Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 155 Season 3


__ADS_3

Di tengah keramaian orang-orang yang sedang berpesta dengan alunan musik yang berdentum di seluruh ruangan club yang di sewa khusus oleh Boy Arbeto, tampak seorang pria tampan dengan mata yang berwarna biru terang tengah duduk termenung di balik meja bar dengan gelas minuman di tangannya. Ia menatap sekelilingnya yang tampak hingar-bingar dengan sorot lampu tajam yang berwarna-warni.


"Bro bergabunglah bersama mereka!" B menunjuk teman-temannya yang sedang asik bersama dengan para wanita.


Mars menatap sekilas pada orang-orang tersebut, lalu memutar bola matanya dengan jengah. "Kau lupa kalau aku sudah memiliki istri." Mars menghabiskan minumannya dengan sekali tenggak.


"Ah... aku lupa kalau kau sudah memiliki bintang."


"Bintang?" Mars mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Bintang istrimu yang sempat kabur ke Kuningan, yang mempunyai hobi berbicara sendirian." Ucap Boy dengan senyum yang mengejek.


"B, kau itu pikun atau apa? Namanya Kejora bukan bintang!" protes Mars, karena lagi-lagi sepupunya itu selalu memanggil nama orang lain dengan seenaknya sendiri.


"Kau yang pikun! Bukankah Kejora dan bintang sama saja artinya." Gerutu Boy sambil menatap kearah teman-temannya yang sedang berpesta, merayakan gagalnya acara pernikahan dirinya untuk yang ke dua kalinya. "A, apa yang aku katakan benar tidak?" tatapan mata Boy beralih pada Agam yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Mars yang mendengar jawaban Agam hanya bisa menghela napasnya dengan kasar, ia merasa kesal dengan sikap Agam yang sejak kecil selalu saja mengiyakan setiap perkataan yang diucapkan oleh Boy. Bahkan jika Boy mengatakan ibu kota negara Indonesia adalah Bandung, Agam pasti akan membenarkan jawaban Boy walaupun dia tahu itu salah. Kalau diibaratkan Agam itu bagaikan seekor pitik yang selalu mengikuti induk ayam nya, sekali pun induk ayam itu menuntunnya ke jurang.


"Oh ya ampun, dia malah bengong!" Boy menggelengkan kepalanya saat melihat Mars hanya diam menatap gelas minuman yang ada di tangannya. "Katakan apa yang bisa aku bantu!" Boy berkata dengan sangat serius, tanpa tawa dan ejekan yang selalu keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Mars yang ditanya hanya tersenyum sinis dengan tatapan mata yang berubah menjadi sendu, ia meneguk minumannya kembali untuk menghilangkan rasa sesak di dalam hatinya. Rasa sesak yang sudah dua bulan ini menghimpit dadanya, karena rasa penyesalan dan bersalah pada Venus yang berimbas dengan sikap buruknya pada Kejora.


"Kau ingin membantu apa? Sedangkan aku sendiri tidak mempunyai masalah." Ucap Mars dengan berbohong, kalau saja dirinya seperti Kejora yang akan bersin-bersin ketika sedang berbohong, pasti saat ini ia sudah bersin-bersin dengan keras dan membubarkan pesta yang diadakan sepupunya itu. Pesta yang menurut Mars sangat aneh karena merayakan sesuatu yang sangat konyol.


"Nah itu dia! Jadi katakan apa masalah mu." Seru Boy dengan wajah yang serius.


"Ck, kau itu tuli? Aku bilang aku tidak punya masalah." Sahut Mars dengan kesal.


"Justru itu! Karena kau mengatakan tidak punya masalah, itu artinya kau punya masalah." Boy menarik turunkan alis matanya. "Bukan begitu, A?" Boy menatap sepupunya yang masih setia menatap layar ponselnya, bahkan Boy yakin jika di depan Agam ada wanita cantik dan sexy pasti sepupunya itu lebih menganggap ponselnya lebih cantik dan sexy.

__ADS_1


__ADS_2