
"Bryan mengalami koma".
Satu kalimat itu yang selalu menggangu pikhirannya saat ini. membuat tatapan Ariell kosong, saat mendengar jawaban yang terlontar dari mulut abangnya saat ia baru saja tersadar.
Kini sudah seminggu berlalu kondisi fisik Ariell sudah mulai membaik, tapi ia terus saja memaksa ingin melihat kondisi Bryan walaupun kondisinya masih belum pulih betul.
Mau tidak mau Ibu Ayu pun mengantarkannya ke ruangan dimana Bryan berada yang masih terbujur lemah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Bryan maafkan aku, karena kamu terlalu sibuk melindungiku dengan terus mendekapku agar keadaanku tidak terlalu parah, sampai kau bahkan mengabaikan kondisimu sendiri yang saat itu sudah menahan kesakitan, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai kamu kenapa-kenapa. Ucap Ariell dalam hati.
Ariell hanya bisa memandangi tubuh Bryan yang sambil tangannya menyentuh pembatas kaca antara ruangan Bryan dengan dirinya.
"Sayang kau disini rupanya?" tanya Nando yang baru saja masuk ke dalam ruangan Bryan." Semoga dia cepat melewati masa kritisnya ya, dan segera sadar kembali." Nando pun ikut memandang Bryan di balik kaca.
"Nando kamu datang, maaf aku hanya ingin melihat keadaanya saja." balas Ariell sedikit merasa tidak enak pada Nando seperti kepergok sedang berselingkuh sekarang ini.
Ariell tidak tahu saja, apa yang dia dan Bryan lakukan di penthouse-nya malam itu malah lebih parah dari ini, mungkin dia memang tidak tahu, atau mungkin Bryan memang sengaja tidak memberitahunya pagi itu.
Kalau sampai tahu bisa gawat, mungkin ia tidak akan mau di antar pulang atau bahkan melihat wajah Bryan lagi, karena saking malunya malam itu ia yang berusaha untuk mencoba memp****sa Bryan.
Sungguh Ariell seperti wanita j*****g saja malam itu, yang begitu liar di mata Bryan, beruntung Bryan tidak tergoda pada bisikan-bisikan para lelembut waktu itu. kalau tidak entahlah..
"Ayo kita kembali, kamu juga perlu istirahat," pintanya sambil tersenyum pada Ariell. "Biar Nando yang mendorongnya Tan." Nando mendorong kursi roda yang di duduki Ariell memasuki ruangan inapnya.
Katakanlah Nando saat ini egois, tapi ia hanya ingin memperjuangkan cintanya, entah sampai kapan cintanya terbalaskan? mungkin jika rasa jenuh itu sudah menghampirinya, baru ia akan berhenti.
Sekarang selagi calon istrinya itu sedang sakit, ia berusaha untuk membantu merawatnya semampunya.
...----------------...
"Gimana Felix kau sudah mendapatkannya bukan?" tanya Armand yang baru saja masuk dan langsung duduk di sofa di dalam ruangannya Felix.
"Ini tuan." jawab Felix sambil menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran sedang pada Armand.
__ADS_1
Armand langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan isi dalamnya sambil tersenyum menyeringai." Kena kau!" ucapnya saat menemukan apa yang ia cari beberapa hari ini.
"Kalau kau tidak sibuk ikutlah denganku." setelah mengucapkan kalimat itu pada Felix, Armand langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar meninggalkan hotel milik sahabatnya.
Yang ternyata Felix pun mengikutinya dari belakang, " Apa yang akan anda lakukan setelah menemukannya tuan?" tanya Felix saat mereka sudah masuk ke dalam mobil miliknya.
"Setelah memburu mangsa tentu saja, aku akan memakan buruanku," jawabnya tersenyum penuh arti hanya dirinya saja yang tahu arti senyumannya itu.
Membuat Felix mengerutkan keningnya tidak mengerti bukan karena senyum itu tapi dengan kata 'memakannya', terlihat mengerikan tapi juga bisa mengenakan.
Felix melirik sekilas pada sahabat bosnya ini dari samping bangku kemudi." Ada apa?" tanya Armand yang memang tahu dia sedang di lirik oleh asisten sahabatnya ini.
Felix hanya menggeleng pelan sambil fokus mengemudi menatap ke depan," Aku tahu banyak tentangmu Felix, kau pun dulu juga senang berkelahi bukan, sampai kau masuk ke dalam lingkaran hitam, dan Bryan-lah yang menyelamatkanmu." membuat Felix terkesiap langsung menoleh menatap Armand.
Tidak menyangka seorang Armand bahkan tahu sepak terjangnya dulu di negaranya sana.
