Mantanku Hot Daddy

Mantanku Hot Daddy
Chapter 12


__ADS_3

Richard dengan tergesa gesa berlari keluar dari Resto, setelah menerima panggilan dari seseorang. Dia tidak menyadari ada seorang pria yang menabraknya dari arah samping.


Membuat dia hilang keseimbangan.


Bruuukkk...."Aww iisshhh"


Rintih Richard seketika tubuh sampingnya mencium aspal, lelaki berbadan besar tegap yang menabraknya hanya bilang sorry lalu dengan cepat ia menghilang bak di telan bumi. Beberapa orang di sekitar situ langsung membantu Richard berdiri.


"Anda tidak apa apa Tuan,?" tanya seorang pemuda yang menolongnya tadi.


"It's oke.!" jawabnya sambil berjalan tertatih.


"Maksud saya itu tangan tuan tidak apa apa?" tanya pemuda itu lagi memastikan. karena melihat lengan Richard mengeluarkan banyak darah.


Richard langsung melihat lengannya benar saja yang di katakan pemuda itu,"Aaachh pantas saja sedikit perih," gumamnya, "Saya baik baik saja dan terima kasih banyak dek atas bantuannya." pemuda itu pun tersenyum mengangguk.


Richard pun segera berjalan ke arah mobilnya. tak habis pikhir baru dua hari di Bali membuatnya sudah dua kali juga mengalami peristiwa BERTABRAKAN dengan seseorang.


Shiitt,,!! umpatnya menahan rasa ngilu di lengannya saat ia menambahkan gigi persneling mobilnya.


Kemarin baru saja menginjakkan kaki di bandara seseorang tiba tiba menabrak tubuhnya dari arah belakang, dan baru saja seseorang juga menabraknya hingga melukai lengannya. Double Shiitt!!.


Richard langsung pergi ke rumah sakit sekalian untuk mengobati luka di lengannya.


*Sementara di tempat lain.


"Ini nona, tapi maaf sepertinya orang itu juga akan ke rumah sakit, karena tadi saya gak sengaja menyenggolnya terlalu keras, hingga lukanya mungkin sedikit dalam." ucap preman berbadan besar dengan penuh tato itu sambil menyerahkan hasil kerjanya.


"Apaa??? kamu ini gimana sih, lukanya sungguh parah, yaa udah ini bayaran kamu, bilang makasih sama bosmu udah aku bayar lunass.!!" tegasnya sedikit geram ia pun segera pergi menuju ke rumah sakit.


Untung saja sebelum terbang ke london kemarin itu ia sempat meminta sempel darah dari Ibunya, membuat misinya semakin lancar jaya.


...----------------...


Keesokan harinya Ariell sudah tiba di rumah sakit. yang sebelumnya memang sudah membuat janji terlebih dahulu dengan salah satu dokter.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Ariell mendapatkan hasilnya 'cocok' dengan keakuratan 99,99 persen, itu lah yang tertulis di lembaran kertas berukuran F4 itu.


"Alhamdulillah, berarti benar dia memang abangku Denish," ucapnya pelan sambil mendekap kertas hasil test itu, ia sedikit terisak hingga tak menyadari bahwa sang dokter masih setia menatapnya.

__ADS_1


"Ekhemm." Dokter yang masih muda itu sengaja berdehem membuat Ariell gelagapan segera menghapus air yang mengaliri di kedua pipinya dengan cepat.


"Maafkan saya Dokter." ujarnya menunduk menahan malu, setelah berbasa basi sedikit ia kemudian keluar dari ruangan dokter.


Berjalan di area parkir Ariell tak sengaja menabrak tubuh kekar seseorang yang ada di hadapannya saat ini.


Sampai membuat tubuhnya terhuyung ke belakang hampir saja tumbang kalau tidak ada tangan kekar yang memeluk pinggangnya.


Seketika membuat Ariell mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat orang yang sudah berbuat kurang ajar telah memeluknya tanpa seijinnya terlebih dahulu, walaupun seharusnya ia minta maaf dan berterima kasih juga.


Degh!


