Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 57


__ADS_3

Lima tahun yang lalu, saat Tuan Gideon melarang hubungannya dengan Kejora. Tuan Aries langsung memutuskan hengkang dari perusahaan Megatech, lalu pergi keluar Negeri. Membangun perusahaannya sendiri, tanpa bantuan sedikit pun dari Tuan Gideon. Tuan Aries ingin membuktikan, bahwa dia mampu menjadi seorang pengusaha sukses dengan kemampuannya sendiri. Itu semua dia lakukan untuk bisa membahagiakan Kejora, sekaligus mendapatkan restu ayahnya yaitu Tuan Gideon. Berbekal ilmu dan kepintarannya, Tuan Aries akhirnya bisa membuktikan dirinya menjadi seorang Pengusaha sukses dan handal dalam waktu yang sangat singkat.


"Tuan, ternyata Nyonya Kejora wanita yang hebat." Ucap Tom setelah menyelesaikan ceritanya.


"Apa maksudmu?" Mars menautkan kedua alisnya.


"Nyonya Kejora mampu membuat seorang pria, berjuang hingga sukses demi kebahagiaan wanita yang dicintainya. Tapi sayangnya, Nyonya Kejora sudah menikah terlebih dahulu dengan seorang pria yang ...."


"Yang apa?" Ketus Mars, menatap tajam pada Tom.


"Yang sangat pemarah, dan tidak berperikemanusiaan." Sindir Tom.


"Sialan kau!" Mars menggebrak meja.


"Anda jangan marah, tuan. Aku hanya bercanda." Tom terkekeh geli. "Tapi apa yang aku katakan benar bukan? Kalau Nyonya Kejora adalah wanita yang hebat?"


"Cih, biasa saja!" Cibir Mars.


Namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa kalau istrinya itu memang wanita yang hebat. Walaupun berotak mesum, dan sedikit telat dalam berpikir. Tapi Kejora mampu membuat seorang pria, berusaha melakukan apa pun untuk kebahagiaannya. Termasuk dirinya, yang berusaha mengambil kembali rumah milik Kejora, dari tangan Nyonya Veronica.


"Biasa saja, tapi mampu membuat seorang Mars Graham. Menyadari obsesinya yang bodoh, pada seorang wanita yang mirip dengan Nona Katie." Tom menyindir untuk yang kesekian kalinya.


"Tom, ...." Bentak Mars, melempar berkas yang ada di atas meja ke arah asistennya.


Namun dengan sigap Tom menghindar, lalu berlari dari ruangan tuannya.


"Jadi pria itu sudah kembali?" gumam Mars, meremas berkas yang tadi hendak ia lempar lagi ke arah Tom. Lalu berjalan keluar ruangan untuk mencari Kejora.


...🍀🍀🍀...


Sementara itu di ruangan lainnya, tepatnya di ruang pantry. Tampak Kejora sedang duduk di salah satu kursi, bersama dengan Tari dan juga Rian. Kejora saat ini sedang di sidang, karena hilang begitu saja tanpa kabar dan berita.

__ADS_1


"Katakan Kejora? Kemana saja kau selama ini?" Tari menelisik wajah sahabatnya, untuk memastikan Kejora dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku ... aku ...." Kejora terdiam, dengan wajah yang bingung. Ia menyesal tadi menabrak Tari, saat ia berlari keluar dari ruangan tuan Mars. Karena ujung-ujungnya ya seperti ini, ia akan diintrogasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawabnya.


"Kejora, kau dengar tidak?" Tari menghela napasnya, karena kesal pada Kejora yang tidak juga menjawab pertanyaan darinya.


"Aku dengar, Tari." Jawab Kejora.


"Kalau kau dengar, jawab pertanyaan aku!"


"Tadi pertanyaan mu apa?" Kejora balik bertanya.


Membuat Tari semakin gemas, dan reflek memukul pundak sahabatnya.


"Aw, sakit tahu!" Kejora mengusap bahunya, dengan bibir yang mengerucut tajam.


"Habis kau itu di tanya malah balik bertanya!" Ketus tari dengan wajah yang kesal. "Kau tahu? Aku begitu khawatir padamu, aku bahkan bolak-balik ke tempat kosan mu."


Tari membalas pelukan Kejora, dengan rasa haru dihatinya. Karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan Kejora.


"Hey, kenapa aku tidak di ajak berpelukan?" Sela Rian, yang sedari tadi hanya terdiam melihat kedua temannya berbicara.


"Kau mau? Nih!" Tari mengepal tangannya kearah pundak Rian.


"Aku itu minta di peluk, bukan dipukul!" Gerutu Rian.


Lalu mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.


"Katakan Kejora, sekarang kau tinggal di mana?" Tari yang masih penasaran, kembali bertanya pada Kejora.


"Aku tidak bisa mengatakan di mana aku tinggal." Jawab Kejora, sambil menatap ke arah Rian.

__ADS_1


Tari yang mengerti arti tatapan Kejora, tidak melanjutkan pertanyaannya lagi. Yang terpenting baginya saat ini adalah, melihat sahabat baiknya itu dalam keadaan sehat tidak kekurangan sedikit pun.


"Oh ya, aku itu sering kemari. Dan melihat kalian." Seru Kejora.


"Benarkah?" Sahut Tari.


Kejora menganggukkan kepalanya.


"Kau tidak sedang berbohong kan?" Selidik Tari.


"Tidak, lagi pula untuk apa aku berbohong?" Kejora memang tidak berbohong, karena ia sering datang ke Perusahaan Megatech. Tapi untuk mengantarkan makan siang tuan Mars.


Tari menelisik wajah Kejora, lalu menunggu sahabatnya itu bersin-bersin. Namun Kejora tidak bersin-bersin, dan itu artinya sahabatnya itu tidak sedang berbohong.


"Tapi kenapa kita tidak pernah melihatmu?" tanya Rian.


"Iya, kenapa kita tidak pernah melihatmu?" Tari mengulangi pertanyaan Rian.


"Karena aku datang secara sembunyi-sembunyi, seperti hantu." Bisik Kejora, lalu tertawa cekikikan.


"Sembunyi-sembunyi seperti hantu?" Tari dan Rian saling menatap dengan wajah yang bingung, melihat Kejora yang tertawa aneh seperti itu.


"Tari, kenapa Kejora jadi aneh seperti itu?" Bisik Rian.


"Aku tidak tahu, tapi yang jelas dari dulu dia itu memang sudah aneh." Ucap Tari.


"Kalau begitu aku test dulu." Rian tersenyum penuh arti, lalu hendak mencium pipi Kejora.


Namun belum sempat bibirnya menyentuh pipi mulus milik Kejora, ia merasakan tubuhnya terhempas kebelakang dengan pipi yang terasa sangat sakit, dan bibir yang terasa perih dan asin.


Akh

__ADS_1


Kejora dan Tari berteriak histeris menatap Rian yang tergeletak di atas lantai, lalu menatap tuan Mars yang terlihat marah dengan tangan yang terkepal.


__ADS_2