
"Nona Venus...." Aries tersenyum tipis menatap wanita cantik yang terlihat duduk dengan anggun dihadapannya. "Ada angin apa yang membuat Anda datang kemari mencari ku?" tanya Aries, karena ia sudah tahu dari Mark kalau asisten pribadi Venus mencari tahu keberadaannya.
"Terima kasih." Ucap Venus tanpa basa-basi.
"Terima kasih?" Aries mengulang perkataan Venus dengan kening yang berkerut.
"Terima kasih karena kemarin Anda sudah menyelamatkan aku." Jawab Venus.
"Oh..." Aries hanya beroho ria sambil menyesap minuman kopi miliknya.
Venus yang duduk dihadapan Tuan Aries bisa melihat dengan jelas saat pria itu menyesap minumannya, melihat bagaimana bibir tebal itu menyentuh cangkir kopi dan sukses membuat Venus menelan salivanya dengan susah, saat membayangkan bagaimana rasanya jika bibir tebal itu menyentuh bibirnya.
"Apa ada lagi yang ingin Anda katakan?" tanya Aries karena melihat Venus hanya diam saja.
Venus yang terkejut karena sedari tadi mengamati wajah tuan Aries, atau yang lebih tepatnya mengamati bibir tebal itu, langsung berdeham untuk menutupi kegugupannya.
"Em... tidak ada," jawab Venus.
"Lalu kenapa Anda masih di sini?"
"What? Kau mengusirku?" ketus Venus dengan wajah tak percaya, bagaimana bisa seorang Venus Graham di usir oleh seorang pria.
__ADS_1
"Nona Venus, mana mungkin aku mengusir Anda!" ucap Aries dengan santai.
"Ck, kau kira aku tuli!" Venus berdiri dari duduknya, menatap tajam pada Tuan Aries.
Aries sendiri tidak menggubris perkataan Venus, ia segera mengambil uang yang ada di dalam dompet dan meletakkannya di atas meja. "Aku ingin pergi dari tempat ini, maka dari itu aku bertanya kenapa Anda masih disini?" Aries memakai kacamata hitamnya dan berjalan keluar dari cafe.
Venus yang masih berdiri di tempat tersebut, menatap tak percaya saat melihat Tuan Aries yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
"Dasar pria tampan, sombong, menyebalkan, dan tidak tahu sopan santun!" umpat Venus, ia segera berjalan cepat menyusul Tuan Aries lalu menyenggolnya dengan keras. Namun karena jalannya yang terburu-buru justru membuat Venus kehilangan keseimbangannya.
"Ah...." pekik Venus saat tubuhnya hampir terjatuh, namun sebuah tangan menahan pinggangnya.
"Kalau kau tidak bisa berjalan dengan baik, jangan bergaya menyenggol ku! Kau tidak lihat tubuh kurus mu itu tidak sebanding dengan tubuhku?" Aries menekan pinggang Venus dan membantunya berdiri tegak.
"Kenapa dia selalu saja menghina dan mengejekku? Dan sialnya hanya dia yang berani seperti itu padaku." Gerutu Venus dalam hati menatap ke arah belakang, melihat tuan Aries yang masih berdiri menatap mobilnya.
"Venus... bagaimana bisa kau membayangkan berciuman dengan pria tampan, menyebalkan, sombong, dan tidak tahu sopan santun seperti tuan Aries?" Gerutu Venus dengan sangat kesal.
"Apa? Anda membayangkan berciuman dengan tuan Aries?" pekik Eva dengan wajah yang terkejut.
"Eva!" pekik Venus tak kalah terkejutnya. "Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Venus.
__ADS_1
"Sejak dari tadi nona, Anda lupa kalau aku menunggu di mobil?" tanya Eva sambil menahan tawanya, ia mengingat dengan jelas saat nona Venus mengumpat tuan Aries tapi dengan kata-kata pria tampan. Ajaib sekali bukan? Jika biasanya seseorang memaki dengan menyebut orang itu jelek, tapi Nona Venus justru memaki orang tersebut dengan menyebutnya tampan.
Venus menghela napasnya dengan kasar, merutuki kebodohannya yang tidak menyadari keberadaan Eva.
"Berpura-pura lah tidak mendengar apa yang tadi aku katakan! Kau mengerti?" Venus menatap tajam pada asisten pribadinya.
"A-aku mengerti, nona." Jawab Eva sambil menundukkan kepalanya.
Sementara itu Aries yang masih berdiri di tempatnya, menatap mobil Venus yang semakin menjauh dengan sorot mata tajam dan senyum tipis dibibirnya.
...🍀🍀🍀...
Malam harinya.
Venus memasuki restauran yang dipilih oleh Tom dengan wajah yang bingung, karena di restauran tersebut hanya ada dirinya dan juga Tom dan tentunya beberapa pelayan.
"Tom kau menyewa tempat ini?" tanya Venus setelah duduk di kursinya. "Dan ini semua apa kau yang menyiapkannya?" Venus memandang dekorasi yang ada di restauran itu, dan buket bunga mawar berwarna merah yang baru saja diberikan oleh Tom.
"Ya, apa kau suka?" tanya Tom dengan senyum diwajahnya.
Venus mengerutkan keningnya mendengar perkataan Tom, ia bingung dengan sahabatnya itu yang akhir-akhir ini lebih sering menggunakan kata aku dan kau saat mereka berbicara, karena sebelumnya Tom selalu memanggilnya dengan sebutan Nona walau pun mereka selama ini bersahabat.
__ADS_1
"Ve, apa kau suka?" Tom mengulangi pertanyaannya.
Venus menjawab dengan anggukan kepala dan senyum kaku di bibirnya, ia pun lebih memilih diam selama acara makan malam berlangsung, karena jujur saja perasaannya mulai tidak enak dengan semua yang dilakukan oleh Tom padanya.