
Malam harinya.
Suasana di ruang makan terasa sangat hening, dan dingin mencekam. Walaupun ada tiga manusia yang duduk di kursi ruangan tersebut, tapi tidak merubah keadaan sekitarnya. Bahkan para pelayan yang menyiapkan makan malam, langsung bergegas pergi dari ruangan tersebut tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.
Brak
"Eh kodok loncat..." Latah Kejora, saat mendengar bunyi meja yang di gebrak.
"Mana kodoknya?" Boy bertanya sambil menggebrak kembali meja makannya.
"Eh kodok, itu kodoknya!" Kejora menunjuk kearah Mars.
Seketika itu juga Boy tertawa terbahak-bahak, sementara Mars hanya bisa diam, sambil menatap tajam pada Kejora dan juga Boy secara bergantian.
"Mars, kau dengar? Kejora bilang kau itu kodok." Boy kembali tertawa, membayangkan wajah Mars yang berubah menjadi seekor kodok.
"Ck, itu tidak lucu!" ucap Mars, dengan senyum sinis dibibirnya.
Brakk
Boy kembali menggebrak meja dengan keras, hingga membuat Kejora kembali latah.
"Kalau aku bilang lucu, ya lucu! Dan kau harus tertawa!" Boy menatap tajam pada sepupunya.
__ADS_1
Membuat Mars menghela napasnya, dan mau tidak mau ia harus melakukan apa yang diinginkan oleh Boy, dari pada dirinya di usir dari vila. 'Ya, tadi itu sangat lucu." ucap Mars, tertawa dengan mulut yang kaku.
"Ck, Mars lebih baik kau tidak usah tertawa! Dari pada wajahmu seperti orang yang sedang buang air besar." Seloroh Boy, sambil menggelengkan kepalanya
"Sial kau!" umpat Mars.
Sementara Kejora langsung tertawa terbahak-bahak, saat mendengar celotehan Boy. Namun tawa itu langsung terhenti, saat melihat Mars dan Boy menatap kearahnya dengan tajam. Dengan segera Kejora kembali melanjutkan makan malamnya, tanpa berani melihat kearah Boy dan Mars.
"Di mana A?" tanya Mars, karena sejak tadi ia tidak melihat sepupunya yang bodoh itu.
"Dia sedang bersemedi di gua selama tiga hari, karena sudah membuat aku kesal. Dan sebaiknya kau juga cepat angkat kaki dari vila ku! Jangan lupa bawa Istri anehmu itu." Ucap Boy, dengan ekspresi datarnya.
"B, kenapa kau mengusir aku? Aku kan sudah bilang, aku tidak mau pulang." Sahut Kejora.
"Kenapa kau tidak mau pulang?" tanya Mars.
"Kenapa aku harus pulang?" Kejora balik bertanya.
"Tentu saja kau harus pulang! Tempat tinggal mu di apartemen ku, bukan di vila ini." Ucap Mars dengan tegas.
"Kenapa tempat tinggal ku di apartemen mu? Bukankah apartemen itu milikmu, bukan milikku?"
"Ck, kau itu bodoh, ya? Kau istriku, tentu saja tempat tinggal ku adalah tempatmu juga." Jawab Mars dengan kesal, karena ia melihat Kejora saat ini, bukanlah Kejora yang dulu yang selalu takut dan menurut kepada-nya.
__ADS_1
"Aku memang istrimu, tapi kau tidak pernah mencintai aku dan menganggap aku ada!" lirih Kejora, sambil menundukkan kepalanya.
"Kejora aku -" Mars yang ingin mengungkapkan rasa cintanya, terpaksa mengurungkan niatnya setelah menyadari bahwa ada sosok Boy di antara mereka.
Suasana di ruang makan pun kembali hening, Kejora kembali makan malam dalam diam, dan Mars yang sibuk menatap wajah Kejora.
Sementara Boy, yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran antara suami-istri itu dengan wajah yang ceria. Kini sedikit kesal, saat melihat Mars dan Kejora tidak lagi bertengkar.
"Apa tidak ada babak selanjutnya?" tanya Boy, setelah menunggu beberapa saat.
Mars dan Kejora sontak menengok ke arah Boy, dengan wajah yang bingung.
"Babak apa?" tanya Kejora.
"Babak pertengkaran kalian!" Boy menatap Mars dan Kejora bergantian. "Aku ini sedang asik menonton siaran langsung pertengkaran kalian, kenapa kalian justru berhenti?" seru Boy.
"Sialan kau!" Mars reflek melempar napkin kecil kearah Boy.
Sementara Kejora, langsung berdiri lalu beranjak dari ruang makan.
"Kejora tunggu!" Mars ikut beranjak dari ruang makan.
Dan kini hanya ada Boy seorang, yang masih duduk di ruang makan. Ia menghela napasnya, lalu ikut melangkah kakinya menuju Mars dan Kejora. Ia masih ingin melihat pertengkaran yang terjadi antara sepasang suami-istri tidak jelas itu.
__ADS_1