Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 54


__ADS_3

"Tuan, ja-jangan." Kejora menggelengkan kepalanya, berusaha mengembalikan akal sehatnya.


"Apa kau yakin tidak menginginkannya?" Mars menggoda Kejora, dengan menyentuh area intimnya.


"Aku ti --" Kejora yang bingung, justru mengangukkan kepalanya.


Membuat Mars menahan tawanya, saat melihat kelakuan Kejora. Otak istrinya itu memang sangat mesum, dan itu jadi satu keuntungan bagi Mars.


"Aku tanya sekali lagi, apa kau tidak menginginkannya?" Mars bertanya kembali, sambil menyentuh lebih dalam milik Kejora.


"Emh ..." Satu desahan keluar dari bibir Kejora.


"Bagaimana?" Goda Mars kembali.


"A-aku mau, eh ...." Kejora menutup mulut dengan tangannya.


"As you wish." Mars tersenyum penuh kemenangan. Langsung melakukan penyatuan mereka, tanpa mempedulikan ekspresi Kejora yang terlihat menyesal dengan perkataannya.


Dengan diiringi sebuah teriakan dari bibir Kejora, Mars berhasil membuat Kejora menjadi miliknya. Malam yang panjang, menjadi saksi meleburnya dua insan menjadi satu.


...🍀🍀🍀...


Keesokan harinya.


"Akh ...." teriak Kejora, saat dirinya terbangun dengan tubuh yang polos dan hanya berbalut selimut.


"Kau berisik sekali!" Mars menutup telinganya dengan bantal.


"Ya ampun, apa yang sudah aku lakukan?" Gumam Kejora, menepuk keningnya dengan tangan. Saat teringat apa yang telah mereka lakukan tadi malam. "Tuan, bangun!" Kejora memberanikan diri, menepuk lengan tuan Mars.


"Emm .... " Mars hanya berdeham.


"Tuan, kenapa tuan melakukan itu padaku?" Kejora hampir menangis, saat dihadapkan kenyataan yang ada didepan matanya. Hanya karena otak mesumnya, membuat Kejora kehilangan sesuatu yang yang berharga miliknya.


Mars mengangkat bantal yang menutupi telinganya, lalu menatap Kejora.


"Bukankah kau yang menginginkannya? Apa kau lupa? Atau pura-pura amnesia?" Mars menyunggingkan senyumnya.


"Ya, tapi waktu itu aku khilaf. Seharusnya tuan menolakku." Air mata mulai menggenang, di kedua pelupuk matanya.


"Tadi malam, aku juga khilaf. Jadi mana mungkin aku menolaknya." Sahut Mars, dengan ekspresi datarnya.


"Tuan, Jahat!" Kejora mulai menangis sesenggukan.


"Oh my God," Gumam Mars dalam hati. Menatap Kejora dengan intens. "Kenapa kau menangis?"


"Ya, ampun." Mars menghela napasnya. "Apa aku harus mengembalikan keperawananmu? Agar kau berhenti menangis!"


"Memangnya bisa?" Kejora langsung mengusap air matanya.


"Tentu saja bisa ...." Mars tersenyum, dengan seringai licik dibibirnya.


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Kejora, dengan wajah yang bingung.

__ADS_1


"Caranya, kita mengulangi lagi yang semalam." Mars menarik tangan Kejora, lalu menghimpit tubuh istrinya.


"Tuan, lepaskan!" Kejora meronta, berusaha melepaskan himpitan ditubuhnya. "Anda kira aku bodoh?" Ketus Kejora, sambil menggigit tangan tuan Mars.


"Aw... Shit!" Umpat Mars, mengusap tangannya yang digigit oleh Kejora untuk yang kedua kalinya.


Melihat ada kesempatan untuk bebas, Kejora langsung turun dari atas tempat tidur. Tidak lupa Kejora menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya.


