Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 98


__ADS_3

Di halaman belakang vila yang sangat luas, tampak seorang wanita cantik sedang duduk termenung di pinggir kolam ikan. Kakinya menjulur ke bawah, mengayun ke depan dan ke belakang dengan senyum yang tampak menghias di wajahnya. Senyum itu akan semakin melebar, saat mata hitam pekatnya, melihat ikan-ikan di kolam berebut makanan yang dilemparnya.


Dan saat wanita itu hendak melemparkan makanan yang entah sudah ke berapa kalinya, gerakan tangannya terhenti saat ia menangkap sosok pria yang sangat dirindukannya, tengah berdiri di sampingnya. Ia merasa tidak begitu terkejut dengan kehadiran pria itu, karena hampir setiap harinya Kejora selalu berimajinasi kalau pria itu datang ke villa untuk menemuinya.


"Kau datang lagi!" Ujar Kejora dengan senyum dibibirnya.


Mars yang berdiri di samping Kejora, tampak bingung dengan perkataan yang diucapkan oleh istrinya. Karena Kejora bilang kalau dia datang lagi, padahal ini kali pertama Mars menemui Kejora. Dan bukan hanya perkataan Kejora yang membuatnya bingung, tapi reaksi dari Kejora saat melihat dirinya.


Tadinya Mars sempat berpikir, Kejora akan marah dan berlari saat melihat kehadirannya. Mengingat perkataan Boy dan Agam yang mengatakan Kejora tidak mau pulang untuk bertemu dengannya. Tapi yang di dapat Mars kini justru sebaliknya, Kejora tampak biasa saja saat bertemu dengannya, dan bahkan istrinya itu tersenyum kepadanya.


"Kenapa kau diam saja? Sekali-kali kalau kau datang katakanlah sesuatu! Karena aku rindu dengan suaramu yang membentak diriku." Ucap Kejora, dengan pandangan mata yang menerawang kearah kolam.


Mars yang masih diam, sampai mengerutkan keningnya saat mendengar Kejora rindu dengan suara bentakannya.


"Apa hanya suara bentakan yang kau rindukan dariku?" Mars mencoba membuka suaranya, agar ia paham apa yang tengah terjadi.


Mendengar suara yang keluar dari bayangan Mars, Kejora langsung menengok kearah bayangan tersebut. Ia tidak pernah menyangka bisa mendengar suara yang sangat dirindukannya itu.

__ADS_1


"Akhirnya kau bersuara juga." Kejora tersenyum menatap bayangan Mars. "Kalau begini kan enak, walaupun hanya berbicara dengan bayangan, setidaknya bayanganmu bisa berbicara denganku." Kejora kembali menatap ikan yang ada di dalam kolam. Ia tidak sanggup jika terus-menerus melihat bayangan Mars, bayangan pria yang sangat dirindukannya, sekaligus pria yang membuat hatinya kesal dan marah.


Mars yang mulai paham, jika Kejora hanya menganggap dirinya bayangan. Mulai tersenyum dengan seringai licik dibibirnya.


"Apa kau merindukan aku?" Mars mulai mengintrogasi perasaan Kejora kepadanya.


"Ish, tentu saja aku sangat merindukanmu. Karena sudah satu bulan ini, aku tidak bertemu denganmu, dan hanya bisa menatap bayanganmu." Lirih Kejora. "Kau tahu? Aku bahkan dikatai wanita aneh dan gila, oleh sepupumu yang laknat itu." Kejora menatap ke arah vila, dengan wajah yang gugup. Ia takut Boy mendengar umpatannya, dan akan berakhir dengan pengusiran dirinya dari vila ini.


Sementara itu Mars, justru tersenyum mendengar pengakuan Kejora. Karena setidaknya wanita itu merindukan dirinya, di saat wanita itu marah dan tidak ingin bertemu dengannya.


"Mencintaimu?" Kejora mengulangi perkataan bayangan Mars, sambil menghela napasnya. "Apa perasaan cintaku penting? Di saat kau justru mencintai wanita lain." Lirih Kejora dengan kepala tertunduk.


Deg


Seketika itu juga Mars merasa bersalah saat mendengar ungkapan perasaan Kejora. Ingin rasanya Mars memeluk Kejora, dan mengatakan kalau cintanya hanya untuk Kejora seorang.


"Kenapa kau bisa yakin, kalau aku mencintai wanita lain? Memangnya kau sudah bertanya padaku?"

__ADS_1


Kejora hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Seharusnya kau itu bertanya padaku, bukannya mengambil keputusan dengan pergi begitu saja." Mars menghela napasnya.


"Aku pergi darimu, karena aku tidak mau mengganggu kalian. Dan aku juga tidak mau kau menyalakan aku lagi atas sakitnya kak Katie." Kejora berucap, dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. "Aku bersumpah Mars, aku tidak tahu jika kak Katie di dalam sana sedang sekarat, dan kenapa aku tidak menghubungimu, karena aku tidak punya nomer ponselmu." Kejora menahan tangisnya agar tidak kencang, hingga bahunya berguncang dengan hebat.


Melihat Kejora yang menangis, Mars dengan segera merengkuh tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku...." Mars mengecup rambut Kejora dengan penuh kasih, dengan tangan yang masih memeluk tubuh istrinya dengan erat. "Maafkan aku ...."


Bukannya berhenti menangis, Kejora justru semakin terisak dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. Dan Mars hanya bisa memeluk, sambil mengatakan kata maaf.


Dan setelah beberapa saat, Kejora yang sudah sedikit tenang, mulai mengusap air matanya.


"Terima kasih bayangan Mars, karena berkat dirimu, beban di hatiku bisa sedikit berkurang." Ucap Kejora dengan senyum dibibirnya. "Kau tahu? Baru kali ini aku mendapatkan pelukan dari sebuah bayangan. Dan rasanya begitu nyata." Seloroh Kejora sambil mengusap bayangan tangan Mars yang masih memeluk tubuhnya.


"Kenapa menyentuh tangannya begitu terasa nyata? Bukankah menurut film yang aku tonton, kalau bayangan itu tidak bisa dipeluk dan di sentuh." Gumam Kejora dalam hati, dengan penuh kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2