
Kuningan.
Mars yang sudah sampai di kota kuda, menatap pada gerbang besar dan tinggi di depannya. Ia tidak pernah menyangka, jika sepupunya di hukum di tempat yang semewah ini. Tadinya ia berpikir, kalau Boy akan dihukum ditempat yang sangat kecil, kumuh, dan terpencil. Tapi kenyataan yang ada di depan matanya, jauh dari apa yang dibayangkannya.
"Ck, pantas saja iblis itu tidak mengeluh karena hukumannya. Ternyata tempatnya sangat mewah dan begitu nyaman." Gumam Mars, menjalankan mobilnya memasuki halaman Villa.
"Di mana tuan kalian?" tanya Mars, pada kedua pelayan yang ada di ruang tamu.
"Tuan B ada di villa belakang." Jawab pelayan wanita.
Mars berdecak dengan kesal. "Antar aku ke villa belakang!" perintah Mars.
Kedua pelayan yang ada di ruang tamu, saling berpandangan dengan wajah yang bingung.
"Maaf tuan, orang lain di larang masuk ke dalam villa belakang." Ujar salah satu pelayan tersebut.
"Kau bilang orang lain? Aku ini bukan orang lain! Aku adalah sepupunya." Sentak Mars, dengan wajah yang kesal. Bagaimana tidak kesal! Untuk masuk ke dalam villa saja, Mars harus menghubungi uncle Dafa agar di ijinkan melewati gerbang. Dan sekarang untuk masuk ke dalam villa belakang, ia di larang oleh dua orang pelayan.
Kedua pelayan lagi-lagi saling pandang dengan wajah yang bingung.
"Ba-bagaimana kami bisa tahu, jika Anda adalah sepupu tuan B?" pelayan satunya memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Oh God ... jangan bilang aku harus menghubungi uncle Dafa lagi, hanya untuk masuk ke villa belakang?" Gerutu Mars, dengan menghela napasnya.
"Aku rasa tidak perlu!" seru seseorang.
Mars yang tahu betul siapa pemilik suara itu, kini melihat sosok pria tampan dengan tinggi badan seperti dirinya, tengah berjalan mendekat.
"Agam Mateo ...." desis Mars, dengan senyum sinis dibibirnya.
"Apa kabar Mars?" tanya Agam dengan ekspresi datarnya, lalu memberi kode pada kedua pelayan untuk pergi.
"Cih, aku tidak perlu basa-basi darimu. Sekarang juga antar aku menemuinya!"
"A ... kau dengar tidak?" hardik Mars.
"Aku dengar! Tapi aku tidak akan membawamu ke B, kalau kau masih emosi seperti ini." Sahut Agam.
"Ck, kau itu benar-benar seperti bodyguard sekaligus pelayan iblis itu!" sindir Mars, dengan senyum sinis dibibirnya.
Agam hanya tersenyum tipis, saat Mars menghina dirinya. Ia tahu betul jika sepupunya, sedang sangat marah padanya, terlebih pada Boy.
"Cepat antar aku ke villa belakang! Atau aku akan mencarinya sendiri dengan mengobrak-abrik villa ini!" Ancam Mars dengan kedua tangan terkepal erat.
__ADS_1
"Mars ... tujuanmu datang ke villa ini, untuk mencari B atau mencari istrimu?" tanya Agam dengan sangat santai.
Mars terdiam sesaat, lalu baru menyadari bahwa tujuannya datang kemari adalah mencari Kejora. Tapi karena amarahnya yang begitu besar pada Boy, justru membuatnya melupakan istri tercintanya.
"Dimana Kejora?" tanya Mars, dengan tidak sabar.
"Dia ada di villa belakang."
"Di villa belakang? Jangan bilang Kejora dan B hanya berdua saja di sana?" geram Mars, dengan wajah yang sudah memerah karena marah. Ia tidak bisa membayangkan istri tercintanya, hanya berdua di satu ruangan bersama seorang pria berhati iblis seperti Boy.
"Tentu saja --" belum sempat meneruskan perkataannya, Agam hanya bisa menghela napasnya saat Mars berlari menuju villa belakang.
"Setidaknya dengan begini, ia kelelahan dan tidak punya tenaga untuk baku hantam dengan B." Gumam Agam, sambil mengikuti Mars dari belakang.
Beberapa saat kemudian.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Mars akhirnya sampai di depan pintu villa yang letaknya di belakang villa utama. Ia tidak pernah menyangka jika villa belakang, memang benar-benar berada di belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Ia bahkan merasakan lelah yang teramat sangat, di kedua kakinya.
"Akhirnya kau sampai juga!" Seru Agam, dari balik pintu.
"A ....?" pekik Mars, dengan wajah yang terkejut. "Ba-bagaimana bisa?" Mars tidak menyangka jika sepupunya itu sudah lebih dulu sampai di villa belakang.
__ADS_1