Namun saat ia akan melangkahkan kakinya, rasa sakit di bagian intinya membuat Kejora sulit untuk berjalan.


"Kenapa berhenti?" Mars menatap Kejora, tanpa mempedulikan tubuhnya yang masih polos tanpa satu helai benang pun.


'Aku ---"


"Sakit bukan?" Mars turun dari atas tempat tidur, hendak menghampiri Kejora.


"Berhenti, tuan! Anda tidak mengenakan apa pun." Pekik Kejora, mengalihkan pandangan matanya.


"Cih, kenapa kau masih malu? Bukankah kau sudah melihat semuanya?" Mars berjalan mendekati Kejora.


"Iya, tapi aku tidak mau melihatnya lagi." Kejora berkata dengan ketus. Dan tak lama setelah itu, ia langsung bersin-bersin. "Hacih ... hacih ..."


Sontak Mars tertawa terbahak-bahak, saat tahu Kejora berbohong. Otak istrinya itu benar-benar sangat mesum, hingga membuatnya menggelengkan kepala.


"Kenapa aku bersin-bersin?" Gumam Kejora dalam hati. "Oh my God, jangan bilang kalau aku ingin melihatnya lagi?" Kejora menggelengkan kepalanya, sambil terus menahan bersinnya.


"Yakin kau tidak mau melihatnya?" Goda Mars, dengan senyum iblis dibibirnya.


Kejora tidak mau menjawab pertanyaan tuan Mars. Dengan menahan rasa sakit di intinya, ia berusaha untuk berjalan cepat. Kejora tidak mau khilaf untuk yang kedua kalinya, hingga membuatnya merasakan sebuah penyesalan.


"Kau mau kemana?" Teriak Mars, menatap Kejora yang berjalan menuju pintu. Ingin rasanya ia menyusul Kejora, dan menariknya kembali ke atas tempat tidur. Tapi niat itu diurungkannya, saat mendengar ponselnya yang berbunyi.


Mars berjalan mengambil ponselnya, lalu melihat isi pesan singkat yang dikirimkan oleh Monica.


"Bingo!" Seru Mars, tersenyum penuh arti.


Perusahaan Megatech.


"Ini, sayang." Monica menyerahkan sertifikat rumah milik Mommy nya.


Mars mengambil berkas tersebut, lalu membaca isi di dalamnya.


"Oh ya, aku sudah menyewa Wedding organizer untuk mempersiapkan acara pernikahan kita. Dan aku sudah memesan gaun pengantin, dan keperluan lainnya." Monica langsung duduk di pangkuan kekasihnya.


"Hem ...."


Mars hanya menjawab dengan berdeham, lalu menyerahkan berkas tersebut pada Tom.


"Kau urus!" Perintah Mars.


"Baik, tuan." Tom langsung keluar dari ruangan.


"Sayang, sebentar lagi kita akan menikah. Jadi bolehkah barang-barang milikku, dipindahkan ke apartemenmu?" tanya Monica, sambil mengusap wajah tampan kekasihnya.

__ADS_1


"Jangan sekarang, sayang! Nanti saja, setelah kita menikah." Jawab Mars, dengan ekspresi datarnya.


"Em, baiklah." Monica hendak mencium bibir kekasihnya.


Namun dengan sigap Mars menolehkan wajahnya.


"Kenapa sayang?" Monica mengerutkan keningnya, saat mendapatkan penolakan dari Mars.


"Tidak papa, hanya saja aku -- " Belum sempat meneruskan perkataannya, Monica sudah mencium bibirnya dengan paksa. Mars yang merasa jengah, sedikit mendorong bahu Monica.


"Sayang ...." Rajuk Monica, saat mendapatkan penolakan lagi dari Mars.


"Maaf, sayang. Mood aku sedang tidak enak!" Mars menurunkan Monica dari pangkuannya.


Monica yang merasa kesal, karena mendapatkan penolakan dua kali dari Mars. Berusaha tetap tersenyum pada kekasihnya. "Bagaimana, kalau kita makan malam? Agar mood kau jadi baik." Bujuk Monica.


