terangkat ke atas sebagai tanda menyerah.
"Nanti Ibu jelasin sekarang mana amplop yang Ibu minta tadi?" tanya Ibu Ayu sambil mengenadahkan sebelah tangannya.
"Boleh juga putrinya.!" celetuk dari pria lainnya. membuat ketiganya menatap berang pada orang yang barusan bicara.
"Jangan kau sentuh putriku dia tidak tahu apa-apa.!" bentak Ibu Ayu menatap berang pada lima orang itu.
"Jangan macem-macem kalian." membuat Nando berjalan cepat menghampiri keduanya dan berdiri di depan untuk menghalangi siapapun yang akan mendekati kekasih dan calon mertuanya.
"Sok jadi pahlawan dia.!" Nando tetap diam saja, tidak ingin menanggapinya.
Ariell dengan terpaksa mengeluarkan cepat amplop kecil yang ia bawa tadi, lalu menyerahkan pada Ibunya, " Ini silahkan kalian semua pergi dari sini, sebelum saya melaporkan pada polisi." teriak Ibu Ayu sambil menyerahkan amplop tersebut.
Kelimanya langsung menyeringai puas sambil membawa apa yang mereka inginkan dan segera pergi dari Kedai itu, seketika Ibu Ayu langsung lemas terduduk membuat Ariell segera membantu Ibunya berdiri.
Meminta Ibunya duduk di sofa, sambil mengkode salah satu pegawainya meminta untuk membawakan air minum.
"Sebenarnya siapa mereka tadi itu Bu? kenapa mereka menginginkan amplop tersebut, Ariell tahu jelas apa isi dalamnya, tapi Ariell mohon Ibu jangan menutupinya lagi.!" pinta Ariell sambil membantu Ibunya menyesap air minum di gelas yang ia pegang.
"Ibu juga tidak tahu pasti sayang, tapi mereka meminta itu segera kalau tidak mereka akan menghancurkan Kedai ini bahkan D'Makatu Resto juga. Ibu tidak ingin mengambil resiko yang membuat Nenekmu sakit kembali. biarlah toch berkas itu tidak penting lagi buat kita." jelas Ibu Ayu masih sangat shock.
Nando pun mengantarkan kekasih dan calon mertuanya kembali ke kediamannya." Ibu kalau ada apa-apa lagi, Ibu bisa langsung meminta tolong pada saya." ujar Nando saat baru masuk ke dalam rumah.
Ibu Ayu hanya mengangguk pelan dan tersenyum, Ariell segera mengantarkan Ibunya istirahat ke dalam kamar.
...----------------...
Malam ini Bonita mengundang Armand untuk datang ke rumahnya, karena atas permintaan Papinya minggu lalu itu.
"Hai, maaf menunggu lama." ujar Bonita pada Armand yang sudah duduk nyaman di ruang tamu menunggu sang empu rumah.
"It's okay. Jadi dimana Papimu sekarang?" tanya Armand tanpa basa basi lagi.
"Kenapa? kamu sudah gak sabar ya? atau kamu takut dengan Papiku?" tebak Bonee menggoda sambil terkekeh.
"Kau belum mengenalku nona, tugasku setiap hari adalah mencari mangsa buas, apa Papimu kelihatan buas?" tanya Armand balik ikut terkekeh.
Dari arah depan terdengar suara sepatu pantofel berjalan akan masuk ke dalam," Baiklah secepatnya aku akan kesana." seru Bram sebelum memutus panggilan teleponnya.
"Papi, sini dech."ucap Bonee sambil menggandeng lengan Papinya mendekat ke arah Armand yang berdiri." Papi kenalin dia Kekasih Bonee. kami akan segera menikah." lanjut Bonee membuat Armand langsung menatap Bonee cepat kemudian beralih menatap Papinya.
__ADS_1
"Selamat malam om" sapa Armand sambil menunduk hormat," Perkenalkan nama saya Armand kekasih Bonee." tangannya terulur ke depan mengarah pada Papi Bonee.
Bram tak langsung membalas uluran tangan itu, malah menatap Bonee dan Armand bergantian, sedetik kemudian mau tidak mau ia pun menjabat tangan Armand dengan sedikit mencekramnya.
Membuat Armand mengkerutkan dahinya sambil menatap kedua tangan yang saling berjabat itu bergantian menatap Papi Bonee dengan tatapan seolah bertanya.
Ada apa dengan orang tua ini, seperti memiliki dendam padaku saja. batin Armand.
Tak lama Bram menarik tangannya kembali," Saya Papinya Bonita, kalian serius akan segera menikah? bahkan Papi belum terlalu mengenalnya Bonee. Pernikahan bukan main-main!" Bram berusaha menasehati putri yang tinggal satu-satunya itu agar tidak terburu-buru.
"Memangnya kau mengenal putriku dari man? kalian sudah lama menjalin hubungan?" tanya Bram menatap tajam pada Armand.
Untung Armand adalah anggota dari kalangan orang yang tidak biasa, sudah terbiasa ia menghadapi orang model Bram begini.
"Kami tidak sengaja bertemu Papi, Kak Armand yang telah menolongku dari hal yang sangat memalukan di dalam kafe." Ini Bonee yang menjawabnya.
"Papi tidak bertanya padamu Bonee, sebaiknya kau diam saja, atau Papi tidak akan merestui hubungan kalian berdua." membuat Bonee langsung menunduk terdiam.
"Maaf om, kami memang belum lama mengenal dan menjalani hubungan ini, tapi saya serius dengan putri om, saya akan berusaha selalu untuk membahagiakan Bonee." Bonee yang mendengar jawaban dari Armand langsung tersenyum manis. matanya pun berbinar.
Lain halnya dengan Bram yang terus mengamati Armand dengan tajam bahkan terlihat mengintimidasinya, " Apa pekerjaanmu?" tanya Bram mulai mengintrogasi.
Padahal bisanya Armand yang mengintrogasi musuh-musuhnya, sekarang dia di posisi musuhnya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..