Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 99


__ADS_3

Kejora yang masih bingung, mengapa bisa menyentuh sebuah bayangan. Kini menatap intens pada wajah bayangan Mars yang ada di sampingnya.


"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, justru akulah yang seharusnya meminta maaf padamu." Mars mengecup pipi Kejora.


Deg


Seketika itu juga jantung Kejora berdegup dengan kencang, ada perasaan bahagia sekaligus bingung. Kenapa sebuah bayangan bisa menciumnya dengan begitu lembut, dan begitu terasa sampai ke dalam hati.


"Tunggu dulu! Kau itu bayangan bukan?" Kejora melepaskan pelukan bayangan Mars, lalu berdiri sambil menelisik sosok tersebut. "Kenapa kau begitu nyata?" selidik Kejora.


"Menurutmu?" Mars terkekeh, saat melihat Kejora belum juga menyadari kalau dirinya adalah Mars yang nyata dan bukan hanya sekedar bayangan.


"Menurutku...." Kejora memutar bayangan Mars, dengan tatapan intens. "Tentu saja kau itu bayangan! Karena mana mungkin Mars asli bisa menemukan aku." Seloroh Kejora, sambil tertawa.


"Kenapa tidak mungkin?" Mars menautkan kedua alis matanya.


"Ish, pasti tidak mungkin. Karena B bilang, Mars itu bodoh, dan tidak akan bisa menembus pertahanan dari seorang Boy Arbeto." Ucap Kejora dengan tersenyum.


"Damn! B, kau itu sudah keterlaluan, sampai mengatai aku bodoh di depan istriku." Geram Mars dalam hati.


"Dari yang aku lihat, kau begitu terpesona saat menyebut nama Boy Arbeto. Apa kau tertarik dengannya?" Mars bertanya, dengan kobaran api kecemburuan di hatinya. Bagaimana tidak cemburu, jika melihat dan mendengar wanitanya menyanjung pria lain.


"Ya ampun bayangan Mars, tentu saja aku tertarik pada B, dan bukan hanya B. Aku juga tertarik pada A. Karena mereka itu tampan, baik, dan masih banyak lagi kelebihan mereka, yang membuat aku betah tinggal di vila ini." Ucap Kejora, sambil membayangkan wajah tampan B dan A.


"Oh, jadi kau betah tinggal di sini, karena ada mereka berdua?" geram Mars, dengan kedua tangan yang terkepal erat.

__ADS_1


Kejora menjawab dengan anggukan kepala, dengan penuh keyakinan.


"Oke fine, kalau kau betah tinggal di sini. Maka jangan pulang lagi ke apartemen!" Sentak Mars.


"Ish, lagi pula siapa juga yang mau pulang." Sahut Kejora dengan mencebikkan bibirnya.


"Kau... berani kau padaku?" Geram Mars.


"Ck, tentu saja aku berani, kau itu hanya sebuah bayangan, dan bayangan tidak akan bisa berbuat apa-apa." Cibir Kejora. "Justru aku yang bisa dengan bebas berbuat apa pun pada sebuah bayangan." Kejora memukul kepala bayangan Mars dengan penuh tenaga. "Lihatkan? Bayangan hanya diam saja dan tidak bisa membalas." Kejora tertawa penuh kemenangan.


Mars memang hanya diam, menerima pukulan dari Kejora. Karena yang ada di pikirannya saat ini, adalah Kejora yang tidak mau pulang.


"Jadi kau benar-benar tidak mau pulang?" tanya Mars dengan tatapan penuh kesedihan.


"Emm... sebenarnya hatiku ini lima puluh persen tidak mau pulang, dan lima puluh persen ingin pulang. Tapi yang pasti di dalam hatiku, aku sangat rindu dengan planet ku! Apa lagi ...." Kejora terdiam, lalu tersenyum malu-malu.


"Aku merindukan malam panas kita." Bisik Kejora dengan tersipu malu.


Mars langsung tergeletak, saat mengetahui otak mesum istrinya ternyata masih berfungsi dengan baik.


"Kau merindukan yang bagian mana?" Selidik Mars.


"Emm... saat kau memangku dan --" Kejora berbisik dengan wajah yang merona merah karena malu.


"Ohh ...." Mars tersenyum setelah tahu posisi seperti apa saja yang disukai oleh Kejora. "Apa kau mau tahu? Bagian tubuhmu yang menjadi favoritku?" Mars mengedipkan satu matanya menggoda Kejora.

__ADS_1


"Eh, kenapa kau berkata seperti itu? Kau kan hanya --" Belum sempat meneruskan perkataannya, suara dari arah belakang membuat Kejora terkejut.


"Hey kalian! Berani sekali kalian berkata mesum di vila ku!" Sentak Boy.


Ia merasa kesal ketika mendengar pembicaraan mesum di antara mereka. Bukan tanpa alasan Boy marah, karena jika otak mesumnya ikut terpancing, bisa parah jadinya. Karena Boy tidak punya pasangan untuk melampiaskannya.


"B... kau mendengar perkataan aku?" pekik Kejora dengan terkejut.


"Bukan hanya perkatanmu, tapi juga perkataan manusia planet itu!" Sinis Boy.


"Manusia planet?" Kejora lalu melihat kearah bayangan Mars, dan menelisik dari atas sampai bawah. "B, apa kau bisa melihatnya?" tanya Kejora, sambil menunjuk bayangan Mars.


"Ck, tentu saja aku bisa melihatnya! Kau kira aku buta." Boy meng-gelengkan kepalanya.


"Jadi ... dia ..." Kejora menatap bayangan Mars, dengan wajah yang terkejut. Apalagi saat melihat bayangan Mars, menyeringai padanya. Membuat Kejora langsung cegukan.


"Kejora, aku --" Mars hendak memeluk Kejora, namun langkahnya terhenti saat tangan istrinya melarang.


Hik... hik...


Kejora yang cegukan terus menepuk dadanya, sambil berjalan mundur.


"Kejora apa kau baik-baik saja?" Mars khawatir saat melihat Kejora yang cegukan.


"Diam..! Hik.. kau itu.. hik.. aku benci.. hik.. padamu." Kejora berlari masuk ke dalam vila, karena merasa sangat kesal dan malu pada Mars. Ia merasa sangat bodoh, karena tidak menyadari kalau bayangan itu adalah Mars yang sebenarnya.

__ADS_1


Sementara Mars yang ditinggal pergi Kejora, hanya bisa terdiam menatap punggung Istrinya yang menghilang di balik pintu.


__ADS_2