
" Mrs, Djandra kita harus mengeluarkan bayinya, ia sudah dalam kesulitan di dalam sana." seru sang dokter yang menangani Ariell.
" Please Bee," pinta Bryan dengan suara seraknya.
" Tenanglah aku ingin mendorongnya sendiri," Ariell meremas tangan suaminya saat mengatakan itu dengan suara yang pelan dan terlihat lemah.
Ariell sudah nampak kepayahan menahan rasa sakitnya, dan Bryan tidak ingin melihat istrinya itu tersiksa lebih lama lagi.
" Sayang please, ada aku disini, lakukan operasi okay?!" bisik Bryan bersamaan dengan air mata meluncur kembali.
Ariell pun mengangguk, " Okay." b
sahutnya akhirnya dengan suara yang melemah.
Bryan tersenyum dan mengecup kening istrinya dengan sayang." Terima kasih Bee."
Dokter yang menangani Ariell langsung mengitruksi kepada para perawat yang membantunya untuk segera menghubungi anastesi, dokter kandungan lainnya dan juga ruangan operasi.
" Kami akan memindahkan anda ke ruang operasi." ujar salah satu perawat kepada Ariell.
Beberapa perawat mendorong brankar keluar dan memindahkan Ariell menuju ruangan operasi.
Dengan Bryan tetap melangkah mengikuti mereka sambil menggenggam erat jemari lentik istrinya itu.
" Mr, Djandra anda harus mengganti pakaian anda dengan pakaian medis terlebih dahulu." seorang dokter menghentikan langkahnya yang akan memasuki ruangan tersebut.
" Daddy." bisik Ariell panik saat ia harus dipisahkan oleh sang suami.
" Sebentar sayang, aku akan segera menyusulmu, " sahut Bryan menenangkankan Ariell.
Dengan cepat pula Bryan berganti berpakaian berwarna hijau yang di berikan oleh seorang perawat kepadanya tadi.
Sesaat kemudian ia sudah disamping istrinya sambil menggenggam jemari Ariell kembali.
" Dad aku takut, " cicit Ariell kini dengan wajah sudah berlinang air mata, seolah kekuatan yang coba ia tunjukkan tadi lenyap tak berbekas.
" Tidak, jangan takut aku ada disini sayang, kalian akan baik-baik saja." sambil menciumi wajah sembab istrinya itu.
Meskipun Bryan sendiri juga takut dan sangat gelisah tapi ia tidak boleh menunjukkannya kepada Ariell.
Ini adalah untuk yang pertama kalinya ia melihat seorang wanita melahirkan secara langsung dan Bryan merasa benar-benar gugup.
Bagaimana jika terjadi sesuatu? bagaimana jika bayinya tidak bisa keluar dan selamat? sekilas pikiran-pikiran negatif itu bermunculan di benaknya dan segera ia enyahkan agar tidak memikirkan yang tidak-tidak.
__ADS_1
Bahkan dulu disaat Ken lahir, dan saat ia baru saja sampai di rumah sakit, baby Ken sudah keluar dan sudah berada di gendongan Omanya Lidya.
" Mrs. Djandra, ahli anastesi akan memasang bius epidural untuk anda dan kita akan melakukan prosesnya." seru sang Dokter.
Wajah Ariell sudah memucat dan ia meremas telapak tangan Bryan sangat kuat di saat kontraksi itu datang kembali.
Matanya mencari-cari dimana wajah suaminya itu berada diantara rasa kesakitan yang ia rasakan saat ini.
Sementara Bryan terus berusaha menenangkan istrinya, dan juga dirinya sendiri. sial melihat istrinya kesakitan bahkan ia hampir kembali menangis tidak tega melihatnya.
" Apa anda bisa merasakan ini Mrs, Djandra?" tanya salah seorang Dokter saat ia siap membedah untuk memulai menyayat perut dan otot rahim Ariell.
Ariell nampak linglung di tanyai seperti itu." Merasakan apa Dok?" tanyanya tidak mengerti.
Yang memang kenyataannya ia tidak merasakan apa-apa selain rasa kontraksi yang kadang datang lalu pergi lagi itu.
" Baik jika anda tidak merasakannya kita akan memulainya sekarang." ujar sang Dokter kembali.
