
"Permisi, maaf saya juga akan duduk di sini." seru seseorang yang akan duduk di sampingnya.
Deghh..
Suara itu terdengar familiar, membuat Vivi pun menoleh ke samping,"Hei Jeviando 'kan? S**orry ini tempat dudukmu?"
Tanyanya sambil mengambil barang yang ia letakkan di bangku sebelahnya, lalu tersenyum senang karena bisa kebetulan bertemu dengan sahabatnya ini yang sudah lama sekali tidak bertemu.
"Hei Vivi ya? Astaga sampai aku tidak bisa mengenalimu, kamu dari mana?" tanyanya yang sudah duduk di samping Vivi.
Walaupun ada jarak di antara mereka, sebab bangku di ruangan tersebut adalah bangku single, yang pasti tidak berdempetan.
Tapi membuat pria yang duduk di belakang mereka, merasa sedikit kesal melihat wanitanya terlalu dekat dengan pria lain.
Apa wanitanya? sekarang saja bisa bilang begitu, dari kemarin-kemarin kemana? David langsung melirik tak suka pada Vian.
Sial ternyata wanita ini di luar genit sekali pada pria lain, awas saja nanti kalau sudah sampai di sana.
Gerutunya di dalam hati. sambil menatap sinis pada istrinya dari belakang, walaupun istrinya itu tidak nampak sebab tertutup bangku penumpang.
"Aku kan sudah lama berdomisili disini, jadi ini aku mau pulang sebab ada acara keluarga, pernikahannya sepupuku Natalie." jawabnya masih menatap temannya itu dengan tatapan rindu.
"Oh iya sekarang kamu tinggal disini. pantas saja di bali aku tidak pernah bertemu denganmu lagi, kau tinggal dengan siapa disini?" tanya Vian lagi juga menatap Vivi dengan tatapan yang sama.
Membuat orang di belakangnya langsung berdehem keras, mau tak mau Vian pun menoleh ke belakang sebab bisa melihat David dengan jelas.
Sedangkan istrinya memang tidak bisa melihat ke belakang kecuali kalau dia sedang berdiri.
Vivi hanya memutar bola matanya jengah, mendengar nada intrupsi dari suaminya seolah menegurnya tapi ia tidak peduli dengan peringatan dari suaminya itu.
"Aku sudah lumayan lama di sini 'kan aku ikut suamiku." balas Vivi membuat Vian langsung tercengang sejenak, tak lama ia pun mencoba tersenyum kepada Vivi.
"Oh iya kamu sudah menikah?" tanya Vian masih tidak percaya mendengar jawaban dari temannya ini.
"Oh Sorry aku lupa kalau kamu dulu tidak datang ke acara pernikahanku, kata si Roby waktu itu kamu lagi di negara kanguru benarkan!!"
Vivi masih memandang Vian dengan tersenyum, pastinya temannya itu masih terkejut.
Sial kenapa mereka terus saja mengoceh seperti burung yang tengah menunjukkan bakatnya.
__ADS_1
David semakin kesal saja, ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke toilet yang di sediakan.
Vivi hanya meliriknya saja saat suaminya itu berjalan melewati tempat duduknya, mereka berdua masih asyik mengobrol.
Ada apa dengannya? dia tidak mungkin cemburu bukan? batin Vivi menduga-duga.
...----------------...
Akhirnya Bryan beserta istri dan juga putranya baru saja sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai, tak ketinggalan Felix sang Asistent yang berjalan di belakang mereka.
Bryan menggandeng mesra istrinya sambil menggendong putranya di sebelah tubuhnya.
Sungguh keluarga yang sangat bahagia, dan romantis bila orang lain yang melihatnya.
Mereka pun berjalan ke arah mobil yang sudah di pesan oleh Felix sebelumnya, dan sudah menunggu mereka di Lobby depan.
Setelah masuk semua ke dalam, mobil pun meninggalkan bandara dan menuju ke Villa milik Bryan yang berada di daerah Nusa Dua.
"Dad nanti kita jadi pergi ke Beach 'kan?" tanya Kenzie saat mereka baru saja masuk ke dalam Villa yang memang dekat dengan pantai.
"Nanti kita lihat ya, Dad tidak tahu nanti sore ada acara atau tidak, atau Ken bisa pergi bersama Mom." jawab Bryan sambil menyalakan AC ruangan.
Sebab hawanya memang sangat begitu terik di luar sana, matahari sedang panas-panasnya.
"Thanks Felix kau bisa pergi istirahat." seru Ariell sambil menerima dua koper besar yang baru saja di antar oleh Felix.
...----------------...
Sementara itu di bandara yang sama David dan sang istri juga baru saja mendarat, tapi bedanya mereka tidak nampak seperti pasangan suami istri yang tadi.
Mereka berjalan dengan sedikit berjarak, membuat Vian yang melihat mereka pun tidak tahu bahwa mereka adalah sepasang suami istri.
"Vi ayo aku antar, sekalian aku juga mau mampir ke suatu tempat, jadi kita searah." ajak Vian yang akan menggandeng jemari lentik Vivi.
Tapi gerakan David lebih cepat membuatnya lebih dulu menggandengan jemari istrinya itu.
"Sorry dia istriku, jadi aku bisa mengajaknya pulang sendiri kerumah kami." seru David dengan cepat sambil menarik Vivi dengan sedikit kasar.
Deghh..
__ADS_1
Istrinya? berarti dia?
"Hei tunggu." Panggil Vian dengan berhasil mencekal jemari Vivi yang lainnya.
"Benar apa yang di katakannya barusan itu Vi? dia suamimu?" tanya Vian sedikit memaksa.
Vivi pun hanya bisa mengangguk pelan sembari menampilkan senyumnya sambil mengumpat suaminya itu di dalam hati.
Dasar buaya buntung! mau apa dia sebenarnya? kenapa juga bersikap seperti itu tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.tbc
.Boleh mampir ke karyaku yang lainnya kak, terima kasih.🙏🙏
Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.tbc