Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 81


__ADS_3

Apartemen Casa Grande.


Kejora yang tengah duduk di atas sofa, dengan perasaan yang sangat gelisah. Langsung terkejut, saat melihat seseorang masuk melewati ruang tengah dengan terburu-buru. Kejora segera berdiri, lalu mengikuti orang tersebut yang tidak lain adalah Mars.


"Katie, buka pintunya!" Mars berkata, sambil mengetuk pintu kamar.


"Mars ...." panggil Kejora. Saat melihat pria itu mengetuk pintu kamar, dengan wajah yang cemas.


"Sejak kapan, Katie di dalam kamar?" tanya Mars, sambil terus mengetuk pintu.


"Sejak kau pergi ke kantor." Jawab Kejora, dengan menundukkan kepalanya.


"What?" pekik Mars. "Lalu kau diam saja, dan tidak memberi kabar padaku?" Mars menatap Kejora dengan tajam.


"Aku ... sebenarnya aku ingin menghubungimu, tapi --"


"Ah, sudahlah!" Mars lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya, untuk mengambil kunci cadangan.


Sementara itu Kejora hanya bisa terdiam, saat melihat Mars yang terlihat marah kepadanya.

__ADS_1


"Minggir!" Sentak Mars, sambil mendorong bahu Kejora yang menghalangi pintu kamar.


Lagi-lagi Kejora hanya bisa terdiam, saat ia di dorong. Kejora lalu mengikuti langkah Mars, yang masuk ke dalam kamar.


"Katie ....!" teriak Mars.


Saat melihat wanita cantik itu terbaring di atas tempat tidur, dengan beberapa butir obat yang berserakan.


Kejora yang melihat pemandangan itu, ikut terkejut hingga menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Katie, bangunlah!" Mars menepuk pipi Katie, lalu merasakan suhu tubuh wanita itu yang dingin.


Dengan segera Mars mengangkat Katie, lalu membawanya keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Tujuannya hanya satu, yaitu segera membawa Katie ke rumah sakit.


...🍀🍀🍀...


Rumah Sakit Internasional.


Mars dan Kejora saat ini sudah berada di depan pintu IGD, sedang menunggu dokter yang sedang memeriksa Katie. Mars hanya diam dengan tatapan mata yang fokus pada pintu ruangan, sementara Kejora hanya bisa menundukkan kepalanya dengan sesekali menatap Mars.

__ADS_1


Dan disaat Kejora menatap Mars, ia melihat wajah suaminya yang terlihat sangat cemas. Kejora tidak pernah melihat ekspresi wajah Mars yang seperti itu, hingga membuat dirinya bertanya-tanya. Sepenting itu kah sosok Katie bagi Mars? Dan kenapa Kejora merasa sakit melihat Mars yang begitu cemas pada sosok Kakak tirinya itu. Dan disaat Kejora masih bertanya-tanya dalam hati, suara pintu yang terbuka membuat ia tersadar dari lamunannya.


"Bagaimana keadaan Katie, dok?" tanya Mars, saat melihat dokter yang menangani kakak tirinya itu keluar dari ruangan.


"Nona Katie saat ini sudah melewati masa kritisnya, dan untung saja anda membawanya tepat waktu. Kalau telat sedikit, maka nyawa Nona Katie pasti sudah tidak bisa di selamatkan." Ucap dokter tersebut.


"Deg ...."


Mars langsung menatap Kejora dengan tajam, sementara yang di tatap hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Boleh aku masuk?" tanya Mars, sambil mengalihkan tatapan matanya pada dokter yang ada di depannya.


"Anda boleh masuk, tapi setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat." Terang dokter.


Mars mengangukkan kepalanya, lalu menatap Kejora. Setelah melihat dokter yang merawat Katie, kembali masuk ke dalam ruangan.


"Kau dengar tadi? Kalau telat sedikit, maka nyawa Katie tidak bisa diselamatkan! Di mana otakmu itu? Kenapa kau diam saja, saat Katie tidak keluar dari kamar?" Bentak Mars, dengan penuh amarah.


"Aku-aku ...." Kejora tidak bisa meneruskan perkataannya, dan hanya tetesan air mata yang menjawab semua pertanyaan Mars.

__ADS_1


Melihat Kejora yang menangis, Mars langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Dan saat ia ingin menenangkan Istrinya, padangan nya teralihkan pada pintu ruangan yang terbuka. Lalu terlihat beberapa perawat yang mendorong sebuah brankar, di mana di atasnya ada Katie yang terlihat terbaring dengan wajah yang pucat dan mata yang tertutup.


Dengan segera Mars menyusul mereka, dan tanpa sadar melupakan keberadaan Kejora. Dan Kejora yang ditinggalkan, hanya bisa terus menangis tanpa bisa menghentikan air matanya. Rasanya begitu sesak, saat melihat pria yang merupakan suaminya sendiri. Menyalahkan dirinya, atas keadaan yang diderita wanita lain.


__ADS_2