
Suara sirine Ambulance terdengar begitu mengerikan hingga membuat seseorang merinding mendengarnya.
Mobil Ambulance itu memasuki pelataran rumah sakit besar di kota tersebut.
Beberapa perawat segera membantu untuk membawa pasien yang baru saja mengalami kecelakaan tunggal malam tadi.
" Pasien kehilangan banyak darah, tolong segera transfusi darahnya sust." pinta sang Dokter sambil terus memberikan tindakan yang cepat di ruang UGD.
Sementara itu di tempat lain, seseorang beringsut turun dari atas ranjang dengan sangat pelan tak ingin menganggu yang masih tidur terlelap.
Kemudian ia berjalan ke kamar mandi sambil mengangkat telepon di ponsel gengamnya yang sedari tadi bergetar.
" Ya Hallo, siapa ini?"
"...."
" Astaga bagaimana bisa terjadi? baiklah saya akan segera kesana." ucapnya pelan namun sedikit panik sambil menutup panggilan tersebut.
Lalu dia pun bergegas keluar rumah dengan cepat tanpa memperdulikan penghuni rumah lainnya, sebab hari sudah sangat larut.
Sesampainya di rumah sakit ia langsung berjalan menuju ruangan UGD dan menunggu beberapa menit di luar.
Tak lama beberapa polisi berjalan mendekatinya. " Permisi dengan Tuan Djandra?" seru salah seorang polisi.
" Ya saya sendiri, bagaimana Pak?" jawab Bryan sambil beranjak bangun dari duduknya.
" Di mohon untuk kerja samanya, Tuan bersedia ikut dengan kami ke kantor untuk mengetahui secara detailnya." seru sang pemimpin dari mereka.
" Baiklah."
Akhirnya Bryan keluar kembali dari rumah sakit, dan menuju mobil milik Ibu mertuanya itu, mengikuti mobil polisi dari belakang.
Sesampainya di kantor polisi, Bryan langsung duduk di depan para polisi tadi yang mengajaknya, tak lama Pras assisten barunya juga datang, yang baru saja ia hubungi melalui telepon.
Bryan memang memberi gawai pintar miliknya itu yang khusus kepada Pras, itu juga yang di pakai Felix dulu, jadi ia sangat hafal nomor gawainya sendiri.
Bryan pun meminta ijin untuk memakai telepon yang ada di atas meja di depannya tersebut.
" Sebelumnya mobil itu dalam kondisi baik-baik saja Pak, supir saya juga merasa tidak ada sesuatu yang mengganjal." jawabnya.
" Begini Tuan, dugaan yang sangat kuat, kecelakaan ini di akibatkan oleh selang rem yang putus atau sengaja ada orang yang memutusnya, sehingga kecelakaan ini bisa terjadi." jelas sang Polisi.
Bryan langsung mengernyit bingung, " Selangnya sengaja di putus?" tanyanya menatap ke arah mereka.
" Mungkin saja saat semuanya berada di dalam rumah, tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke pekarangan lalu memutus selang tersebut." sahut salah satu polisi.
Bryan mengangguk pelan, " Bisa jadi Pak, di rumah Ibu mertua saya memang tidak ada petugas yang menjaga rumahnya di depan."
Mereka terus bertanya jawab seputar kejadian yang menimpa Ujang sang supir yang mengalami kecelakaan tadi malam.
Hingga menjelang pagi baru selesai, dan Bryan pun bangkit setelah di rasa dirinya sudah selesai di mintain keterangan.
__ADS_1
"Baiklah anggota kami juga masih melakukan olah tkp disana, dan nanti kami akan segera meluncur ke rumah Tuan."
" Dan terima kasih atas kerja samanya," Bryan membalas uluran tangan polisi tersebut.
Pras pun melakukan hal yang sama. " Baiklah, kami akan menunggu di rumah kalau begitu." ujar Pras.
Bryan dan Pras bergegas keluar, " Pras tolong kau pergi ke rumah sakit, aku yang akan menangani yang di rumah." titahnya dan langsung di angguki oleh sang assisten.
...----------------...
Sesampainya di rumah Bryan langsung di berondong pertanyaan yang bertubi dari sang istri juga Ibu mertuanya.
Sebab saat Bryan keluar rumah dan melajukan mobilnya, Ariell terjaga dari tidurnya.
Membuatnya bingung ada apa dengan sang suami yang tiba-tiba saja keluar rumah di larut malam begitu.
" Kau dari mana saja? kenapa tengah malam keluar rumah? apa yang kau sembunyikan dariku? kau tidak sedang_?" desak Ariell dengan sedikit berteriak dan yang sudah mulai berkaca-kaca.
