
Apartemen Casa Grande.
Mars yang sudah pulang dari kantor, berjalan masuk ke dalam apartemennya. Langkahnya terhenti saat melihat kamar Kejora yang lampunya menyala lalu mati, dan terdengar suara tepuk tangan dari dalam. Dengan perlahan Mars mendekati pintu kamar Kejora, dan melihat wanita itu sedang asik bermain lampu dengan wajah yang tersenyum.
"Wanita yang aneh." Gumam Mars. Menggelengkan kepalanya, lalu berjalan memasuki kamarnya. Ia menatap pakaian ganti miliknya, yang sudah berada di atas tempat tidur. Mars mengambil pakaian yang dipilih oleh Kejora, dan tersenyum penuh arti. Ini sudah ke dua kalinya, Kejora menyiapkan pakaian ganti untuknya.
***
Kejora yang merasa bosan berada di dalam kamar, memutuskan untuk menunggu kedatangan tuan Mars di ruang tengah. Ia melihat jam dipergelangan tangannya, dengan kening yang berkerut.
"Kenapa dia belum pulang?" gumam Kejora.
Setelah menunggu dua puluh menit diruang tengah, Kejora berjalan menuju ruang makan lalu duduk di atas kursi. Menatap makanan yang tadi di masaknya, dengan air liur yang hampir menetes dari mulutnya.
"Aku sangat lapar! Apa aku makan lebih dulu saja?" Kejora mengelus perutnya yang mulai keroncongan.
"Berdiri dari kursi ku!"
__ADS_1
Suara seseorang dari arah belakang, membuat Kejora terkejut. Ia pun reflek berdiri dari kursi.
"Eh tuan, anda sudah pulang?" Kejora menatap tuan Mars, yang sudah mengenakan pakaian ganti. "Tuan Mars ini, kalau pulang selalu seperti hantu." Gumam Kejora dalam hati.
"Sudah tiga puluh menit yang lalu." Mars langsung duduk, di kursi yang tadi ditempati oleh Kejora.
"Tiga puluh menit yang lalu?" Pekik Kejora, dengan wajah yang terkejut. "Kenapa aku tidak melihat kedatangan anda?"
"Karena kau sibuk bermain dengan lampu yang yang ada di kamarmu." Sindir Mars.
"Ya tuhan, jadi anda melihatnya?" Kejora langsung menutup wajahnya karena malu.
"Tuan, aku ini bukan sok imut. Tapi dari dulu, aku itu sudah imut." Sahut Kejora dengan penuh percaya diri.
Mars yang sedang minum sampai menyemburkan air yang diminumnya, saat mendengar perkataan Kejora.
"Astaga, baru kali ini aku menemui wanita yang percaya diri sepertimu!" Sindir Mars.
__ADS_1
"Aku bukan percaya diri, tapi aku berbicara tentang fakta." Tangan Kejora dengan telaten menyiapkan makan malam untuk tuan Mars.
"Cih ... " Mars mendengus kesal. "Kenapa kau masih berdiri?Cepat duduk! Kau bilang tadi lapar?"
"Tidak tuan, terima kasih. Aku makan di dapur saja."
Mars langsung menatap Kejora, dengan wajah yang bingung.
"Kalau kau makan di dapur, lalu untuk apa kau menungguku?"
"Iya, ya. Kenapa aku menunggumu?" Kejora balik bertanya, dengan wajah yang bingung. Ia baru sadar, kalau statusnya itu hanya seorang pembantu. Jadi untuk apa dia menunggu tuannya untuk makan bersama.
Mars menghela napasnya, lalu menyuruh Kejora untuk duduk di sampingnya. Mars menyuruh Kejora untuk makan bersamanya, tanpa adanya penolakan. Dan mau tidak mau, Kejora ikut makan bersama tuan Mars dengan kepala yang tertunduk. Mereka berdua makan malam dengan hening, tanpa ada percakapan sama sekali. Hanya ada suara dentingan sendok dan piring, yang menemani makan malam mereka.
"Kau mau ke mana?" Mars yang duduk di ruang tengah, menatap Kejora yang hendak masuk kedalam kamar.
"Aku ingin -- "
__ADS_1
"Kemarilah ....!" Mars menunjuk sofa di sebelahnya.