
Markas Delta.
Boy menatap layar ponselnya yang sudah di matikan oleh Venus dengan seringai tipis di bibirnya, ia bukanlah orang bodoh yang begitu saja menghukum seseorang tanpa mendengarkan penjelasan dari orang tersebut. Tapi dalam kasus yang menimpa Venus, apa pun yang melatar belakangi kejadian yang terjadi di antara mereka, baginya Aries tetap salah dan harus mendapatkan hukuman karena sudah berani menyentuh wanita dari keluarga besarnya.
"Saatnya bersenang-senang." Boy melangkahkan kakinya pada dua orang yang terlihat masih saling memukul. "Hentikan A!" Boy menyingkirkan sepupunya yang terlihat berantakan dengan sudut bibir yang pecah dan pelipis yang terluka.
"Kau mengganggu saja." Agam mengusap darah yang keluar di sudut bibirnya, sambil menyingkir dari tempat tersebut.
"Rupanya kau tangguh juga." Netra elang Boy menatap pada Aries yang terlihat sama berantakannya dengan Agam, itu artinya kekuatan Aries dan Agam imbang.
"Cuih...." Aries meludah ke atas lantai sembari membalas tatapan tajam pemimpin utama Tim Delta. "Apa ini cara kalian menjawab pertanyaan seseorang?" Geram Aries dengan wajah yang sangat marah, karena tiba-tiba saja mendapatkan serangan dari Agam Mateo tanpa tahu apa kesalahannya.
"Bisa dibilang seperti itu, tapi lebih tepatnya lagi mengingatkan seseorang pada kesalahannya." Boy menepuk wajah Aries dengan tatapan yang membunuh.
__ADS_1
"Kesalahan?" gumam Aries dengan wajah yang bingung.
Bugh
Satu pukulan keras tepat mengenai tubuh Aries, membuat pria itu limbung ke bawah dengan erangan kesakitan yang keluar dari bibirnya.
"Berani kau menyentuh wanita dari keluarga ku!" Boy kembali menghadiahkan sebuah pukulan.
Aries yang terkejut dengan perkataan Boy, hanya bisa terdiam saat pukulan berikutnya sampai membuatnya tidak berdaya.
Melihat Aries yang sudah jatuh pingsan, Boy menatap pada Agam dengan senyum sinis dibibirnya. "Kau harus banyak berlatih agar musuh mu jatuh di hitungan ke tiga." Sindir Boy.
Agam yang sejak tadi duduk di sudut ruangan, hanya menjawab dengan gelengan kepala saat melihat sepupunya itu sudah membuat KO lawannya. Dengan segera Agam menghubungi dokter pribadi keluarga besar mereka untuk mengobati Aries.
__ADS_1
"Jika Mars bertanya tentang Aries kita tidak boleh memberitahu apa pun padanya, biar Venus yang menjelaskan semuanya pada Mars! Dan untuk manusia domba itu aku rasa sudah cukup hukuman dari kita, karena kita harus menyisakan ruang bagi Mars untuk menghabisinya, bukan ?" ucap Boy sembari menatap kearah Aries yang tengah pingsan.
Agam tertawa sesaat lalu keningnya berkerut. "Tunggu dulu! Apa Venus akan datang? Bukankah dia ada di London?" tanya Agam.
Boy mengedikkan bahunya dengan acuh. "Rasanya puas sekali berolah raga sebelum aku menghadapi acara pernikahanku yang ketiga." Seloroh Boy.
"Pernikahan ketiga...." Cemooh Agam. "Apa kau yakin akan sukses menggagalkannya seperti yang sudah-sudah? Ingat yang kau hadapi adalah Mom Luna, satu dua kali ia akan kalah tapi setelahnya—"
"Setelahnya akan kalah lagi tentunya. "Sahut Boy dengan tawa di bibirnya. "Mommy ku itu tidak punya kekuatan untuk menghadapi seorang Boy Arbeto." Ucap Boy dengan sombong.
"Oh ya ampun, kau itu benar-benar tak berahlak! Mudah-mudahan saja kau terkena kutukan dari Mom Luna, sehingga acara pernikahan yang ketiga ini bisa berjalan dengan lancar." Ucap Agam sambil menatap layar ponselnya yang berdering, dan tak menyadari ada majalah melayang kearahnya tepat mengenai ponsel miliknya.
"B....." geram Agam dengan wajah yang kesal karena tindakan Boy sudah membuat ponsel kesayangannya terjatuh.
__ADS_1
"Cepat kau urus manusia domba itu!" Boy segera keluar dari ruangan dengan umpatan nama-nama hewan pada Agam , berani sekali sepupunya itu mendoakan pernikahannya berjalan dengan lancar.