Mantanku Hot Daddy

Mantanku Hot Daddy
Chapter 28


__ADS_3

"Papi, aku sungguh tidak ingin menikah dengan pria itu, cukup Kak Fay yang menjadi korbannya, please bantu Bonee bicara pada tante Lidya Pap.!!" rengek Bonita sedikit kesal pada Papinya.


"Kamu kan tahu sendiri gimana tante Lidya itu sama kamu, dia begitu menyayangi kamu lho sejak kecil, sama seperti kakakmu juga yang begitu di sayangi oleh mereka.." Jelas Bram Papi Bonita.


"Dan satu hal yang harus kamu tahu, Kakak kamu itu bukan korban disini sayang, dia begitu mencintainya sejak dulu sampai akhir hidupnya, terus Papi bisa apa, kamu pikhir Papi ini tidak hancur melihat putrinya di ambil lebih dulu." tambah Bram dengan wajah nampak begitu sedihnya.


Bila mengenang putri sulungnya Bram begitu pedih sesak rasanya di dada, ia masih belum terima kenapa secepat itu Tuhan mengambil putri manjanya.


Bonita yang melihat Papinya sedih menjadi tak enak hati, ia langsung memeluk Papinya." sorry Pap."


Bonita jadi teringat pada Kakak perempuannya. Kak Fanya dia wanita yang ceria, selalu menyayanginya, walaupun sifat manjanya itu selalu membuatnya kesal.


Kakaknya itu, dia wanita yang manja kepada Papinya dan juga pada om Hadi, apalagi ke pria dingin itu.


Semenjak kepergian sang Mami, Papinya selalu mengurung diri di kamar atau bepergian menyibukkan diri pada pekerjaannya.


Maminya meninggal karena mengidap penyakit bawaan dari keluarganya, saat itu Bonita masih berusia lima tahun, sedangkan Fanya berusia tujuh tahun.


Dan keluarga Djandra lah yang selama ini ikut merawat mereka yang masih kecil kecil, mereka tumbuh bersama semenjak saat itu, kakak beradik itu hampir setiap hari di rumah keluarga Djandra.


Orang tua Bryan sangat mencintai dan menyayangi Fanya dan Bonita sebab mereka tidak mempunyai anak perempuan. jadi mereka di anggap seperti putrinya sendiri.


"Kamu begitu ngotot tidak ingin menikah dengan Bryan karena apa, apa kerena kamu sudah mempunyai kekasih.?" tanya Bram menatap curiga pada putrinya.


Bonita langsung gelagapan mendengar pertanyaan dari Papinya yang tiba tiba, jangankan kekasih teman pria saja dia tak punya bagaimana bisa mempunyai kekasih.


Bonita diam sambil berpikhir bagaimana kalau dia berbohong kali ini, supaya rencana pertunangan ini bisa gagal.


Yah sepertinya itu alasan yang tepat. Bonita pun mengangguk sambil tersenyum. "Kenapa diam malah senyum senyum begitu, lagi mikhirin hal bodoh apa kamu ?" skakmat Papi nya ini benar benar seperti malaikat yang bisa membaca pikhiran orang.


Bonita menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa bingung, haruskah jawab jujur atau berbohong pada Papinya. " Iya Bonita sudah mempunyai kekasih Pap." akhirnya jawab cepat Bonita tanpa ada rasa gugup.


"Benarkah kau tidak sedang berbohong kan Bonee, jawab dengan jujur.?" tentu Bram tahu jika putrinya sedang berbohong, tidak semudah itu ia di bodohi. apalagi oleh putrinya sendiri.ckck.


Bonee terlihat menghembuskan nafas dengan kasar, "Tentu saja benar Papiku sayang, Bonee gak bohong." jawabnya sambil mengangkat dua jari tanda serius.


Bram tampak terdiam menatap tajam pada bola mata putrinya. "Okay, kalau bagitu minggu depan kenalkan pada Papi kekasihmu itu. jika memang benar kamu tidak sedang berbohong pada Papi." tantang tegas Bram tak terbantahkan.

__ADS_1


Astaga.!!! Mati lah aku, bagaimana ini, harus cari dimana pria yang mau berpura pura jadi kekasihku. terkutuklah kau Bonee kenapa harus berbohong.!!gerutunya bingung sekarang, tiba tiba mendapatkan ide berliant.


"Baik siapa takut." tantang Bonee balik pada Papinya.


