Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 182 Season 3


__ADS_3

"Kau tidak bisa bersikap seperti itu, karena yang berhak mengambil keputusan hanyalah Venus dan kedua orangtuanya." Aries berkata dengan sorot mata yang tajam.


"Tentu saja aku berhak, apa kau lupa aku kakaknya?" Sinis Mars. "Dan sekarang aku minta kalian angkat kaki dari mansionku!" usir Mars dengan kasar.


"Kak .... " lirih Venus.


"Kenapa? Apa kau ingin membela mereka?"


"Bukan seperti itu Mars, hanya saja tidak sopan mengusir seorang tamu."


"Mereka bukan tamu yang diundang, jadi kita tidak perlu bersikap sopan pada mereka." Ketus Mars.


Seketika itu juga Aries mengepalkan kedua tangannya, untuk menahan emosi yang sejak tadi membara dihatinya.


"Maaf Tuan Gideon, Tuan Aries sebaiknya kalian pulang! Aku tidak mau—"


"Venus aku tidak akan pergi dari mansion ini sebelum mendengar jawabanmu." Ucap Aries dengan tegas.

__ADS_1


"Berani kau memaksa adikku!"


Mars menghampiri Aries dan hendak memukul bajingan itu, dan Aries pun tidak tinggal diam dengan mengambil ancang-ancang untuk membalas pukulan Mars.


"Berhenti!" pekik Kejora. "Kalian ini belum puas untuk saling memukul? Apa kalian tidak malu pada Tuan Gideon?"


Mars dan Aries langsung terdiam dan kembali duduk di sofanya masing-masing,


"Mars aku tahu kau sangat marah pada Kak Aries karena sudah berani menyentuh Venus adik kesayanganmu, tapi kau tidak boleh menutup mata bahwa apa yang terjadi diantara mereka bukan hanya kesalahan kak Aries seorang, karena Venus pun turut andil atas apa yang terjadi." Kejora mengusap tangan Mars untuk meredakan emosi di hati suaminya. "Sekarang yang bisa kau lakukan sebagai kakak adalah memberikan yang terbaik untuk Venus dan calon keponakanmu, dengan mendukung apa yang diinginkan adikmu."


"Yang terbaik untuk Venus adalah kembali ke London dan melupakan semua yang terjadi."


"Kenapa kita tidak bertanya langsung pada Venus apa yang diinginkannya? Menerima lamaran Aries? Atau menolaknya?" Sahut Gideon.


Semua orang lalu menatap pada Venus.


"Baiklah kita tanya langsung pada adikku, cepat katakan Venus Graham apa yang kau inginkan?" Mars yakin kalau Venus pasti akan menolak Aries, karena adiknya itu sudah menolak manusia domba itu sejak tiga bulan yang lalu dengan tidak meminta pertanggung jawaban dari bajingan itu.

__ADS_1


"Aku ...." Venus menundukkan kepalanya karena merasa bingung harus menjawab apa.


"Venus katakanlah apa yang kau inginkan? Kau tidak perlu takut pada Mars, karena aku akan mendukung apa pun yang menjadi pilihanmu. Dan aku rasa Dad Aiden dan Mom Dila pasti juga akan mendukungmu." Kejora berusaha meyakinkan adik iparnya.


Venus menatap Kejora lalu beralih menatap pada Mars.


"Aku menolak lamaran Tuan Aries." Venus menatap pria yang berstatus sebagai ayah dari calon anak yang dikandungnya.


"Tapi Ve—" lirih Aries.


"Aku tahu apa yang terbaik untuk aku dan bayi yang ada di kandunganku." Sahut Venus dan tanpa terasa air mata menetes di kedua pipinya. "Aku tidak mau menikah karena terpaksa, tanpa adanya rasa cinta diantara kita." Dan yang paling utama dari semua itu adalah Venus tidak ingin melihat Mars kecewa padanya untuk yang kedua kali.


Tuan Gideon dan Kejora hanya bisa menatap sendu pada Venus, mereka tahu kalau wanita itu pasti sangat berat mengambil keputusan tersebut. Dan seperti yang dikatakan oleh Venus, menjalani sebuah pernikahan tanpa rasa cinta pasti akan sangat sulit.


Dan setelah mendengar keputusan dari Venus, tuan Gideon dan Aries segera berjalan keluar dari mansion Graham dengan raut wajah yang kecewa.


"Tunggu dulu!" Mars berdiri dari duduknya, menatap pada tuan Gideon dan Aries yang berada di dekat pintu keluar mansion. "Aku terima lamaran Anda Tuan Aries, persiapkan semuanya dengan cepat! Dan masalah Venus yang menolak lamaran Anda, aku akan berbicara dengannya bersama dengan kedua orang tua kami." Ucap Mars dengan ekspresi datarnya

__ADS_1


"Mars ...." pekik Kejora dan Venus bersamaan dengan wajah yang terkejut.


Gideon dan Aries yang juga terkejut sampai diam mematung, tanpa tahu harus berkata apa.


__ADS_2