
Setelah keterkejutan Mars, yang baru menyadari kalau wanita yang dilihatnya adalah Kejora asli dan bukan bayangan. Kini suasana di dalam kamar, terasa sangat hening. Tidak ada suara yang keluar, dari dua orang yang sedang duduk berhadapan di atas sofa. Yang ada hanya tatapan tajam, dari pria itu pada wanitanya yang sedang menundukkan kepala.
"Katakan! Bagaimana bisa kau ada di apartemen?" tanya Mars. Karena ia masih tidak mengerti, kenapa bisa Kejora yang dikatakan sudah pergi jauh tiba-tiba ada di dalam kamarnya.
"Aku naik mobil, diantar oleh orang-orang kak Aries." Jawab Kejora, dengan polos. Ia duduk dengan gelisah, sambil meremas ujung pakaiannya tanpa berani menatap tuan Mars.
"Kejora, bukan itu maksud pertanyaan aku." Mars menghela napasnya. "Aku itu bertanya, kenapa bisa kau ada di apartemen? Sedangkan sebelumnya kau itu diculik oleh si manusia domba itu!"
"Tuan, namanya itu Aries. Bukan si manusia domba." Protes Kejora, masih dengan kepala tertunduk.
"Kejora!"
Mars memukul meja yang ada di depannya.
"Eh kod ...." Kejora langsung menutup mulutnya, agar tidak mengeluarkan semua nama yang ada di kebun binatang.
"Cepat Jawab!" Mars menatap intens, wanitanya. "Dan liat aku! Jika aku sedang mengajakmu berbicara." Ucap Mars, yang sedari tadi melihat Kejora menundukkan kepalanya.
"Aku tidak berani melihat anda." Sahut Kejora.
__ADS_1
"Kenapa tidak berani?" Mars mengerutkan keningnya karena bingung.
"Aku takut khilaf." Cicit Kejora.
"Khilaf?" Mars yang masih bingung, tampak berpikir keras.
"Tuan, bisa tidak! Anda memakai pakaian dulu! Aku benar-benar takut khilaf."
Mars langsung menatap tubunnya, dan baru tersadar ia masih tidak mengenakan apa pun. Pantas saja, sejak tadi Mars merasa tubuhnya sangat dingin.
"Ehem ...." Mars berdeham dengan keras, lalu menyilangkan satu kakinya. Berusaha bersikap cool untuk mengurangi rasa malunya.
"Aku tidak mau!" Mars berkata, dengan seringai licik dibibirnya. Ia sudah membayangkan untuk membawa Kejora ke atas tempat tidurnya. Namun pikiran itu harus dihilangkan dulu, sebelum ia tahu dengan pasti apa yang terjadi pada istrinya itu. "Cepat katakan! Bagaimana bisa kau diperbolehkan pulang?" tanya Mars.
"Aku sendiri tidak tahu, tuan. Saat itu Kak Aries ingin membawaku pergi jauh. Tapi setelah ia menerima telepon dari seseorang, kak Aries justru melepaskan aku dan menyuruhku untuk pulang ke apartemen." Kejora menjelaskan pada tuan Mars, apa yang terjadi padanya.
Mars terdiam, lalu berjalan untuk mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Sementara Kejora yang sejak tadi menundukkan kepalanya, sesekali melihat tuan Mars lalu mengelus dadanya.
"Ya tuhan, aku bisa bertahan sampai kapan?" Lirih Kejora, menepuk kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotornya. "Bagaimana bisa si planet itu berjalan di dalam kamar dengan bertelanjang seperti itu?" umpat Kejora dalam hati.
__ADS_1
Sementara itu Mars, yang sedang menghubungi ponsel Tom. Dapat melihat dengan jelas, apa yang sedang dilakukan oleh Kejora. Mars tersenyum tipis melihat kelakuan istrinya itu, dan sudah tidak sabar untuk mengurungnya di dalam kamar seharian ini.
"Kemana, Tom?" Gumam Mars, saat teleponnya tidak tersambung. Ia melihat sekilas pada Kejora, lalu teringat sesuatu. Dengan segera ia membuka laptop miliknya, dan menemukan sesuatu yang sejak semalam ia cari.
"Sial! Jadi dia itu memang seorang Domba!" Umpat Mars. Ia bergegas menuju walk in closet, lalu memakai pakaiannya.
"Tuan, anda mau kemana?" Tanya Kejora, saat melihat tuan Mars sudah berpakaian rapih.
"Aku ada urusan penting! Kau diam disini, dan jangan kemana-mana!" Perintah Mars, lalu berjalan menuju pintu. Saat sudah sampai di depan pintu, Mars yang melupakan sesuatu langsung berjalan menuju Kejora.
"Cup ...."
Mars mengecup kening Kejora, lalu menatap intens wajah istrinya.
"Ingat! Jangan pergi kemana-mana." Mars bergegas keluar dari kamarnya.
Kejora yang melihat kepergian tuan Mars, hanya bisa mengedipkan kedua matanya. Ia mengusap keningnya, yang tadi dicium oleh tuan Mars.
"Jantungku." Kejora merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Ada perasaan asing yang menelusup kedalam hatinya, yang membuat dadanya seperti dipenuhi oleh bunga-bunga dan kupu-kupu yang berterbangan.
__ADS_1