Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 44


__ADS_3

"Aku mencintaimu." Ucap Monica, kembali memeluk kekasihnya.


Mars hanya tersenyum, membalas pelukan dari Monica.


"Tapi sayang. Bukankah kemarin kau menyuruh wanita itu, untuk menyiapkan semua keperluan pernikahan kita." Monica menatap wajah kekasihnya dengan intens.


"Aku menyuruhnya, karena aku ingin mengerjainya." Sahut Mars


"Oh .... " Monica tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya sebentar lagi, dirinya bisa menikah dengan Mars. Dan bisa kembali menikmati kekayaan, dan segala fasilitas calon suaminya.


"Kau pulanglah! Aku masih banyak pekerjaan." Ucap Mars.


Monica menganggukkan kepalanya, lalu berjalan keluar dari ruang kerja Mars.


**


Setelah melihat nona Monica pergi, Tom memberanikan diri untuk bertanya. Karena dari apa yang didengarnya, rasanya sangat janggal kalau Nyonya Dila menginginkan rumah mewah di daerah Nyonya Veronica. Karena setahu Tom, mansion milik keluarga Graham itu sangat luas dan mewah. Bahkan luas dan kemewahannya tiga kali lipat dari rumah milik Nyonya Veronica.


"Tuan, apa yang sebenarnya anda rencanakan?" Selidik Tom.


"Tom, apa kau sudah bosan hidup?"


"Aku lebih baik mati karena bosan hidup, dari pada aku mati penasaran." Ucap Tom, penuh dengan penekanan di setiap perkataannya.


"Dua-duanya sama, Tom. Sama-sama mati." Ketus Mars.


"Setidaknya aku tidak mati karena penasaran, tuan." Seloroh Tom.

__ADS_1


"Cih, kau itu." Mars tersenyum sinis. Baru saja ia hendak menceritakan semuanya pada Tom. Namun dirinya dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang terlihat marah kepadanya.


"Mars, bisa-bisanya kau ingin menikah dengan jalang itu!" Venus meraih sebuah map yang ada di atas meja, lalu memukulkannya di kepala saudara kembarnya dengan keras.


"Ve, hentikan! Kau sudah gila ya?Mars meraih tangan saudaranya.


"Kau yang gila! Bisa-bisanya kau ingin menjadikan jalang itu, sebagai istri kedua." Venus menggigit tangan Mars.


"Shit!" Umpat Mars.


"Rasakan itu! Itu hukuman bagi orang yang bodoh." Ketus Venus, dengan bibir yang mencebik.


"Venus Graham!" Sentak Mars, menatap adiknya lalu menatap Tom dengan tajam.


Di tatap tajam seperti itu, membuat Tom kesusahan untuk menelan Saliva nya."Bukan aku, tuan. Aku berani bersumpah, aku tidak menceritakan apa pun pada Venus." Tom sudah sangat ketakutan.


"Bukan dia! Tapi Kejora yang menceritakan semuanya padaku." Sahut Venus.


"Iya, dan jangan tanyakan bagaimana cara aku mendapatkan informasi tersebut dari Kejora." Ketus Venus, sambil berjalan menuju sofa.


Mars yang tahu betul isi otak Kejora yang tidak seberapa itu, hanya bisa menghela napasnya. Entah sial atau keberuntungan bagi Mars, memiliki istri yang daya tangkap otaknya lebih lemot dari jalannya seekor kura-kura. Mars lalu berjalan menghampiri adiknya, dan duduk disampingnya.


"Kau jangan marah-marah seperti itu! Nanti tidak ada seorang pria pun, yang mau menikahimu. Kecuali Tom tentunya." Canda Mars, dengan tawa dibibirnya.


Tom menjadi salah tingkah sendiri, saat mendengar perkataan tuan Mars.


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Protes Venus. "Mars, bukankah sudah aku katakan. Agar kau menatap ke dalam mata Kejora, menyelami cinta yang tersembunyi di mata itu. Mata, ingat Mata!" Venus menunjuk mata Mars.

__ADS_1


Mars kembali tertawa saat mendengar perkataan Venus.


"Jangan tertawa!" Venus memukul bahu kakaknya.


"berhentilah memukul aku! Jika kau ingin tahu yang sebenarnya."


Venus langsung menghentikan pukulannya, lalu menatap saudara kembarnya dengan intens.


"Apa maksudmu? Apa kau sedang merencanakan sesuatu?" Selidik Venus.


Mars menyunggingkan senyumnya, lalu mulai menceritakan semuanya pada Venus. Dan secara otomatis Tom pun ikut mendengarkan rencana tuannya itu.


Venus tampak berpikir keras, lalu tersenyum menatap saudaranya.


"Aku setuju dengan rencana mu Mars, tapi jangan sampai kau melukai hati Kejora!" Ancam Venus.


"Melukai hati Kejora?" Mars tersenyum sinis, saat mengingat kembali reaksi Kejora yang tidak peduli sama sekali saat mendengar dirinya akan menikah lagi.


"Kenapa kau tersenyum sinis seperti itu?"


"Tidak ada, dan lebih baik kau pulang sekarang! Karena sebentar lagi Kejora akan datang." Mars menatap jam dipergelangan tangannya, yang menunjukkan jam makan siang.


"Kenapa aku harus pulang?" Venus menautkan kedua alis matanya.


"Karena aku tidak ingin diganggu, jika sedang berduaan dengan istriku." Jawab Mars dengan asal. Padahal yang sebenarnya, Mars tidak akan bisa bebas menganggu Kejora, jika ada adiknya itu.


"Cie ... yang sudah mulai jatuh cinta." Venus menggoda kakaknya.

__ADS_1


"Whatever." Ucap Mars.


Dan beberapa saat kemudian, Venus pergi dari ruangannya dengan diantar Tom. Dan saat ini hanya tinggal Mars, yang ada diruang kerjanya. Menunggu Kejora, dengan segala rencana yang sudah tersusun rapih di otaknya.


__ADS_2