
" Sebenarnya kita akan pergi kemana Daddy?" rupanya Ariell masih ingin tahu arah dan tujuan Bryan mengajaknya pergi selarut ini, bahkan ini sudah hampir pagi.
Setelah memakai pakaian mereka kembali, Bryan melajukan mobilnya menuju Mansion.
" Lho kau bilang tadi akan mengajariku mejadi hewan buas, kenapa kita balik lagi? atau jangan-jangan memang itu akal modusmu, dasar ya!!" Ariell mendumel sepanjang jalan.
Sedangkan Bryan hanya terkekeh menanggapi, selain istrinya semakin pintar memegang kendali saat mereka sedang bertempur, ternyata juga semakin bawel dan cerewet, atau jangan-jangan benar yang di katakan Nenek kalau calon baby nya itu memanglah perempuan.
Berarti sama seperti keinginannya, " Sudah ayo turun, kamu semakin cerewet sekali sih." ajaknya turun dari mobil.
...----------------...
" Berhenti disitu, biar aku yang mengambilkannya." seru Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Ariell hanya memutar bola matanya malas, dan ia baru saja bangkit dari sofa untuk mengambil air minum, lalu apa, ia pun kembali bersandar seperti orang pesakitan.
Usia kandungannya sudah memasuki lima bulan lebih sekarang, dan setiap hari suaminya itu menjadikannya seperti kambing yang kerjanya makan tidur dan bermalas-malasan.
Pria itu melarang hampir semua kegiatan fisik meski itu hanya sekedar mengambil air minum atau mengambil remot saat suaminya ada di sekitarnya.
Tentu saja Ariell sempat protes, akan tetapi pria itu tidak menggubris protesnya, sebab ia pernah mengalami kontraksi mendadak sesaat setelah kepulangan mereka dari menghadiri acara resepsi Nando dan Val di LN.
Dan Dokter mengatakan jika selama dua minggu dirinya harus bed rest, dan itu membuat Bryan semakin bersikap menyebalkan dengan melarang melakukan kegiatan ini itu.
Apa yang boleh di lakukannya hanyalah duduk bersandar di sofa atau ranjang yang empuk, dan memperhatikan Ken bermain jika sudah pulang dari sekolah Paudnya.
Saat Bryan di kantor atau sedang pergi keluar, pria itu akan menyuruh maid menjaganya, ya seperti Bryan katakan sebelumnya suaminya itu akan menambah dua orang maid untuk menjaga dirinya juga menjaga Ken, di saat Mama Lidya kadang pergi terbang ke kota putra pertamanya.
Walaupun ada Bibi yang selama ini ikut membantu menjaga Ken, tapi Bryan tetap besikeras dengan keinginannya itu.
" Bayi ini akan menjadi anak yang malas yang pernah ada, sebab Ibunya tidak pernah bergerak sepanjang kehamilannya." sungut Ariell sembari menerima gelas yang Bryan ulurkan padanya.
" Tidak akan, dia akan seaktif kakaknya walaupun dia anak yang manis dan cantik." balas Bryan sambil duduk di sisi istrinya.
Baby mereka memang perempuan saat terakhir kali mereka memeriksakan kandungan Ariell d
sekaligus mencari tahu jenis kelam*n baby mereka.
__ADS_1
" Bagaimana bisa kau menyuruhku duduk sepanjang hari sampai kandunganku sudah sebesar ini, aku layaknya orang yang lumpuh Bryan." sungutnya lagi.
" Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian." jawabnya dengan wajah muram.
Ariell tersenyum dan membuka kedua lengannya meminta suaminya itu memeluknya, dan pria itu berbaring di sampingnya meringkuk di pangkuan istrinya , sementara kedua tangannya melingkar di pinggang yang sudah tidak seramping dulu sementara wajahnya terbenam di perut Ariell yang gemuk itu.
" Hay Baby girl Daddy, kamu lagi ngapain?" tangan Ariell mengusap-usap rambut tebal suaminya itu yang sedang berinteraksi dengan calon baby mereka.
" Apa? kau kangen dengan Daddy? ingin Daddy tengokin ya?" sambil tersenyum Bryan menjawab ucapannya sendiri, membuat Ariell terkekeh pun mendengarnya.
