Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 103


__ADS_3

Saat ini di ruang tengah di dalam vila milik keluarga Arbeto, tampak suasana yang begitu kacau. Suara tangis wanita terus menggema di seluruh ruangan, dan ada beberapa pelayan yang tengah mengobati seorang pria yang duduk lemas di atas sofa.


"Mars, diamkan istrimu itu! Kepalaku pusing mendengar nyanyian cemprengnya itu." Gerutu Boy, sambil memijat keningnya.


"B, Kejora itu sedang menangis bukan menyanyi." Sahut Mars dengan wajah yang kesal dan juga bingung.


"Ya apa pun itu, cepat selesaikan kekacauan yang kau buat!" Boy menatap Kejora yang menangis, dan anak buahnya yang terluka karena terkena bogem mentah dari sepupunya.


"Kekacauan yang aku buat? Apa aku tidak salah dengar?" Geram Mars. "Kekacauan ini terjadi karena perbuatanmu juga!"


"Perbuatan aku yang mana?" Boy menautkan kedua alis matanya.


"Ck, apa kau lupa dengan perkataan yang kau katakan. Kalau Kejora senang bermain dengan burung orang lain dan mengusap serta mencium burung itu. " Mars menggelengkan kepalanya.


"Oh itu, tapi bukankah yang aku katakan benar. Kalau istrimu itu sedang bermain dengan burung milik anak buah ku?" ucap Boy, dengan santai dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"B ...." Mars hendak melayangkan pukulannya pada Boy, namun niat itu ia urungkan, karena Mars tidak mau sampai di usir dari vila. Dan membuatnya semakin jauh dari Kejora.


"Apa? Kau mau memukulku? Pukul saja!" Boy menepuk pipi kanannya. "Tapi sebelum kau pukul aku, sebaiknya kau pikir! Perkataan aku yang salah? Atau otak kotormu yang salah? Yang sudah membuat kekacauan ini?" Boy tersenyum sinis.

__ADS_1


Mars terdiam sesaat, lalu menghela napasnya. Jika dipikir ulang, memang kekacauan ini bukan sepenuhnya salah Boy. Tapi juga salah otaknya yang berpikiran kotor tentang Kejora dan burung orang. Mars lalu menatap pada anak buah Boy, yang terluka cukup lumayan di wajahnya.


"Kau, siapa namamu?" tanya Mars.


"Namaku Mike, tuan." Jawab anak buah Boy.


Mars menganggukkan kepalanya. "Mike pergilah ke rumah sakit! Aku akan membayar semua tagihannya, dan aku juga akan mengganti burung milikmu yang lepas." Ucap Mars.


"Tidak perlu ke rumah sakit, tuan. Aku sudah di obati dan luka nya pun tidak seberapa." Ujar Mike, sambil mengusap pipinya yang terasa sangat perih.


Mars menghela napasnya, lalu menatap pada Kejora.


"Burung itu memang bukan milikku, tapi aku sangat menyayanginya. Karena selama satu bulan ini, burung itu yang menemani aku." Jawab Kejora sambil menangis sesenggukan.


"Oh ya ampun." Mars tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya. "Dengar Kejora, aku akan membelikan burung untukmu. Kau mau burung yang model apa? Yang kelas tertinggi atau kelas biasa? Mau yang warna apa?" tanya Mars.


"Bro, kau itu mau membelikan Kejora burung atau mobil?" Sela Boy, dengan tertawa geli. Sepupunya itu memang hanya pintar dalam hal yang berbau tekhnologi. Tapi untuk urusan yang lainnnya nol besar.


Mars tidak mempedulikan ocehan Boy, saat ini yang lebih penting adalah mendiamkan istrinya yang sedang menangis.

__ADS_1


"Kau jangan menangis lagi! Aku janji aku akan membelikan burung yang kau inginkan sebagai gantinya. Mau sepuluh atau seratus pun akan aku belikan." Ucap Mars, mengusap air mata yang menetes di pipi Kejora.


"Setuju!" Seru Boy, dengan tersenyum lebar.


Membuat semua orang yang ada di ruangan, menatap ke arah Boy.


"Hey iblis, aku ini sedang membujuk istriku. Bukan meminta pendapatmu." Ketus Mars.


"Aku hanya mewakili Kejora untuk mengatakan iya." Sahut Boy tidak mau kalah, menatap ke arah Kejora dengan isyarat mata.


Kejora yang mengerti arti tatapan Boy, langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh Boy Arbeto.


"Baiklah, aku akan membelikan burung yang sama persis seperti milik Mike. Mau berapa?" tanya Mars dengan santai.


"Sepuluh." Jawab Boy.


"B, aku bertanya pada Kejora. Kenapa lagi-lagi kau yang menjawabnya." Mars mulai emosi dengan tingkah sepupunya.


"Aku bilang, aku yang mewakili Kejora untuk berkata. Benar kan Kejora?" Boy menatap Kejora dengan tatapan penuh intimidasi.

__ADS_1


__ADS_2