Mantanku Hot Daddy

Mantanku Hot Daddy
Chapter 83


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar khusus yang tidak begitu besar, dengan pencahayaan yang terlihat redup dengan warna merah itu.


Seorang pria paruh baya baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah membersihkan dirinya, dari sisa-sisa cairan lengket yang keluar dari hasil pertempurannya dengan salah satu peliharaannya.


Sambil melirik ke atas ranjang dan melihat seorang wanita yang masih memejamkan kedua netranya dengan keadaan yang masih polos tanpa busana.


Pria itu hanya meliriknya saja tanpa mau mendekat bahkan enggan untuk menutup tubuh yang di penuhi peluh dan juga ada banyak luka goresan akibat ulahnya.


Tanpa berucap apapun ia berjalan keluar dari kamar dan melihat beberapa anak buahnya yang berdiri di depan pintu dan menunggu perintah darinya.


"Setelah dia sadar, mandikan dan juga beri obat untuknya." titahnya pada salah satu asistent wanita yang sudah lama bekerja untuknya.


Setelahnya pria itu melanjutkan kembali langkahnya untuk memasuki ruang kerja miliknya. tak lama asistent pribadinya masuk ke dalam setelah mengutuk pintu terlebih dahulu.


"Bos, sepertinya ada seseorang yang menemukan rumah tua anda di kota M, apa yang harus kita lakukan pada mereka?!" Pria yang di panggil bos itu terlihat sangat santai menanggapinya.


"Anak muda itu terlalu berambisi, terutama pria yang bernama Armand itu yang selalu saja ikut campur." gumamnya, sang asistent masih diam mendengarnya.


"Biarkan saja mereka, setelah itu kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" setelah mengangguk dan menunduk memberi hormat sang asistent itu pun segera keluar.


"Kalian ingin menemukanku bukan? sepertinya kita akan bermain-main dulu anak muda." gumamnya sambil tersenyum devil.


...----------------...


"Bukankah ini photo Valerie?" tanya Nando sembari mengambil pigura yang menampakkan wajah kekasihnya itu.


"No, dia bukan Val, tapi Mamanya Val saat masih muda dulu." jawab Armand berjalan mendekat pada Nando.


"Maksudnya tante Wilona saat muda dulu? tapi kenapa ada di dalam rumah ini? dan kau pasti tahu jawabannya bukan?" tanya Nando menatap tajam Armand menelisih.


"Tenang Bro, aku juga baru tahu ini dari anak buahku, kau tahu sendiri bukan? aku tidak akan mencari tahu tentang orang lain kecuali ada sangkut pautnya dengan pekerjaanku dan memang semua ini memang yang tengah aku cari.!" terang Armand dengan begitu santainya.


"Baiklah, sekarang jelaskan padaku agar aku mengerti, ini pasti ada hubungannya dengan masalah Richard dan juga masalah Bryan!" Armand tersenyum sambil mendengus pelan.


Sudah tidak ada alasan lagi, karena sepertinya Nando sudah tahu banyak tentang masalah itu, walau dia banyak diam selama ini.

__ADS_1


"Jika kau sudah tahu, maka akupun tidak akan banyak menjelaskan lagi padamu, dan kau sudah tahu jelas ini memang ada keterkaitannya dengan Mamanya Val tentang penculikan Richard saat masih kecil bukan?!" Nando meletakkan pigura itu ke tempat semula.


Dan mulai berjalan ke arah ranjang, dan membuka laci nakas kecil itu terlihat di dalamnya ada beberapa surat yang sengaja di tinggalkan oleh sang pemilik kamar.


Tanpa meminta ijin terlebih dahulu Nando sudah mengambil salah satu surat tersebut dan akan membukanya.


Tapi belum sempat ia membaca di luar terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang mendekat ke arah kamar.


Seketika Armand langsung menarik Nando untuk mengajaknya masuk ke dalam sebuah lemari, karena sedari tadi ia sudah mengira itu bukan sembarang lemari, dan ternyata benar itu adalah pintu rahasia.