Sudah sedari tadi ia terus gelisah, mikirkan kemana suaminya itu pergi di tengah malam buta.
Ia berjalan mondar-mandir di kamar, keluar masuk hingga membuat Ibu Ayu ikut terjaga.
Mencoba menghubungi ponsel suaminya tapi ternyata benda itu tergeletak di aras nakas samping ranjang, membuatnya semakin gelisah.
Dan mencoba memeriksa isi dalamnya ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal, hatinya semakin mencelos saja.
Wanita yang sedang mengandung memanglah sangat sensitif, itulah yang di rasakan oleh Ariell saat ini.
" Maaf Bee, semalam itu aku mendapat kabar kalau Mang Ujang mengalami kecelakaan sepulang dari sini. itulah aku langsung bergegas pergi tidak ingin membuat tidurmu terganggu." jelasnya dengan sungguh-sungguh.
" Astaga, lalu bagaimana keadaannya? lalu kenapa ponselmu tidak kau bawa?" ujarnya kembali sedikit menurunkan nada suaranya.
" Maaf aku tadi terburu-buru berganti pakaian, hingga melupakan ponselku yang aku letakkan kembali di nakas, maaf sayang." terangnya.
" Sekarang masih di UGD, ada Pras yang menunggunya di sana."
" Astaga kasihan mang Ujang, syukurlah kalian menginap di sini semalam." seru Nenek Dhisa sambil menyodorkan segelas air hangat kepada cucu menantunya tersebut.
Dan di sambut Bryan dengan tersenyum, ia memang mwrada haus sekali, karena sejak ia bangun hingga sekarang ia sana sekali belum minum.
" Terima kasih Nek."
" Iya, apa mungkin Kay menangis dan tidak mau di ajak pulang itu karena kejadian itu?" ujar Ariell sambil menatap putrinya yang terlelap berada di gendongan sang Nenek.
Karena saat dirinya sedang gelisah tadi, Kay sempat rewel walauoun sebentar, ikatan mereka sungguh kuat.
" Mungkin saja sayang, anak kecil itu batinnya lebih kuat, mungkin Kay bisa merasakannya akan terjadi sesuatu yang akan terjadi." celetuk Nenek Dhisa.
...----------------...
Di tempat lain sesorang sedang kesal. amat-amat kesal setelah mendengar kabar dari orang suruhannya jika rencananya gatot alias gagal total.
__ADS_1
" Kalian ini bagaimana sih, kerja begitu saja tidak becus. kalian tidak akan menerima apapun sepersen pun dengar itu." ucap lantang seorang wanita.
" Om jangan kasih bayaran kepada mereka berdua, dasar tidak berguna.!" lanjutnya kembali.
" Sudah kalian pergi sana, pastikan pergi yang jauh jangan kembali lagi ke sini, pasti sebentar lagi polisi akan segera mencari keberadaan kalian.!" titah Bram menggelegar.
" Kau tenang saja sayang, kita akan cari waktu yang tepat, dan yang pasti tidak akan meleset kali ini."
Bujuknya sambil tangannya yang hampir keriput itu bergeriliya kemana-mana di seluruh tubuh wanita tersebut.
" Om janji 'kan? aku tidak akan tenang jika dendam Kak Lisa belum terlaksana."
Bram tersenyum sambil mencium pipi wanita mudanya itu. " Tentu saja kau tidak perlu meragukan Om."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
.Maaf sebenarnya Author mau buat kasus penculikan saja pada mereka, entah kenapa tiba-tiba kecelakaan mobil melintas di pikiranku.
Apalagi setelah berita viral yang menghebohkan di negara kita ini, karena waktu itu Visual Valeria sempat VA yang akan menjadi pasangan Nando.
Secara NT dan VA 'kan sempat serasi walaupun itu masa lalu, namun entah kenapa aku mempunyai perasaan kasihan terhadap VA ini, membuatku menggantinya dengan CL.
Maaf soalnya masih tak menduga saja hingga detik ini masih terbayang kecelakaan yang menewaskan sepasang suami istri yang terlihat bahagia tersebut.
Apalagi awalnya aku akan membuat cerita kecelakaan yang akan ada salah satu di antara mereka berdua yang berada di dalam mobil itu.
Nasib anaknya membuatku tak tega bagaimana dengan nasib Kenzie dan Kaylee nantinya di cerita ini.😭😭😭
*Thank's yaa sudah mampir baca, maaf kalau masih banyak typo.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1