
"Aku tidak membelanya, tapi di sini memang aku lah yang bersalah. Karena pada malam itu—"
"B jangan dengarkan dia! Cepat bawa aku ke tempat bajingan itu." Mars memotong pembicaraan adiknya, ia sudah tidak mau mendengar apa pun penjelasan dari mulut Venus.
Boy menganggukkan kepalanya kemudian berjalan dengan diikuti Mars dan Agam.
"Mars ....! Venus menangis menatap kepergian kakak dan kedua sepupunya. "Aries tidak bersalah." Teriak Venus sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Venus kau jangan menangis! Lebih baik kita cepat menyusul mereka!" Kejora merangkul Venus dan menguatkan adik iparnya untuk tidak menyerah, karena ia tidak ingin melihat kak Aries dan juga Mars berkelahi sebelum mengetahui apa yang sebenar terjadi pada Venus dan Aries.
Sementara itu Boy yang sudah berada di depan sebuah pintu, menatap pada Mars dan memberikan kode jika Aries ada di dalam.
"Cih ... pantas saja aku tidak menemukannya, rupanya kau menyekap bajingan itu di ruang istirahatmu." Mars tidak pernah menyangka jika Aries di tempatkan di kamar pribadi milik sepupunya.
"Aku pintar bukan?" Boy menggerakkan kedua alisnya.
"Ck ...." Mars berdecak dengan kesal.
__ADS_1
"Tunggu!" Boy merentangkan tangannya ketika melihat Mars hendak masuk ke dalam.
"Apalagi?" geram Mars.
"Kau jangan memukulnya terlalu keras, karena pria itu sudah tidak berdaya bahkan wajahnya saja—"
Perkataan Boy terhenti saat Mars langsung masuk begitu saja, tanpa menunggu dirinya selesai berucap.
"Mars tunggu!" teriak Venus saat melihat kakaknya masuk ke dalam ruangan.
"Eit! Kau mau kemana?" Boy menghalangi langkah Venus, lalu memberikan kode pada Agam untuk masuk ke dalam.
"Lepaskan B! Aku ingin masuk ke dalam." Bentak Venus.
"Wanita tidak boleh ikut campur dalam permasalah pria." Boy mencengkram erat sepupunya.
"B lepaskan! Aku mohon aku harus menyelamatkan Aries." Pinta Venus sambil menangis.
__ADS_1
"Untuk apa menyelamatkannya? Biarkan dia mati di tangan kakakmu." Ucap Boy dengan dingin dan tajam.
"Kau ...."
Perkataan Venus terhenti saat mendengar suara gaduh dari dalam ruangan, bahkan sayup-sayup Venus mendengar suara rintihan kesakitan. "B kau dengar itu? Mars bisa saja membunuhnya." Geram Venus, ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Boy. Bahkan Venus tidak segan melayangkan pukulan pada Boy, saat mendengar suara rintihan kesakitan yang semakin menyayat hati.
"B, aku mohon ijinkan aku masuk." Venus menangis tersedu-sedu, ia sudah tidak kuat saat mendengar erangan kesakitan yang semakin keras. Venus tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi antara Mars dan Aries.
"Kau tunggu di sini saja, selama bajingan itu masih bisa berteriak kesakitan dia masih—" Boy terkejut saat merasakan perutnya di cubit dengan keras. "Kau! Apa yang kau lakukan?" sentak Boy saat melihat Kejora yang mencubit perutnya.
"Venus masuklah!" ucap Kejora tanpa menjawab perkataan Boy.
Venus menganggukkan kepalanya, dan segera masuk ke dalam ruang dengan tergesa-gesa.
"Wanita aneh menyebalkan." Umpat Boy pada Kejora.
"Kau selalu mengatai aku aneh dan menyebalkan, aku doakan kau akan mendapatkan istri yang lebih aneh dan menyebalkan dariku." Kejora bergegas masuk kedalam ruangan, meninggalkan Boy yang terbengong di tempatnya.
__ADS_1
Sementara itu di dalam ruangan tempat istirahat milik Boy Arbeto, tampak Venus tengah berusaha menghentikan Mars yang tengah memukul Aries dengan membabi buta. Padahal saat ini Venus melihat Aries sudah tertelungkup tidak berdaya di atas lantai. Ia tidak tega saat melihat kondisi Aries dengan perban di seluruh kepalanya, masih di pukuli dengan keras oleh saudara kembarnya.