Mantanku Hot Daddy

Mantanku Hot Daddy
Bonchap_06


__ADS_3

PoV Ariell.


" Nenek? Nenek kenapa Bu? baiklah Ariell akan kesana sekarang juga." jawabku sedikit panik.


Aku segera mengakhiri sambungan telepon, dan bersiap untuk pergi kesana. aku juga langsung meminta pengasuh Kay untuk bersiap membawa barang keperluan milik Kay.


Setengah jam kemudian aku sudah sampai di kediaman Ibu dan Nenekku, aku segera berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


" Mba ajak Kay segera masuk ya, aku masuk duluan." ucapku dengan cepat langsung turun.


Di dalam rumah terlihat begitu sepi, aku berjalan menuju kamar Nenekku, dari luar aku bisa mendengar suara lirih isak tangis Ibuku karena pintu kamar memang terbuka lebar.


" Sayang kau sudah datang." Ibuku langsung memelukku namun tidak berapa lama.


" Ibu,, bagaimana keadaan Nenek? kenapa tidak langsung membawanya ke rumah sakit saja." seruku dengan tidak sabar karena melihat Nenekku yang seperti sesak nafas, aku semakin panik.


" Bauklah, Ariell dimana Kay dan Kenzie?" tanya balik Ibuku sambil menoleh ke belakang.


Astaga aku sampai melupakan putriku sendiri saking paniknya, karena ingin cepat-cepat melihat bagaimana keadaan Nenekku.


" Kay masih di belakang bersama pengasuhnya Bu, Ibu tenang saja, Ken 'kan memang belum waktunya pulang jam segini. ayo kita bawa Nenek ke rumah sakit saja dulu Bu" titahku sambil mengelus perut buncitku.


" Ya sudah ayo, kamu hati-hati." ucap Ibuku mengingatkanku.


" Aku akan memanggil Imam untuk membantu mengangkat Nenek." seruku sambil berjalan ke depan.


Imam yang kebetulan adalah putra pertama dari Mang Ujang, karena tahu kondisi Ayahnya yang sedang sakit, ia pun langsung memutuskan untuk menggantikan Ayahnya dan meninggalkan pekerjaannya yang juga jadi supir taksi, memang kadang kala kalau kami sedang dalam keadaan mendesak dan butuh supir, Imam pun bisa di andalkan.


Karena aku merasa perutku sedikit kram bagian bawahnya, aku sedikit meringis sambil berjalan mengikuti Ibuku, mungkin aku tadi juga lupa berjalan cepat saat baru saja tiba.


Memang saat terakhir kali aku bertemu dengan Nenekku kondisinya memang sempat drop, namun beberapa hari kemudian sudah bisa beraktifitas kembali, sehingga membuat kami tidak terlalu mengawatirkannya lagi.


Apalagi setelah mendengar kecelakaan yang menimpa Mang Ujang waktu itu, itu pertama kalinya Nenek mengalami sesak nafas.


Mungkin karena memikirkan keselamatan keluarga kecilku yang hampir saja terkena musibah, walau kami selamat dari kecelakaan nahas malam itu, tapi Mang Ujang yang justru mengalaminya.


Dan hingga sekarang kondisi Mang Ujang juga belum sembuh total, ia harus menggunakan kursi roda setiap harinya beruntung ada istrinya yang setia merawatnya.


Kami memang menyediakan tempat tinggal yang tak jauh dari Mansion kami untuk keluarga Mang Ujang, agar keluarga mereka tidak perlu mencari tempat tinggal lagi, karena Mang Ujang sudah lama bekerja ikut suamiku.


Kami sudah sampai di rumah sakit dan Nenekku segera di turunkan dari mobil di bantu dengan beberapa perawat yang bertugas.

__ADS_1


Aku menyuruh Imam untuk kembali ke rumah saja mengajak serta Kay dan pengasuhnya, karena tidak mungkin aku mengajak putriku yang masih kecil itu masuk ke dalam.


Apalagi sebentar lagi Kenzie sudah pulang dari sekolahnya, Kay pun mau menuruti perintahku walaupun di awal-awal sempat merengek karena ingin ikut turun.


Mobil yang di kendarai Imam sudah meninggalkan pelataran rumah sakit, dan aku langsung bergegas masuk dan mencari ruangan UGD bersama dengan Ibuku seusai mendaftarkan Nenekku barusan.


Sesampainya di depan ruangan yang tertutup aku mengajak Ibu untuk duduk di bangku panjang.


" Ibu ayo kita duduk dulu,." ajakku, Ibuku pun mengangguk setuju.


Selang beberapa menit kemudian suamiku juga sudah sampai di sana, karena memang sebelumnya aku sudah menghubunginya saat berada di dalam mobil tadi.


" Bee bagaimana keadaan Nenek?" tanyanya dengan napas memburu, mungkin ia terburu-buru tadi, atau berlari agar cepat sampai.


Aku mendongak menatapnya dengan wajah agak sendu, menatap pria di sampingku, aku duduk sendirian karena Ibuku ijin pergi ke toilet barusan.