" kalau itu emang kau yang menginginkannya, dasar!!" Ariell memukul pelan bahu suaminya, Bryan ikut terkekeh.
Dan orang hamil itu tidak selemah itu sayang, kau tahu kenapa kami para wanita yang di pilih untuk mengandung? karena kami kuat dan bisa menjaga janin yang ada di dalam perut kami, hanya mengambil air minum tidak akam membuatku kelelahan." jelas Ariell.
Bryan mendongak menatap wajah istrinya." Aku selalu ketakutan membayangkan akan terjadi apa-apa padamu, apa kau pikir aku akan tega saat melihatmu muntah-muntah setiap pagi selama tiga bulan penuh? apa kau pikir aku tidak kesakitan saat kau mengalami kontraksi mendadak seperti dulu itu." lirih Bryan merasa bersalah.
Ariell memang merasa kehamilannya ini membuat dirinya menjadi bersikap manja, ia mual dan muntah setiap pagi selama tiga bulan penuh dan tidak bjsa mencium bau-bauan yang aneh, dan hampir kepayahan saat bangun dari tidurnya.
Ariell menunduk dan mencium bibir suaminya." Aku sudah baik-baik saja sekarang, kau lihat 'kan aku sudah tidak mual dan muntah lagi setiap pagi, wanita hamil juga harus banyak bergerak dan berolah raga agar memudahkannya saat nanti melahirkan."
Bryan diam dan memandanginya lama, mungkin sedang berpikir dan mempertimbangkan apa yang barusan ia katakan.
Ariell pun tersenyum penuh kemenangan," Iya aku janji, sekarang bangunlah, aku akan pergi ke kamar sebelah untuk menata ulang letak kamar baby kita." ucapnya masih tersenyum.
" Aku bilang tidak ada kegiatan yang berat Bee," protesnya lagi.
" Itu tidak berat, aku hanya akan menggeser-geser bantal dan beberapa boneka yang berada di atas ranjangnya."
Setengah mengeluh akhirnya Bryan mengijinkannya, " Ayo aku bantu." Ariell tersenyum mendengar itu.
...----------------...
Bryan dan Ariell sedang berbaring sambil mencari nama untuk baby mereka, bersama dengan Ken di tengah-tengah mereka.
" Ken sayang kau ingin adik perempuan yang cantik seperti kakak Calis?" tanya Ariell sambil memandang putranya yang sedang memainkan robot kecilnya itu.
" Yes Mom, Ken akan mengajaknya bermain bola." jawabnya enteng.
__ADS_1
" No, adik Ken itu perempuan *So*n, jadi tidak bermain bola, ajak dia bermain boneka atau menggambar." timpal Bryan masih terus menatap gadget pipihnya.
Masa-masa itu terjadi di kehidupan masa lampau mereka, saat mereka berdua sempat berpisah, lalu mengalami banyak hal yang terjadi, sampai mereka berdua disatukan kembali dalam satu ikatan pernikahan.
Kehidupan yang bahagia yang ia jalani sekarang membuat Ariell mengenang masa-masa dulu, bahkan terasa seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.
" Apa yang kau pikirkan? kenapa kau menangis?" tanya Bryan sambil meletakkan benda canggihnya itu di atas nakas samping ranjang tidurnya.
Tangan Areill terangkat untuk menghapus air matanya yang tidak sadar kapan ia meneteskannya, sambil ia menatap Ken yang sudah tertidur pulas di sampingnya.
Satu tangan kecil Ken berada di atas perut buncitnya, lalu ia beralih menatap suaminya yang akan beranjak mengangkat tubuh putranya itu untuk di pindahkan ke kamarnya sendiri.
" Hanya mengingat saat aku menjalani kehidupanku tanpamu, dulu bahkan aku hanya bisa bermimpi untuk menjalani kehidupan seperti sekarang ini." lirihnya.
Membuat Bryan mengurungkan niatnya dan berjalan mendekat pada Ariell lalu meraih kepala istrinya itu untuk di letakkan di dadanya, seperti biasa detak jantung suaminya itu selalu membuat Ariell merasa tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mendekati happy ending ya man-teman.
Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..