
"Ya kau betul." Sahut Agam tanpa menoleh kearah Boy dan Mars.
"Sial!" umpat Mars saat menyadari dirinya masuk ke dalam perangkap seorang Boy Arbeto, yang pintar membolak-balikkan perkataan.
"Jadi katakan apa yang bisa aku bantu?" Boy sengaja memaksa Mars untuk bercerita, karena sudah tidak sanggup menahan rasa penasarannya akan perubahan sikap Mars yang kembali dingin dan tertutup.
Mars menatap Boy lalu beralih menatap Agam yang masih sibuk dengan ponselnya, terlintaslah sebuah ide untuk mengerjai keduanya karena ia masih segan bercerita tentang aib keluarga besar Graham.
"Aku tidak akan cerita jika hanya kau yang mendengarnya." Mars menyeringai tipis pada Boy dan Agam.
Boy yang awalnya tidak mengerti dengan perkataan Mars, kini menatap pada arah padangan yang dituju oleh Mars.
__ADS_1
"A, taruh ponselmu!" perintah Boy pada Agam.
"Apa?" seketika itu juga Agam mengalihkan tatapan matanya dari ponsel kesayangannya.
"Taruh ponselmu!" Boy memberi kode dengan tatapan tajamnya.
Agam yang tidak mau menaruh ponselnya langsung berdebat dengan Boy, dan semua itu sukses membuat Mars tertawa terbahak-bahak. Itulah tingkah kedua sepupunya yang terbilang sangat aneh, jika Boy begitu memuja kaum hawa maka Agam begitu memuja ponselnya.
"A, kau mau aku pecat jadi sepupuku!" ancam Boy saat Agam tidak mau melepaskan ponselnya.
"Cepat katakan apa masalahmu!" ucap Boy setelah melihat Agam menaruh ponselnya di dalam saku pakaiannya.
__ADS_1
Mars menatap pada Boy dan Agam yang saat ini menatap dirinya dengan sangat tajam, dan mau tidak mau Mars menceritakan apa yang tejadi pada Venus saudara kembarnya, dan pertengkaran antara dirinya dengan Mom Dila dan Dad Aiden, serta sikapnya yang kembali dingin pada Kejora.
Boy yang sangat marah mendengar cerita tentang keadaan Venus, sampai memecahkan botol minuman yang ada di atas meja. Membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut diam seketika, dan Agam yang mengerti dengan keadaan yang sudah tidak kondusif menyuruh semua orang yang ada di ruangan untuk keluar.
klub yang tadinya dipenuhi oleh beberapa teman dan kolega bisnis Boy Arbeto, kini tampak sepi dan hanya menyisakan tiga orang di dalamnya. Tidak ada lagi hingar-bingar dan bunyi musik yang sejak tadi memenuhi ruangan tersebut.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" geram Boy dengan tangan yang terkepal erat. "Kenapa Aunty Dila tidak menceritakan masalah ini pada Mom Luna dan Dad Dafa?"
"Aku sudah katakan bukan, semua ini keinginan Venus yang tidak ingin siapa pun tahu keadaannya." Terang Mars.
"Tapi kami bukan orang lain! Apa kau lupa kita bersaudara?" sindir Boy dengan sinis. "Venus sudah aku anggap seperti adikku sendiri, sama seperti Baby." Boy yang sangat marah sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1
"Jadi sampai detik ini kau tidak tahu siapa pria yang menghamili Venus?" Agam yang sejak tadi hanya diam kini membuka suaranya, ia juga merasa sakit dan tidak terima mendengar keadaan Venus yang hamil tanpa seorang suami.
Mars menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang sedih. "Aku terikat pada keinginan kedua wanita yang sangat aku sayangi, Mom Dila dan Venus. Dan aku tidak ingin membuat mereka kecewa lagi terhadapku." Mars yang tidak bisa menahan lagi kesedihannya tanpa terasa meneteskan air matanya.