
🔞 Tolong dibaca pada malam hari 🙏
"Kau memberikan cincin ini untukku, karena kau ....?" Kejora menatap ke dalam mata biru milik Mars.
"Ya, karena itu." Sahut Mars, dengan cepat. Ia akhirnya bisa bernapas dengan lega, karena Kejora bisa memahami isi dihatinya tanpa harus mengutarakannya.
"Ah, terima kasih Mars." Kejora langsung tersenyum bahagia. "Kau memberikan bonus cincin, karena aku bekerja dengan sangat baik sebagai seorang pembantukan?" Seloroh Kejora.
"What?" Pekik Mars. Lalu reflek mencubit pipi Kejora dengan gemas, setelah mendengar perkataan konyol Istrinya itu. Bagaimana bisa wanita itu tidak peka, setelah semua yang ia lakukan untuknya.
"Aw ... kenapa kau mencubit pipiku?" Gerutu Kejora, sambil mengusap pipinya.
"Karena kau itu terlalu percaya diri, dengan mengatakan kau bekerja dengan sangat baik sebagai seorang pembantu." Sinis Mars, dengan wajah yang kesal.
"Kalau begitu, apa alasanmu memberikan cincin ini padaku?" Kejora mengerutkan keningnya.
"Aku akan mengatakan alasannya, tapi sebelum itu ...." Mars langsung menindih tubuh Kejora. "Setelah kita melakukan pemanasan lagi." Bisik Mars, dengan kabut gairah yang sudah menyelimuti kedua matanya.
"Aku tidak mau, sebelum kau mengatakan apa alasanmu?" Kejora berusaha bersikap tegas. Padahal sejujurnya, ia pun ingin kembali merasakan kenikmatan tersebut. Namun Kejora berusaha untuk menghilangkan pikiran kotor itu, karena ia sangat penasaran kenapa Mars memberikan cincin itu padanya.
__ADS_1
"Aku tidak menerima penolakanmu!" Bisik Mars dengan seringai licik dibibir.
Lalu ia memulai kembali percintaan panas mereka, walupun tanpa persetujuan dari Kejora. Karena memang sebelum-sebelumnya, Mars pun selalu melakukannya walaupun Kejora menolak.
Satu jam sudah mereka lewati dengan kegiatan panas ditubuh mereka. Dan setelah Mars mendapatkan pelepasannya, ia langsung ambruk ditubuh Kejora tanpa melepaskan penyatuannya.
"Ih, berat tahu!" Kejora berusaha untuk menyingkirkan tubuh Mars. "Dan cepat keluarkan!" Pinta Kejora, yang merasa sangat risih karena mereka masih menyatu.
"Apa yang dikeluarkan?" Goda Mars, yang masih belum ingin beranjak dari atas tubuh Kejora.
"Itunya ...." Ucap Kejora, dengan malu-malu. Ia bingung harus menyebutnya apa.
"Ih, itunya." Kejora memberikan kode, dengan melirik kebawah.
"Kejora, kau jangan membuat aku bingung! katakan, apa yang harus aku keluarkan?" Mars semakin menggoda Kejora.
"Masa kau tidak mengerti?" Kejora menghela napasnya, lalu menatap intens wajah Mars yang terlihat menahan tawa. Dan seketika itu juga, Kejora menyadari satu hal. Bahwa saat ini, pria itu sedang mengerjai dirinya. "Tolong cacingnya dikeluarkan dulu!" Bisik Kejora, yang membalas perbuatan Mars.
"What? Cacing?" Maksudmu worm?" Sahut Mars, dengan wajah yang tak percaya. Karena juniornya yang panjang disebut cacing oleh Kejora.
__ADS_1
"Ya, cacing." Kejora lalu tertawa terbahak-bahak.
Mars hanya menggelengkan kepalanya, lalu melepaskan penyatuan mereka.
"Kau marah?" tanya Kejora, saat melihat Mars yang masih berada di atasnya. Dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
"Tidak, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku --" Mars kembali terdiam.
Kejora pun ikut terdiam, sambil menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Mars.
"Aku hanya ingin mengatakan, kalau aku sangat --"
"Ting ... Tong ...."
Suara bel pintu membuat Mars menghentikan ucapannya. Lalu mereka saling menatap satu dan lainnya, setelah melihat jam yang ada di dinding kamar.
"Siapa yang bertamu, tengah malam seperti ini?" Gumam Mars. Ia lalu turun dari tubuh Kejora, dan segera memakai celana tanpa mengenakan pakaiannya. "Kau tunggu disini! Dan jangan memakai pakaianmu!" Setelah mengatakan perintahnya, Mars lalu keluar dari kamar.
"Ish, dia itu mesum sekali!" Gerutu Kejora, dengan wajah yang kesal. Karena sudah dua kali Mars membuatnya kehabisan tenaga. Tapi masih saja menyuruhnya, untuk tidak mengenakan pakaian. Padahal saat ini yang ingin Kejora lakukan hanyalah tidur.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lainnya. Mars yang sudah membuka pintu, merasa sangat terkejut saat mengetahui siapa yang datang ke apartemennya. Perasaannya tidak karuan, saat melihat sosok itu menangis sambil memeluk dirinya.