Nando pun menurut saja dan mengikuti Armand dari belakang, lalu netra Armand melihat ada sebuah tangga kecil yang entah menghubungkan kemana.


"Turun ke tangga itu." bisiknya pelan pada Nando, tanpa mengulur waktu lagi mereka menuruni tangga tersebut dan masuk ke sebuah pintu besi yang terkunci.


Tapi bukan Armand namanya kalau tidak bisa membuka passcode dengan keahliannya itu, hanya beberapa detik saja pintu berhasil terbuka, dan saat sudah masuk tak lupa mengunci pintu itu kembali dari dalam.


Tangan Armand menekan tombol dan lampu pun menyala, saat ia berusaha meraba-raba pada dinding untuk mencoba mencarinya tadi.


"Tempat apa ini?" gumam Nando sambil mengedarkan pandangnnya ke sekeliling sudut ruangan.


"Mengasyikkan? maksudnya?"


Armand pun terkekeh mendengar pertanyaan konyol dari Nando, begitu saja tidak mengerti.


"Nananina, kalau kau tidak mengerti juga apa harus kuperjelas lagi untuk urusan_


"Stop, tidak perlu kau perjelas." Nando pun menyela cepat saat tatapannya juga melihat apa yang tengah Armand saat ini lihat, karena di situ hanya ada sebuah meja bulat dan sebuah bangku panjang ada sandarannya, yang terdapat di pinggir pantai atau kolam renang.


Dan bukankah seharusnya ada ranjang tidur ataupun sofa untuk melakukan hal tersebut? itu sungguh mengerikan jika mereka melakukannya hanya dengan beralaskan benda tersebut, bukan hanya sakit tapi remuk semua tubuh mereka, itu yang ada di benak Nando.


Nando pun merogoh ponselnya dan mencoba untuk menghubungi kekasihnya, tapi suara di luar sana membuatnya mengurungkan niatnya itu.


Booommm...


Terdengar suara menggelegar di atas sana, beruntung mereka berada di bawah tanah, dengan pintu besi itu, kalau tidak entah sudah jadi apa mereka berdua.

__ADS_1


...----------------...


Malam ini Bryan mengajak Ariell untuk kembali ke Mansion miliknya, karena percuma saja mereka di sana kalau tidak bisa melakukan apa-apa.


Jadi Bryan memutuskan untuk segera pulang saja setelah mengantar para sahabatnya itu untuk berpamitan pulang ke kota mereka masing-masing.


"Felix, apa tadi Armand tidak mengatakan sesuatu sebelum pergi?" tanya Ariell karena ia juga merasa tidak tenang.


Sebab tadi Bonee dan Val sudah mencoba menghubungi mereka berdua namun hasilnya nihil nomor keduanya tidak bisa di hubungi.


Mereka bertiga baru saja sampai di Mansion, dengan keadaan di dalamnya yang sudah sunyi, Bryan menyuruh Ariell untuk masuk duluan ke kamar.


Sementara ia dan Felix melipir ke ruangan kerja, " Tuan tadi saya sempat mendengar obrolan tuan Armand dengan salah satu anak buahnya itu kalau tidak salah tadi tuan Armand menyebut rumah tua di daerah pedalaman yang lumayan jauh dari sini." terang Felix begitu mereka sudah duduk di sofa berhadapan.


Bryan memang melarang Felix juga Armand untuk tidak membahas masalah ini kepada Ariell, bukan karena maksud lain-lain tapi ini semua demi kebaikan istrinya itu dan keluarganya.


"Bisa jadi mereka sudah menemukan markas 'Black Serigala' yang lain disini, kau hubungi anak buah kita Felix untuk segera menyusul mereka di sana." titah sang bos yang langsung di laksanakan oleh sang asistent.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.Thank's yaa udah baca, maaf kalau masih banyak typo.


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..

__ADS_1


__ADS_2