" Aku tidak tahu, Nenek masih di tangani di dalam." jawabku menahan tangis, suamiku langsung membawaku ke dalam pelukannya, dan mengusap punggungku dengan lembut.


Entah mengapa aku mudah sekali untuk menangis, atau memang ini pengaruh hormon dari kehamilanku, padahal kami belum tahu bagaimana kondisi Nenek sekarang ini.


Namun aku hanya ingin menangis untuk mengeluarkan rasa sesak yang aku rasakan ini, " Sudah, kasihan mereka ikut bersedih nanti jika Mommy nya tidak berhenti menangis." pinta suamiku sambil mengusap perut buncitku.


" Kita berdoa saja, agar Nenek segera sehat kembali, mungkin ini juga karena faktor umur, jadi kau harus tabah dan sabar lagi. kasihan nanti Ibu juga ikut bersedih jika melihatmu." seru suamiku menasehatiku.


" Bryan, kau sudah datang?" sapa Ibuku begitu sudah kembali dari toilet.


" Iya Bu, baru saja."


Tak berselang lama pintu ruangan itu pun terbuka, dan muncullah seorang dokter. aku, suami dan Ibuku langsung mendekat.


" Bagaimana keadaan Nenek kami Dok?" tanya suamiku.


" Kondisinya sudah lumayan membaik namun masih lemah, untuk lebih jelasnya bisa ikut ke ruangan saya sebentar, setelah ini pasien akan di pindahkan di ruang rawat. silahkan yang mau menjenguk tapi jangan terlalu banyak orang dulu untuk saat ini." jelas sang Dokter pada kami.


Aku dan suamiku pun akhirnya mengikuti Dokter dan memasuki ruangannya, sedangkan Ibu yang akan menunggu Nenek sebelum di pindahkan.


" Silahkan duduk Bapak, Ibu." ucapnya mempersilahkan kami duduk di seberangnya.


" Terima kasih." ucap kami bersama.


" Begini Beliau ini sepertinya mempunyai riwayat penyakit sesak sudah lama, dan penyakit sesak nafas memang sangat umum diderita oleh para lansia, penyakit ini dapat disebabkan oleh beberapa penyakit lainnya dalam tubuh lansia seperti COPD, penyakit jantung dan paru-paru, anemia, melemahnya kekuatan otot, dan rasa gelisah yang berlebihan." terang sang Dokter kami masih diam mendengarkan.

__ADS_1


" Terus terang akhir-akhir ini Nenek kami memang seperti orang yang terus saja gelisah Dok, apalagi semenjak ada kejadian yang menimpa keluarga kami dan hampir saja merenggut keluarga kecil kami, beruntung hanya sopir saya saja yang mengalami musibah itu, dan itu membuat Nenek kami sempat ngedrop Dok, namun Nenek bersikeras tidak mau di bawa ke Dokter, akhirnya beliau hanya meminum obat yang biasa ia konsumsi di rumah. dari situlah beliau menjadi orang yang pendiam." jelasku sedikit tahu dari Ibu dan dari pengamatanku sendiri.


" Baik jadi seperti itu, mengalami gelisah yang berlebihan juga tidak baik dan ini sepertinya adalah Infeksi pneumonia atau radang paru-paru yang merupakan infeksi yang harus diwaspadai. Penyakit radang paru-paru ini umumnya akan memberikan gejala seperti demam, tubuh menggigil, nyeri dada saat bernapas, batuk-batuk dan sesak napas. Namun, pada lansia, tidak jarang gejala tersebut tidak muncul sama sekali, dan penderita hanya merasa lemas dan cepat letih. Kegagalan paru-paru untuk menghirup oksigen dapat memicu pula kegagalan organ lain, seperti jantung dan paru-paru. Infeksi yang fatal ini bukan saja disebabkan kumannya yang kuat, namun juga karena imunitasnya yang menurun dan cadangan fungsi tubuh yang terbatas. Sehingga pemulihan yang lambat juga dapat meningkatkan risiko infeksi berulang." terang Dokter panjang lebar.


Slang beberapa menit kemudian kami keluar dari ruangan Dokter, dan ternyata Nenek sudah berada di ruang perawatan, kami segera masuk dan menjelaskan kondisi Nenek pada Ibu.


" Ya mungkin ini juga karena faktor usia Nenek, kita harus menerimanya. ya sudah kalian pulanglah dulu, biar Ibu yang menunggu Nenekmu, kasihan anak-anak di rumah sudah hampir malam kalian belum kembali juga." pinta Ibuku.


Akhirnya kami mengangguk dan segera kembali pulang, kasihan anak-anakku. mobil pun melaju sedikit kencang meninggalkan rumah sakit.


Saat di tengah perjalanan aku merasa mobil yang kami tumpangi ini jalannya agak aneh, suamiku pun juga merasakannya.


" Sayang ada apa dengan mobilnya? kenapa jalannya seperti ini?" pekikku sedikit panik.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


tbc


Thank's yaa sudah mampir baca, maaf kalau masih banyak typo.


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2