
Setengah jam kemudian, akhirnya wanita yang di tunggu oleh Mars datang juga. Mars mengamati wajah wanita, yang masuk ke dalam ruangannya. Wajah yang lumayan cantik, dan manis dengan rambut panjang diikat kebelakang. Wanita itu berpenampilan sangat sederhana, dengan tangan yang memegang tempat makan. Mars terus mengamati setiap gerak-geriknya, hingga wanita itu sampai di depan meja kerjanya.
"Kau terlambat setengah jam!" Mars menatap jam, dipergelangan tangannya.
"Maaf tuan, tadi --- "
"Aku tidak ingin mendengar alasanmu. Dan sebagai hukumannya ...." Mars mulai menyunggingkan senyumannya.
***
Beberapa saat kemudian.
"Sudah habis, belum?" tanya Kejora, dengan sendok di tangannya.
"Belum." Jawab Mars, sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Setelah makanan itu habis, Mars membuka mulutnya lebar-lebar. "Aaa ... "
__ADS_1
Dan dengan sigap Kejora menyuapkan sendok yang berisi makanan, ke dalam mulut tuan Mars. Dan itu sudah ia lakukan, dari sepuluh menit yang lalu. Tuan Mars menghukum dirinya, untuk menyuapinya makanan. Sebenarnya hukuman itu sangat mudah, jika saja yang disuapinya bukan tuan Mars. Berhubung pria yang disuapinya adalah tuan Mars, maka hukuman yang seharusnya mudah berubah menjadi susah. Karena tuan Mars, mengunyah makanannya dengan sangat lama. Bahkan saking lamanya, dalam waktu sepuluh menit. Baru tiga sendok makan yang masuk, ke dalam perut tuan Mars. Di tambah lagi dengan dirinya yang duduk di atas pangkuan tuan Mars, membuat Kejora tidak nyaman untuk bergerak.
"Tuan, bisa tidak mengunyahnya lebih cepat." Pinta Kejora, dengan suara yang sangat pelan.
Mars menghentikan gerakan mulutnya, lalu menatap Kejora dengan sangat tajam.
"Berani kau mengaturku?" Sentak Mars.
"Ti-tidak tuan, aku tidak berani. Maksud aku --- "
"Sudah, jangan banyak protes!" Mars mengunyah makanannya, dan kembali fokus pada berkas di tangannya. Pekerjaannya itu harus segera diselesaikan, agar Mars bisa pergi untuk melancarkan rencana yang lainnya.
"Tuan, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Em ... " Mars menjawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Boleh aku tahu? Kenapa tuan, selalu marah-marah padaku? Dan kenapa selalu menghukum aku? Bahkan tuan selalu memberikan hukuman, sejak kita bertemu." Rentetan pertanyaan keluar dari bibir Kejora.
"Kau ingin tahu alasannya?" Mars balik bertanya. Tatapan matanya kini menatap intens pada wajah Kejora.
"Iya, tuan. Aku ingin tahu." Kejora membalas pandangan mata tuan Mars.
Mereka berdua kini saling menatap, menyelami ke dalam mata masing-masing.
"Karena kau, selalu membuat aku kesal." Jawab Mars.
"Kenapa anda kesal padaku?" tanya Kejora lagi. "Aku merasa tidak pernah berbuat kesalahan pada tuan, selain kejadian waktu aku jatuh di atas tubuh anda." Seloroh Kejora, dengan tawanya. Ia mengingat kembali, kejadian di saat dirinya terjatuh dari atas tangga.
"Sudah puas tertawanya?" Mars menyentuh dagu Kejora, menariknya hingga membuat tidak ada jarak diantara mereka. "Aku kesal pada matamu, terutama pada warna mata yang kau miliki. Begitu jelek dan --- "
Kejora yang terkejut, langsung memotong pembicaraan tuannya. "Jadi tuan membenci aku, hanya karena mata? Eh, maksud aku warna mataku?"
__ADS_1
"Iya, apa kau puas." Mars melepaskan tangannya dari dagu Kejora, lalu menurunkan wanita itu dari pangkuannya. Ia tidak sanggup jika berlama-lama menatap mata Kejora.
Kejora yang masih terkejut, hanya bisa terdiam dengan menundukkan kepalanya. Ia tidak menyangka hanya karena warna matanya, membuat seorang tuan Mars selalu kesal dan berujung pada sebuah hukuman padanya.