
Beberapa hari kemudian.
Setelah kejadian di taman tempo hari, Kejora semakin sulit berkomunikasi dengan tuan Mars. Tuan Mars mendiamkan dirinya, dan tidak pernah sekalipun menyapa atau marah-marah seperti yang sering dilakukannya. Ada sesuatu yang hilang di hati Kejora, saat tuan Mars tidak lagi memarahinya atau berbuat seenaknya seperti yang sudah- sudah.
Dan puncaknya kemarin malam, saat tuan Mars menyerahkan sebuah boks berukiran emas dengan inisial M&M diatasnya. Di dalam boks tersebut ada kotak pink kecil, berhiaskan brokat emas nan mewah. Berdampingan dengan sebuah kartu, yang bertuliskan tempat dan waktu acara pernikahan tuan Mars dan Monica.
Dan saat ini, Kejora sedang duduk di ruang tengah dengan perasaan yang sangat gelisah. Sudah sejak pagi, Kejora menunggu tuan Mars keluar dari kamarnya. Hanya untuk memastikan kalau suaminya itu, memang akan menikah hari ini.
Klek
Suara pintu kamar terbuka, menampilkan sosok pria tampan dan gagah. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna putih, dengan tatanan rambut yang terlihat sangat rapih. Membuat penampilan pria itu, seperti seorang pangeran berkuda yang akan menjemput seorang putri.
"Tuan ...." Kejora memberanikan diri untuk menyapa tuan Mars, sebelum tuannya itu pergi.
Mars yang disapa oleh wanita yang sudah membuat hatinya kecewa, hanya menoleh sekilas pada Kejora lalu kembali berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Aku minta maaf ...." Lirih Kejora. Menatap punggung tuan Mars, yang terlihat berjalan menuju pintu apartemen.
Mars menghentikan langkahnya."Minta maaf, untuk apa?" Sinis Mars, tanpa menatap Kejora.
"Aku minta maaf, karena ..." Kejora terdiam sesaat. "Karena aku sudah berbohong waktu itu, dan tidak membantu merawat lukamu." Lirih Kejora, dengan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak butuh bantuan mu, karena sudah ada Monica yang merawat aku."
Deg
"Oh, ya. Kau bersiap-siaplah! Setengah jam lagi, akan ada supir datang untuk mengantarmu ke tempat pernikahan aku dan Monica." Ucap Mars, kembali melanjutkan langkahnya.
"Tapi aku tidak bisa datang." Perkataan itu keluar begitu saja, dari bibir Kejora.
"Kenapa?" Mars membalikkan tubuhnya, untuk menatap wajah Kejora. Wajah yang sudah membuatnya merasakan perasaan cinta sekaligus sakit hati.
__ADS_1
"Dia bilang kenapa? Apa dia bodoh? Ataukah memang dia manusia yang tidak punya hati? Mana ada wanita di dunia ini, yang sanggup datang ke acara pernikahan suaminya sendiri! Sekalipun aku tidak mencintainya, begitupun sebaliknya." Kejora bermonolog pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau tidak bisa datang?" Mars mengulangi pertanyaannya, karena Kejora diam saja.
"Karena mana ada seorang istri, yang datang ke acara pernikahan suaminya dengan wanita lain." Cicit Kejora.
"Seorang istri?" Mars tersenyum sinis. "Dan mana ada seorang istri yang bertemu dengan pria lain, dan membiarkan pria itu mengecup keningnya." Sindir Mars, sambil membuka pintu apartemen. "Jangan lupa! Setengah jam lagi, jadi bersiaplah!" Mars menutup pintu apartemennya dengan sangat keras.
Kejora yang terkejut, seperti biasanya mengeluarkan latahnya dengan menyebut semua nama bintang.
"Tuan Mars, itu kenapa sih? Kenapa dia terlihat marah? Seharusnya aku yang marah, karena dia menikah lagi! Tapi kenapa jadi terbalik seperti ini?" Kejora menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kejora merasa bingung dengan sikap tuan Mars kepadanya. Ia mengingat kembali kejadian Rian tempo hari, dan mengaitkannya dengan kejadian Kak Aries beberapa hari yang lalu.
"Apa mungkin tuan Mars cemburu pada mereka?" Gumam Kejora. Menautkan kedua alis matanya, dengan wajah yang tampak berpikir keras. "Ya ampun, Kejora." Ia menepuk keningnya sendiri. "Mana mungkin tuan Mars cemburu? Dan untuk apa dia cemburu? Apalagi hari ini, dia akan menikah dengan wanita yang dicintainya. Jadi jangan terlalu percaya diri, dengan beranggapan kalau tuan Mars itu cemburu karena mencintaimu." Kejora menghela napasnya, lalu berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Ia harus bersiap-siap untuk datang ke acara pernikahan tuan Mars dan Monica. Dan bukan hanya tampilannya saja yang harus ia siapkan, tapi hati dan mentalnya pun harus ia siapkan untuk melihat suaminya bersanding dengan wanita lain.