Sambil ia mengintruksi pada Dokter kandungan lainnya dan juga pada perawat di sekitar mereka.
Entah apakah Ariell benar-benar tidak merasakannya ataukah wanita itu hanya berpura-pura saja, keringat bermunculan di seluruh wajahnya sama seperti yang terjadi pada Bryan.
" Sayang, aku sangat mencintaimu." bisik Ariell dengan suara lemah.
Dan Bryan mulai terisak, " Oh Bee, aku juga sangat mencintaimu, bertahanlah untukku sayang okay!" bisiknya terus membelai wajah cantik Ariell yang memejamkan netranya.
Ariell mengangguk lemah. " Mr.Djandra tolong ajak istrinya terus berkomunikasi ya." pinta salah satu Dokter yang mendekat sebelum pergi untuk melanjutkan tugasnya.
" Bee kau tahu saat kau pergi dengan Nando dulu waktu kalian memasak itu " Ariell mengangguk lemah masih memejamkan kedua netranya.
" Waktu itu aku sengaja membuntuti kalian berdua dari kejauhan, dan saat kau berjalan pulang di tengah jalan kau sempat di copet oleh segerombolan pemuda kau ingat 'kan?" Ariell kembali mengangguk lemah.
Dalam hati Bryan begitu khawatir dan menangis tapi ia mencoba tetap tegar.
" Saat kau di copet ada seseorang yang menolongmu memakai hoodie hitam dan juga masker itu adalah aku Bee, aku sengaja menyamar di depanmu." kini netra Ariell terbuka sedikit dan melirik suaminya.
" Iya itu aku, saat kau berteriak memanggilku mengucapkan terima kasih aku tetap berlari walau sebenarnya pada waktu itu aku tersenyum." Ariell tersenyum juga walau hanya sedikit.
Kemudian ia menejam kembali sambil menarik nafas panjang, Bryan mendongak saat ia mendengar suara tangisan bayi yang memekakkan telinga itu menggema di seluruh ruangan yang luas ini.
Bryan memucat dan menganga terpesona menatap putrinya yang baru saja di keluarkan dari dalam perut istrinya.
" Selamat Mr. Djandra anda memiliki bayi perempuan yang sangat cantik." seru Dokter itu sambil tersenyum menatap Bryan.
__ADS_1
Seketika Bryan menghilang dari samping Ariell dan beralih untuk mendekat pada bayi mungilnya yang berwarna merah itu.
Tangannya gemetar saat sang Dokter menyerahkan putrinya, wajahnya tampak merah muda, tertutupi cairan putih dan juga darah.
Anaknya, putri kandungnya, tangis Bryan kembali pecah saat ia menatap lekat wajah cantik baby kecilnya itu.
Wajahnya hampir semua mirip dengannya, mungkin bibir dan alisnya yang mirip dengan Ariell.
Bryan mendekati Ariell yang tampak masih memejam, " Bee lihat dia sangat cantik sepertimu." lalu pandangan Bryan beralih ke wajah istrinya yang tampak terdiam tanpa menjawab ucapannya.
Deg..
" Bee, sayang bangun." suara Bryan terasa tercekat di tenggorokannya saat ia tak mendapati kedua netra istrinya itu terbuka.
Dengan cepat perawat mengambil bayi mereka untuk segera di bersihkan dan segera di tangani untuk dilakukan tindakan selanjutnya.
Seperti menyedot dan menghisap mulut dan juga hidungnya dengan menggunakan alat khusus dan juga membersihkan lendir dan sisa air ketuban agar bayi dapat bernapas sendiri.
Selanjutnya di tes APGAR, lalu memotong tali pusar, di timbang dan di ukur berat badan dan juga tinggi badan serta lingkaran kepalanya, sebelum di serahkan ke Ibu bayi untuk segera di inisiasi menyus*i dini.
Sementara dua Dokter yang menangani Ariell tadi tampak sibuk memeriksa Ibu bayi yang ternyata tidak sadarkan diri.
" Dok tekanan darahnya turun hingga 96 dan suhu tubuhnya juga dingin sekali Dok." seru salah satu perawat yang baru saja memeriksa tekanan darah Ariell.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.tbc
Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..
__ADS_1