
Mansion Utama.
Mars yang sudah sampai di mansion utama, tidak menemukan siapa pun di mansion tersebut. Hanya ada kepala pelayan, dan juga beberapa pelayan yang terlihat di mansion tersebut.
"Jadi di mana Boy Arbeto?" tanya Mars pada kepala pelayan mansion utama.
"Kami tidak tahu, tuan." Jawab Pak So.
Mars berdecak dengan kesal, lalu mengambil ponselnya. Ia ingin menghubungi Aunty Luna, untuk menanyakan keberadaan Boy. Dan setelah menunggu beberapa saat, ponselnya tidak juga diangkat oleh Aunty Luna.
Tidak mau menyerah, Mars kemudian menghubungi ponsel Uncle Dafa.
"Halo Uncle, maaf jika aku menganggu." Ucap Mars, setelah sambungan teleponnya terhubung.
"No problem, ada apa Mars?" tanya Dafa, dari seberang telepon.
"Uncle, Mars hanya ingin bertanya di mana B berada?"
"Boy?" Dafa yang sedang duduk di kursi kerjanya, menautkan kedua alis matanya. "Ada apa kau mencarinya?" Selidik Dafa.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang penting padanya." Jawab Mars.
"Sesuatu yang penting seperti apa? Boleh Uncle tahu?"
Mars terdiam sesaat, lalu menceritakan semuanya pada uncle Dafa.
"Anak itu!" geram Dafa. "Dia itu sedang dihukum, karena sudah berani membawa kabur gadis dibawah umur. Bukannya sadar dan memperbaiki diri, dia malah semakin menjadi, dengan menculik istri sepupunya sendiri." Dafa sampai menggebrak meja, untuk meluapkan kemarahannya.
__ADS_1
Mars yang mendengar kemarahan uncle Dafa, hanya bisa diam tanpa berani menyahut perkataan uncle nya.
"Kau tunggu saja di apartemen, uncle janji akan membereskan permasalahan ini secepat mungkin! Dan paling lama, malam ini Istrimu sudah pulang." Janji Dafa.
"No uncle, aku ingin menjemput istriku sendiri! Jadi aku mohon, tolong beritahu di mana keberadaan B?" pinta Mars.
Dafa pun akhirnya memberitahukan kota di mana Boy dihukum, kota yang sama pada saat Luna pernah pergi darinya. Kota itu tidak lain dan tidak bukan, adalah kota Kuningan.
Dan setelah mendapatkan informasi di mana keberadaan Boy, Mars pun dengan segera keluar dari mansion utama. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dan menjemput istrinya, sekaligus memberikan pelajaran pada kedua sepupunya.
...🍀🍀🍀...
Kota Kuningan.
"B, anggota Delta memberitahu kalau Mars sedang dalam perjalanan kemari!" Ucap Agam, pada sepupunya yang sedang memberi makan ikan yang ada di kolam.
"Wanita aneh?" Agam mengerutkan keningnya. "Maksudmu Kejora?"
Boy berdecak dengan kesal, sambil menghela napasnya. "Satu-satunya wanita aneh di Villa ini, hanya dia! Coba saja kau lihat itu!" Boy menunjuk pada Kejora yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka. "Jika tidak sebut aneh? Lalu disebut apa jika ada wanita yang berbicara sendirian." Boy sampai menggelengkan kepalanya, saat melihat Kejora berbicara pada bunga yang dipegangnya.
Agam tidak menjawab perkataan Boy, ia justru sibuk menatap Kejora yang terlihat sedang berbicara sendirian. Namun itu hanya sesaat, karena Agam teringat kembali tujuannya memberitahu Boy tentang kedatangan Mars.
"B, aku ingin kau tidak meladeni kemarahan Mars saat dia datang! Karena aku tidak ingin melihat kalian sampai main tangan." Ucap Agam.
Mendengar perkataan Agam, Boy hanya terkekeh geli tanpa berkomentar apa pun.
"Dia itu sok bijak jika sedang berbicara, tapi kenyataannya justru dialah orang yang paling tidak bisa menahan emosi, jika aku kenapa-kenapa." Gumam Boy dalam hati.
__ADS_1
"Kau dengar Mars! Aku tidak ingin Three Devils bersitegang hanya karena wanita!" Agam kembali menatap Kejora.
Boy ikut menatap kearah pandangan mata Agam, lalu meng-gelengkan kepalanya saat melihat Kejora masih berbicara pada bunga.
"Dasar wanita aneh." Gumam Boy.
Sementara itu Kejora yang sedang berbicara pada bunga yang ada di tanganya, mulai memetik kelopak bunga tersebut.
"Pulang ...." ucap Kejora, sambil membuang kelopak bunga yang dipetiknya.
"Tidak ...." Kejora kembali memetik kelopak bunga, lalu membuangnya kembali. "Pulang ... tidak ...." Kejora terus melakukan hal itu, sampai kelopak bunga yang terakhir. "Pulang ....!"
Kejora lalu menghela napasnya, saat tidak ada lagi kelopak bunga yang tersisa. Ia masih merasa bingung harus memilih pulang atau tidak ke Jakarta. Di satu sisi ia sangat merindukan Mars, dan ingin merasakan kembali pelukan hangat suaminya itu. Apalagi dengan kegiatan panas mereka, Kejora sudah tidak tahan untuk mengulanginya kembali bersama dengan Mars.
"Ya ampun Kejora! Kenapa otak kotor mu itu malah keluar di saat-saat seperti ini!" Gerutu Kejora, sambil menepuk kepalanya.
Kejora yang masih merasa kebingungan, langsung menatap ke sekitarnya, lalu melihat A dan B yang sedang berada di kolam ikan.
"Dari pada aku bingung, lebih baik aku menemui mereka! Hitung-hitung menyegarkan mata dan otak kotorku, dengan wajah tampan mereka." Gumam Kejora, sambil berjalan menuju A dan B.
Sementara Boy yang melihat Kejora melangkah kakinya menuju tempat mereka, langsung mengambil ancang-ancang untuk pergi dari kolam ikan.
"B, kau mau kemana?" tanya Agam, saat melihat Mars yang beranjak pergi.
"Aku ingin masuk, dari pada dibuat repot oleh wanita aneh itu!" Seru Boy, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villa. Meninggalkan Agam yang masih berdiri dengan wajah yang bingung.
Agam yang masih bingung harus masuk atau tidak ke dalam Villa, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam. Namun saat ia ingin melangkah kakinya, namanya sudah terlebih dahulu dipanggil. Dan mau tidak mau, akhirnya Agam terpaksa menemani Kejora, dan berakhir menjadi pendengar yang baik dari semua curhatan istri sepupunya.
__ADS_1