Armand terkekeh melihat raut wajah terkejut yang di perlihatkan Felix padanya, walaupun ia sudah mengenal Felix selama ia menjadi asisten Bryan.
Tapi ia hanya diam saja, tidak pernah membahas masalah pribadi Felix selama ini, karena itu bukan urusannya.
Kurang lebih hampir empat puluh menitan perjalanan yng mereka tempuh, kini mereka sudah berada di sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dengan pantai.
"Waahh, ternyata dia memang hoby berperang dengan para bule yang terlihat di dalam photo-photonya, begitu banyaknya ia keluar masuk ke dalam hotel yang dekat dengan pantai." seru Armand saat mereka baru saja turun dari mobil.
Felix nampak bergeming tanpa ingin merespon ataupun menjawab perkataan yang terlontar dari sang Rocky's ini.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam hotel, berjalan menuju resepsionis sambil membawa sebuah ransel berpura-pura menjadi tamu untuk menyewa sebuah kamar yang berada di lantai lima tempat dimana buruannya kini juga menyewa kamar di lantai itu.
"Thank's cantik." ucap Armand sedikit menggoda sang resepsionis wanita itu sambil menerima kunci kamar yang sudah mereka pesan.
Membuat Felix langsung memutar bola matanya jengah sambil mengikuti langkah sang detektif itu menuju ke dalam lift.
Tidak bisakah dia tidak mengumbar kemesumannya di saat seperti ini, begitu mirip Kyle dan Andrew saja, selalu genit pada wanita cantik. Felix membatin sambil menggeleng pelan.
__ADS_1
"Apa dia sekarang ada di dalam kamarnya tuan? karena sepertinya dia sedang menikmati sunset bersama dengan seseorang." ujar Felix sambil ikut melangkah keluar dari lift dan berjalan menuju kamar mereka.
"Ya anak buahku sedang membuntuti mereka yang tengah berperang, sebentar lagi pasti mereka akan kembali ke kamarnya." jawab Armand ambigu.
Tengah berperang? berperang melawan siapa maksudnya ini? pikhiran Felix mengira-ngira, sebab mereka datang bukan ingin berperang melainkan sedang berburu mangsa.
Armand yang tahu Felix tengah berpikhir dengan kata-katanya barusan, seketika tawanya langsung menggema di seluruh ruangan kamar itu.
"Kau sebaiknya jangan banyak berpikhir tentang semua apa yang aku katakan, kau masih di bawah umur dude." jelas Armand yang masih saja tertawa mengejek.
Felix mendengus kesal, ia tidak terima jika ia di katakan masih di bawah umur, umurnya saja sudah seperempat abad. bahkan kalau mau mengadon, pasti adonannya itu langsung menjadi bayi manusia, bukan kue bayi.
Tidak ingin memperpanjang, Felix langsung membuka gorden jendela untuk mengecek keadaan luar.
"Kenapa kau membuka gordennya?" tanya Armand terlihat tidak suka membuat Felix menutup kembali gorsen itu.
"Kenapa kau tutup kembali!"
Astaga bisa pecah kepala Felix jika berlama-lama dengan orang macam Armand ini, detetif tapi kok cerewet sekali. itulah yang ada di pikhirannya saat ini.
Felix menghembuskan nafas kasarnya berulang kali menahan kesal, ia pun akan masuk ke dalam kamar mandi karena memenuhi panggilan alam.
"Hei kau jangan mandi, awasi di depan pintu, agar kita tahu mereka sudah kembali." teeiak Armand tapi sudah tidak di hiraukan oleh Felix ia menutup pintu kamar mandi dengan sedikit kencang.
"Astaga, kenapa dia? apa dia marah padaku?" Armand sampai kaget mendengar cara Felix menutup pintu dengan keras.
Tidak lama waktu yang mereka tunggu pun tiba, mangsa mereka mulai berjalan masuk ke dalam kamar yang tepat berada di depan kamar yang di sewa oleh Felix dan Armand sekarang.
Tidak ingin menunggu waktu mereka berdua langsung mendobrak pintu kamar itu dengan kerasnya.
Bruuuaaakk..
Tendangan maut dari keduanya membuat pintu kamar itu langsung terbuka lebar, dan membuat mereka berdua yang tengah berbaring di ranjang saling menindih terkejut sampai sang wanita mendorong keras tubuh sang pria sampai tersungkur di lantai sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
Untung saja mereka belum bermain kuda-kudaan, pasti langsung bengkok itu senjata sang prianya, karena saking terkejutnya di grebek. (😂😂😂)
"Apa-apaan kalian?!!"