"Aku tidak bisa, sayang." Jawab Mars singkat.


"Kenapa?" Monica menautkan kedua alis matanya.


"Tapi sayang .... " Monica lagi-lagi harus menahan kekesalannya.


Namun rasa kesal itu berubah, menjadi sebuah senyuman yang lebar. Saat melihat Mars mengeluarkan dompetnya, lalu memberikannya sebuah kartu.


"Sayang, pergilah ke salon! Lakukan perawatan apa pun, agar aku bisa melihat wajah cantikmu di hari pernikahan kita." Mars mengusir Monica secara halus.


"Ah ... terima kasih, sayang." Monica memeluk dan mencium pipi kekasihnya. "Kalau begitu aku pulang dulu!" Tanpa menunggu lama, Monica bergegas keluar dari ruang kerja kekasihnya. Ia sudah tidak sabar, untuk berbelanja dan berburu tas mewah. "Hari ini hanya satu kartu, tapi setelah kita menikah. Aku akan memiliki seluruh fasilitas kemewahan milikmu." Gumam Monica, dengan seringai licik dibibirnya.


Sementara itu Mars yang masih berada di dalam ruangannya. Menatap punggung Monica, dengan tersenyum sinis. Ia sudah tidak sabar, untuk melihat kehancuran keluarga Nyonya Veronica.


Mars kemudian menatap jam dipergelangan tangannya, lalu menatap pintu ruang kerjanya.


"Di mana Kejora? Seharusnya dia sudah sampai?" Mars mengambil ponselnya, ingin menghubungi Kejora. "Sial! Aku kan belum membelikan ponsel untuknya!" Umpat Mars, sambil menghela napasnya.


...🍀🍀🍀...


Sementara itu di sebuah kursi taman, di dekat Perusahaan Megatech. Kejora tampak terdiam, sambil menatap awan putih di atas langit. Hati dan perasaannya sangat kacau, setelah ia melihat tuan Mars berciuman dengan Monica.


Tadi saat dirinya hendak mengantarkan makan siang, secara tidak sengaja melihat tuan Mars sedang bersama Monica. Bahkan Kejora melihat mereka berciuman dengan sangat mesra.


"Kau itu bodoh, Kejora!" Umpat dirinya sendiri. "Bisa-bisanya kau menyerahkan semuanya, pada pria yang akan menikah lagi dengan wanita lain." Kejora menghela napasnya dengan berat. Menyesali kejadian tadi malam, antara dirinya dan juga Tuan Mars.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Kejora, masih menatap ke atas langit. "Walaupun aku tidak mencintainya, tapi apa aku sanggup jika di madu? Kalau Madu TJ aku suka, karena rasanya manis. Tapi kalau madu di sebuah pernikahan, orang-orang bilang rasanya pahit dan sakit." Kejora bergidik ngeri.


"Jangan melihat terus ke atas langit! Nanti mata indahmu menjadi sakit."


Sebuah suara dari arah belakang, membuat Kejora terkejut dan reflek berdiri dari duduknya.


"Kak Aries ...." Pekik Kejora, saat menatap pria yang berjalan kearahnya. Pria yang sudah lama tidak ia temui, pria yang menjadi kekasih pertamanya, dan pria yang entah statusnya sekarang sebagai apa. Kini sudah berdiri di samping dirinya, dengan senyum indah dibibirnya.


"Sudah lama kita tidak bertemu?" Aries menatap lekat, wanita yang sangat dirindukannya.


Kejora yang masih terkejut, hanya bisa terdiam membeku ditempatnya. Ia tidak pernah menyangka, bisa bertemu lagi dengan kekasih atau mantan kekasihnya. Entahlah Kejora juga bingung, dengan status mereka saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Aries, masih menatap Kejora yang terlihat terkejut.


__ADS_2