
"Kejora, kau dari mana? Kenapa baru datang? Apa kau tahu ini sudah jam berapa?" Serentetan pertanyaan meluncur dengan lancar dari bibir Mars, saat melihat Kejora masuk ke dalam ruangan bersama dengan Tom.
"Tuan, Nyonya Kejora baru saja datang. Kenapa anda memberikan begitu banyak pertanyaan?" ucap Tom.
"Tom, apa namamu sudah berganti menjadi Kejora?"
"Tidak, tuan." Jawab Tom.
"Kalau tidak, kenapa kau yang menjawab? Atau jangan-jangan kau lupa dengan namamu sendiri." Sindir Mars.
"Hahaha ...." Kejora tertawa, saat mendengar perkataan Tuan Mars. "Tuan, ternyata anda bisa melawak juga."
"Benarkah? Apakah tadi sangat lucu?" Mars berjalan mendekati Kejora.
"Tidak terlalu lucu juga sih, tapi lumayanlah." Jawab Kejora, masih dengan tawanya.
Namun tawanya langsung menghilang, saat melihat tuan Mars berdiri dihadapannya. Dan jangan lupakan tatapan tajamnya itu, membuat Kejora dengan susah payah menelan saliva nya.
"Sudah berbuat salah! Masih berani menertawakan ku?" Mars mengintimidasi Kejora.
"Tuan, aku ...." Kejora hendak melangkah mundur, namun gerakannya tertahan saat pinggangnya ditarik oleh Tuan Mars. Hingga membuatnya berada di dalam pelukan tuannya itu.
"Mau kemana kau?" Mars mendekatkan wajahnya ke wajah Kejora.
"Tu-tuan kau mau apa?" Kejora semakin menjauhkan wajah dan tubuhnya.
Ehem
__ADS_1
Tom berdeham dengan keras.
"Tom, apa kau bosan hidup!" Mars menatap tajam pada asistennya tanpa melepaskan pelukannya.
"Tidak, tuan. Tapi ada sesuatu yang harus aku sampaikan."
Mars melepaskan pelukannya pada pinggang Kejora lalu menatap pada Tom.
"Katakan!"
Tom menatap pada Nyonya Kejora, lalu menatap kembali pada tuannya. Mars yang mengerti, langsung menyuruh Kejora untuk menunggu di luar.
Kejora menganggukkan kepala, lalu berjalan keluar dari ruang kerja tuan Mars. Setelah menaruh tempat makan siang milik tuannya di atas meja.
"Cepat katakan! Dan jangan sampai kau berbicara hal yang tidak penting, atau aku akan membuatmu tidak bisa melihat matahari lagi! Ancam Mars, karena merasa kesal kegiatan dirinya bersama dengan Kejora terganggu oleh Tom.
Membuat Kejora langsung terdorong masuk kedalam ruangan.
"Kejora! Apa yang kau lakukan?" Mars menatap tak percaya pada kelakuan Kejora.
"Aku ... tadi aku -- " Kejora tersenyum, lalu secepat mungkin lari keluar ruangan.
Mars dan Tom memandang Kejora yang lari, sambil menggelengkan kepalanya.
"Tom, bagaimana bisa kau tahu diluar ada Kejora?" tanya Mars, sambil duduk di atas kursi kerjanya.
"Tuan, apa anda lupa? Bukankah sejak awal, Nyonya Kejora itu hobi menguping?" kekeh Tom. "Tadi juga sebelum aku mengikutinya ke taman, Nyonya Kejora terlihat di depan pintu ruangan. Membuka pintu, lalu menutupnya kembali." Terang Tom.
__ADS_1
"Tadi? Kapan?" tanya Mars, karena tidak melihat Kejora masuk ke dalam ruangannya
"Kalau tidak salah, sewaktu Nona Monica masih ada di ruangan anda." Jawab Tom.
Mars berpikir, lalu mengumpat dalam hati. "Apa mungkin Kejora melihat aku dan Monica berciuman?" Mars menghela napasnya, lalu menatap Tom. "Tadi kau bilang mengikuti Kejora ke taman?"
"Ya, tuan. Aku mengikutinya, lalu bertemu dengan ...."
"Bertemu dengan siapa?" selidik Mars.
"Bertemu dengan seseorang, yang sedang anda selidiki." Jawab Tom.
"What? Jadi maksudmu Kejora bertemu dengan kekasih lamanya?" Pekik Mars, dengan sangat geram.
"Ya, tuan."
Tom memberikan sebuah berkas pada tuan Mars, yang di dalamnya berisi tentang data tuan Aries yang diminta oleh tuan Mars tadi malam.
Dengan perasaan marah, Mars membuka berkas tersebut. Dan wajahnya langsung terkejut saat mengetahui siapa itu Aries.
"Pantas saja, aku seperti pernah mendengar namanya." Gumam Mars. "Ternyata dia adalah pemilik Perusahaan Avago Technologies."
"Ya, dan Tuan Aries adalah pesaing nomer satu perusahaan kita." Sahut Tom.
Mars terdiam dengan jari yang mengetuk di atas meja. Ia tidak pernah menyangka, jika Aries Pratama adalah putra dari Tuan Gideon.
"Kenapa dibelakang nama Aries, tidak tercantum nama Gideon?" tanya Mars.
__ADS_1
"Itulah yang akan saya sampaikan pada anda." Tom menceritakan semua info yang didapatnya tentang tuan Aries.