"Tapi Pap kita minggu depan kan mau berkunjung menemui cucu Papi yang ganteng itu, jadi batal nih.?" tanya Bonee yang baru mengingatnya.


"Benar juga, padahal Papi sudah mengkosongkan jadwal lho untuk ke sana. baiklah setelah kita pulang dari sana, baru kau kenalkan pada Papi." setelahnya Papinya meninggalkan putrinya masuk ke dalam kamar mandi.


Pokoknya dalam waktu kurang dari seminggu ini aku harus bisa mendapatkan seorang pria yang masuk dalam kriteriaku. Bonbon fihgting. ucapnya dalam hati menyemangati diri sendiri.


...----------------...


"Kirain kamu udah lupa sama kakak Bray, secara kamu udah lama gak berkunjung kesini." seru Fredly kakak Bryan yang menyambut kedatangan tiba tiba adiknya itu.


"Sorry Kak, masih sibuk kemarin kemarin, baru selesai juga soal masalah hotel yang hampir colaps itu." balas Bryan langsung duduk di meja makan.


"Hello uncle dimana Ken, apa kau tak mengajaknya..?" tanya Calista putri sulung Fredly pada Bryan yang duduk di sampingnya.


"Haii cantik, sorry uncle baru bisa main, iyaa sorry Ken sama Oma di sana. uncle ada pekerjaan kemarin jadi tidak bisa mengajak Ken kesini, kapan kapan uncle pasti akan mengajaknya okay." ucap Bryan sambil mengelus puncak kepala keponakannya.


" I'm Promise princees" jawab Bryan sambil mencubit hidung kecil milik ponakannya dengan gemas.


"Mana Kak Belinda Kak..?" tanya Bryan kini pada Kakaknya.


"Masih di kamar, mandiin si kecil. oh iyaa kamu ada pekerjaan apa di sini..?" tanya Fredly sambil memakan sarapannya.


"Adalah sedikit urusan sama kawan,, udah besar ni pasti Romeo..?" tak lama terdengar suara celoteh bayi dari arah belakang.


"Tuh, orangnya nongol sama babynya juga baru aja di omongin." seru Fredly yang melihat sang istri sudah cantik sambil menggendong baby Romeo yang terlihat gendut.


"Aduh ada tamu toch pagi-pagi, tamu tak di undang, datang-datang langsung sarapan." ejek Belinda pada adik iparnya.


Bryan hanya tersenyum simpul seperti biasanya pada kakak iparnya, setelahnya pandangannya beralih pada bocah yang super gendut. "Hello baby boy astaga gendutnya kamu, di kasih makan apa coba sama Mama Papamu, leher sampai tidak kelihatan." gerutunya sambil mengambil alih baby Romeo dari gendongan Mamanya.


"Dia hanya minum asi, belum mau makan sesuatu apapun, bahkan biskuit saja dia tidak mau." seru Belinda yang melihat baby Romeo yang memang sudah berusia 10 bulan.


"Harusnya sudah makan MP kan umur segini, tapi kasian juga kalau nanti badannya tambah besar lagi, bisa kena obesitas ini." Bryan mencium pipi gembul bocah kecil itu.

__ADS_1


"Huusstt kamu ngomong apaan, doain kok yang jelek buat ponakan sendiri." Fredly kesal yang tak terima putranya di katakan kena obesitas walaupun itu adiknya sendiri.


"Sorry kak Bryan tak bermaksud begitu, hanya becanda tadi,,aiichh salah lagi." gerutunya sambil menyerahkan baby Romeo pada kakak iparnya, sebelum melangkah masuk kedalam kamar yang ia tempati dulu.


"Sudah-sudah kalian ini kok malah bertengkar gak malu tuh sama Calista, ayoo di habisin sayang makanannya." Seru Belinda beralih pada putinya.


Bryan membuka kunci pintu lalu memasuki kamar yang ia tempati dulu saat masa kuliah, ia selalu mengunci pintu ini jadi tidak ada yang bisa masuk sembarangan.


Begitu baru masuk terlihat begitu banyak foto foto di dinding nakas, bahkan di dalam laci nakas pasti banyak sekali.


Bryan tersenyum sambil mengingat kembali kenangan indahnya dulu bersama sang mantan kekasih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.tbc.


Ayooo bentar lagi kita akan kembali ke masa lalu mereka yaa...


tunggu cerita selanjutnya..


jangan lupa like, koment dan rose nya..


thaks u all...

__ADS_1


__ADS_2