
"Itu balasan untuk anda, yang sudah zolim pada istri sendiri." Bentak Kejora, hendak berjalan menuju kamarnya.
"Mau ke mana kau!" Mars mencengkram tangan Kejora.
"Lepaskan tuan! Aku ingin masuk ke dalam kamar." Kejora berusaha melepaskan tangannya.
"Enak saja, main masuk! Kau harus tanggung jawab!" Sentak Mars, menarik tangan Kejora dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya.
"Tuan, kau mau apa?" Kejora ketakutan, saat melihat tuan Mars membuka pakaiannya. Sekelebat pikiran-pikiran mesum memasuki otaknya, saat melihat perut six pack milik tuan Mars.
"Pijat aku!" Ucap Mars. Langsung membaringkan tubuhnya, di atas tempat tidur dengan tengkurap.
"Oh .... " Kejora mengelus dadanya. "Aku kira apa?" Kejora tersenyum dengan lega.
"Kau kira apa?" Mars menautkan kedua alis matanya.
Kejora yang tidak mau berbohong, lebih memilih menggelengkan kepalanya. Dan dengan sigap memijat punggung tuan Mars.
"Perasaan, tadi aku sedang marah? Tapi kenapa aku mau saja disuruh memijat punggungnya?" Gumam Kejora dalam hati, sambil terus memijat punggung tuan Mars.
Sementara itu, Mars juga sedang bermonolog dalam hatinya. Ia tidak pernah menyangka, seorang Kejora bisa marah-marah bahkan sampai mengigit tangannya.
"Hentikan!" Perintah Mars.
__ADS_1
Kejora menghentikan pijatannya, dengan tersenyum bahagia. Karena tuan Mars, hanya sebentar menyuruhnya memijat. Dan dengan segera, Kejora turun dari atas tempat tidur.
"Kau mau kemana?" Mars menatap Kejora yang hendak melangkahkan kakinya.
"Ke kamarku." Jawab Kejora.
"Siapa yang mengijinkanmu keluar?"
"Tidak ada, tapi bukankah anda mengatakan berhenti?"
"Aku mengatakan berhenti, bukan berarti mengijinkanmu keluar kamar!" Mars berkata dengan ekspresi datarnya.
"Tapi ...."
"Ta-tapi tuan." Kejora menelan saliva nya dengan susah. Pikiran-pikiran kotor itu, kembali masuk ke dalam otaknya. "Ish, Kejora. Otak mu itu mesum sekali. Mana mungkin tuan Mars, berbuat macam-macam padamu." Kejora menepuk keningnya.
Hidup tanpa kekasih selama bertahun-tahun, membuat otaknya itu suka berimajinasi dengan liar.
"Kejora ....!" teriak Mars, dari dalam bathroom.
"Iya, tuan." Dengan bergegas, Kejora masuk kedalam bathroom. Namun langkahnya langsung terhenti, saat melihat tuan Mars yang sudah berada di dalam bathtub.
"Tu-tuan, kau sedang apa?" Kejora mengalihkan pandangan matanya, agar tidak melihat sesuatu yang akan mencemari otak mesumnya.
__ADS_1
"Kau tidak lihat? Aku sendang berendam." Sahut Mars. "Cepat kemari! Bersihkan punggungku!"
"A-apa?" Pekik Kejora, dengan detak jantung yang sudah tidak beraturan.
"Aku tidak akan mengulangi perkataanku, aku hitung sampai tiga. Satu ... Ti ...."
Dengan sigap Kejora mendekati bathtub, dengan tatapan mata ke arah lain.
"Tuan, kau itu tidak bisa berhitung ya? Setelah angka satu itu, dua bukan tiga." Protes Kejora. Karena merasa kesal dengan cara berhitung tuannya itu.
"Jaga bicaramu! Aku itu orang terpandai nomer dua se Asia. Dan kau dilarang untuk protes!" Sentak Mars.
"Ya ampun, tuan. Baru jadi orang terpandai nomer dua saja, sudah melupakan angka dua. Apa lagi jika nanti jadi orang terpandai nomer satu. Pasti setelah satu, kau akan menyebut sepuluh." Kelakar Kejora.
"Sudah diam! Dan mulai menggosok!" Perintah Mars.
"Ta-tapi ...." Kejora yang masih mengalihkan pandangan matanya. Terpaksa melihat kearah tuan Mars, agar tidak salah melangkah. "Bagaimana caranya?" Tanya Kejora, saat melihat tuan Mars yang masih duduk di dalam bathtub. Untung saja air di dalam bathtub dipenuhi oleh busa sabun, sehingga Kejora tidak bisa melihat isi penampakan didalamnya.
"Masuk kemari!" Titah Mars.
"Masuk? Masuk kemana?" Sekelebat pikiran kotor kembali merasuki pikirannya.
"Tentu saja masuk ke dalam bathtub, dan jangan lupa tanggalkan pakaianmu!" Mars berkata tanpa menoleh ke arah Kejora.
__ADS_1
"Apa ....?" pekik Kejora, dengan wajah yang terkejut.