Matanya terbelalak sempurna, jantungnya seakan hampir terlepas dari dadanya saat ini, dan darahnya seakan berhenti mengalir.


"B-bang, Aa-abang ngapain disini?" tanya Ariell dengan gugup, sambil berusaha menjauhkan tubuhnya.


Bahkan kedua telapak tangannya terasa basah oleh keringat dingin. Lelaki itu masih diam tak menjawab sambil menyilangkan kedua tangannya bersedekap menatap Ariell seolah seorang hakim yang tengah mengadili tersangka.


Sehingga membuat Ariell merasa menciut seperti seorang pencuri yang sudah melarikan diri dan tertangkap basah dari persembunyiannya selama ini.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu berada di bali, dan sedang apa kamu di dalam rumah sakit ini..?" tanya Bryan mulai menginterogasinya.


"Gak ada urusannya dengan abang, dan Abang jangan mencampuri urusanku di sini!!" jawabnya tegas tak ingin Bryan curiga dengan apa yang tengah ia lakukan.


"Kenapa tidak boleh, apa aku tidak boleh tau??"


Diih nih orang kenapa sih, tiba-tiba saja muncul di hadapanku, maksa lagi. tunggu apa jangan-jangan dari tadi aku di ikutin lagi sama si Juliet ini matilah aku, jangan sampai misiku ketahuan olehnya. gerutu Ariell dalam hati merasa was was.


"Kenapa diam? Tidak bisa menjawab pertanyaanku, atau lwbih baik aku yang akan menjawabnya.!!" skakmat ya Ariell mulai paham berarti memang Bryan mengikutinya sedari awal.


"Ariell cuma mau konsultasi di dalam tadi." jawabnya tanpa menatap wajah Bryan.


"Heii sayang kalau bicara tatap dong sama lawan bicaramu,!?"


Dih Apaan sih, pake panggil sayang-sayang segala lagi. gerutunya lagi.


"Maaf jangan panggil sayang-sayang, nanti ada yang salah paham, aku tidak mau di anggap pelakor!!" jawab tegas sambil menatap mata tajam milik Bryan yang dulu sangat ia kagumi.


Mendengar celotehan dari mulut Ariell seketika Bryan tersenyum geli menatap mata hazel indah Ariell miliknya dulu.

__ADS_1


" Gak akan ada yang salah faham padamu bahkan tidak akan kubiarkan seorang pun yang akan menyebutmu sebagai pelakor Bee," jelas Bryan tangannya mulai meraih jemari lentik Ariell lalu menggenggamnya.


Astaga aku rindu panggilan itu. batin Ariell meronta.


"Mungkin kamu yang nanti akan kepergok dengan pacarmu itu." tambahnya menggoda.


"Aku gak punya pacar." Uuppss!! astaga karena kaget dengan sentuhan jemari Bryan membuat Ariell spontan langsung menjawabnya.


Dan kini Ariell merutuki kebodohannya itu, bahkan secara tidak langsung ia telah membocorkan statusnya sendiri sekarang.


"Maksud ku bukan, tadi itu, pacarku lagi gak disini ya itu." hufft jelasnya belepotan karena bingung berusaha untuk melepas genggaman erat Bryan, tapi nihil genggaman itu makin erat rasanya.


kenapa harus berbohong si Riell, bodoh-bodoh, lalu bagaimana ini kalau dia tau aku bohongin. gerutunya untuk yang kesekian kali.


Bryan tak bertanya lagi, ia tahu kalau Ariell sedang membohonginya. Bryan langsung menarik tangannya memaksa Ariell masuk ke dalam mobilnya.


"Heii turunkan aku, kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Ariell waspada tiba-tiba Bryan memaksanya untuk ikut dengannya pergi.


Tak ingin menjawab pertanyaan Ariell, Bryan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil tak henti-hentinya Ariell bertanya terus menerus, hingga tak mendapat jawaban akhirnya Ariell akhirnya terdiam menatap jendela mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.tbc


Mau di bawa kemana yaa kira-kira sama Abang Bryan. hihi


Ikuti terus yaa..

__ADS_1


Terima kasih, minta tekan like dan komen juga yaa..


__ADS_2