
Mars yang sudah berada di ruang kerjanya. Menatap cincin pernikahan milik Kejora, lalu mengambil ponsel dari saku pakaiannya.
"Kau di mana? Apa kau baik-baik saja?" Gumam Mars, mengusap layar ponselnya yang menampilkan wajah Kejora. Wajah yang sudah satu bulan ini tidak bisa ia lihat, dan tidak bisa ia sentuh. Mars begitu merindukan sosok Kejora, istri polosnya yang berotak mesum yang selalu membuatnya naik darah.
...🍀🍀🍀...
Sementara itu di sebuah kota yang lumayan jauh dari Jakarta. Tampak seorang wanita cantik tengah duduk di sebuah dangau. Ekspresi wajahnya begitu serius, dengan tatapan mata lurus menatap hamparan sawah. Namun wajah serius itu langsung berganti dengan sebuah senyuman, saat ia melihat beberapa burung pipit hinggap di tanaman padi yang sedang ia jaga. Dengan berlari kecil, wanita itu mendekat ke arah tali, lalu menggerakkannya untuk mengusir burung-burung tersebut.
"Nona, lebih baik ada masuk ke dalam villa! Kami takut Tuan marah, jika melihat anda menjaga sawah seperti ini." Tutur salah satu pelayan, yang bertugas menjaga wanita cantik yang ada didepannya.
"Mereka tidak akan marah, aku jamin itu. Lagi pula jika aku masuk ke dalam Villa, apa yang harus aku lakukan? Aku bosan kalau hanya duduk diam." Gerutu Kejora.
"Kalau kau bosan, pulanglah! Aku tidak pernah menyuruhmu untuk tinggal di sini!"
Suara berat dari seorang pria, membuat Kejora dan pelayan tadi menengok kebelakang.
"Ish, kau itu! Kenapa selalu mengusir aku?" tanya Kejora, pada pria tampan yang sedang berjalan kearahnya.
Pria tampan itu hanya menjawab dengan senyuman sinis, sambil terus berjalan menuju wanita yang bernama Kejora.
__ADS_1
Kejora yang masih diam berdiri, menatap dengan intens ciptaan Tuhan yang begitu sempurna, dengan tatapan mata terpesona. Bagaimana tidak terpesona pada pria tampan itu? Pria dengan wajah campuran Eropa dan Asia, yang memiliki ketampanan bak seorang dewa. Kulit wajah yang berwarna putih bersih, alis mata yang tebal, bulu mata yang panjang, hidung mancung, dengan rahang yang keras. Sukses membuat seorang Kejora begitu terpesona. Padahal sudah satu bulan ini, ia tinggal bersamanya. Tapi rasa kagum itu selalu muncul setiap kali Kejora melihatnya.
"Jangan melihatku seperti itu! Aku tidak ingin kau jatuh cinta kepadaku." Pria itu berkata dengan seringai licik dibibirnya.
"Apa? Mana mungkin aku jatuh cinta pada sepupu suamiku yang memiliki sifat Playboy akut!" Cibir Kejora.
"Hei! Baru satu bulan kau tinggal di sini. Tapi sudah berani mencibirku!" Ucap Boy, dengan angkuh. "Apa mau aku hukum?" Boy mendekatkan wajahnya, seolah-olah hendak mencium Kejora.
Kejora yang ketakutan, langsung mundur beberapa langkah ke belakang.
"B, kau jangan macam-macam! Dia itu istri Mars!"
"A ...." Seru Kejora, lalu berlari menghampiri pria yang tidak kalah tampannya dengan Boy. Walaupun tetap yang paling tampan adalah Boy, sekalipun Mars ada di sini. "Ish, kenapa aku jadi mengingat si manusia planet itu!" Gerutu Kejora, dalam hati.
Agam yang ditanya malah diam, lalu ikut duduk di samping sepupunya.
"Kau itu, setiap kali aku bertanya pasti diam. Dan sekalinya kau menjawab pasti akan mengatakan I do not know." Boy mencibir sepupunya, sambil meng-gelengkan kepalanya.
"Aku diam, karena tidak ingin berdebat denganmu!" Sahut Agam.
__ADS_1
"Tidak ingin berdebat denganku? Atau takut berdebat denganku?"
"Keduanya." Jawab Agam, dengan singkat.
"Sialan kau!" Boy menarik kepala Agam, lalu menjepitnya diantara lengan ketiaknya.
Kejora yang melihat pemandangan kedua sepupu suaminya, hanya bisa menghela napasnya. Dulu, saat awal ia tinggal di Villa ini, Kejora selalu cemas jika melihat mereka seperti itu. Namun lama-kelamaan pemandangan itu sudah menjadi hal yang biasa baginya.
"Hei, kenapa kau diam disitu! Masuk ke Villa atau aku akan menyerahkan kau pada Mars!" Ancam Boy
"Eh, i-iya." Dengan segera Kejora berlari masuk ke dalam Villa.
"Dia itu wanita yang aneh!" Gumam Boy.
"Kenapa aneh?" Agam menatap punggung Kejora yang terlihat semakin menjauh.
"Bagaimana tidak aneh? Dia tidak mau kita pulangkan! Dan memilih tinggal di sini?" Boy mengerutkan keningnya. "Si manusia planet itu juga begitu bodoh! Susah satu bulan, tapi dia tidak bisa menemukan istrinya."
"Bagaimana bisa menemukan Istrinya? Jika Tim Delta sendiri berada di bawah kekuasaanmu, Boy Arbeto!" Sindir Agam.
__ADS_1
"Hahaha, aku lupa!" Boy tertawa dengan puas. "Tapi aku hebat bukan? Dan terima kasih untuk pujiannya?"
Agam tidak menyahuti perkataan Boy, dan memilih pergi dari tempat tersebut. Ia tidak mau ikutan gila, jika berada di sebelah sepupunya yang memiliki banyak sifat aneh. Sombong, suka menindas orang lain, punya rasa percaya diri yang tinggi, dan seorang Casanova seperti Dad David, dan masih banyak sifat yang lainnya yang selalu membuat Aunty Luna dan Uncle Dafa darah tinggi.