
"Tu-tuan Mars ..." Pekik Kejora dan Tari.
Mereka berdua begitu takut, saat melihat wajah tuan Mars yang terlihat sangat menyeramkan. Matanya begitu tajam, menatap sosok Rian. Seperti orang yang ingin memakan hidup-hidup teman mereka.
"Rian, kau tidak papa?" Tari berusaha membantu temannya untuk berdiri.
Kejora yang hendak membantu Rian, tangannya langsung dicengkeram dengan sangat kuat oleh Tuan Mars.
"Tu-tuan sakit ...." Lirih Kejora.
Mars tidak mempedulikan rintihan Kejora. Yang ada di matanya saat ini adalah, ingin menguliti pria itu hidup-hidup. Pria yang sudah kurang ajar, ingin mencium pipi istrinya.
"Kau! Mulai detik ini kau dipecat!" Mars menunjuk pada pria tersebut, pria yang bekerja sebagai bawahannya.
"Dipecat?" Pekik Kejora dan Tari, dengan sangat terkejut.
Rian pun tidak kalah terkejutnya, ia merasa bingung dengan masalah yang tiba-tiba menimpa dirinya.
__ADS_1
"Ta-tapi, tuan. Kenapa saya dipecat? Salah saya apa?" Rian mengusap cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya, sambil menahan rasa sakit dibibirnya yang robek.
"Cih, masih berani kau bertanya salahmu apa!" Geram Mars. Seandainya saja tangannya tidak sedang mencengkram tangan Kejora, maka dengan senang hati ia akan memukul kembali pria itu. "Ingat! Jangan pernah muncul lagi di Perusahaan ini!" Mars berkata dengan sangat tegas, lalu menarik tangan Kejora keluar dari ruangan pantry.
Sementara itu Rian dan Tari yang masih berada di ruang pantry, saling menatap dengan wajah yang bingung. Mereka berdua begitu syok, dengan apa yang terjadi barusan. Terutama Rian, yang merasa paling bingung, terkejut, dan bercampur dengan kesedihan. Karena kini ia menjadi seorang pengangguran, tanpa tahu kenapa dirinya di pecat.
**
"Tuan, tanganku sakit," Lirih Kejora. Berusaha melepaskan cengkraman tangan tuannya.
Mars terus berjalan tanpa mempedulikan rintihan Kejora. Dan saat ia berpapasan dengan Tom, Mars memberikan perintah untuk menyiapkan mobil dan menghandle seluruh pekerjaan hari ini.
"Masuk!" Mars mendorong Kejora masuk ke dalam mobil, lalu segera menutup pintunya.
"Kita kemana, tuan?" Tanya Pak supir.
"Ke apartemen." Jawab Mars, dengan sangat datar dan aura yang begitu dingin.
__ADS_1
Kejora yang ketakutan, hanya bisa duduk dengan diam. Sesekali ia menatap wajah tuan Mars, yang terlihat begitu menyeramkan. Kejora sama sekali tidak pernah menyangka, tuan Mars bisa menakutkan seperti itu jika sedang marah. Bahkan tuannya itu memukul Rian dengan keras, sampai terjatuh ke atas lantai.
...🍀🍀🍀...
Apartemen Casa Grande.
"Aw ..." Rintih Kejora, saat tubuhnya dihempaskan di atas tempat tidur. "Tuan, sebenarnya anda kenapa?" Tanya kejora dengan suara yang pelan.
"Kau masih tanya aku kenapa?" Mars menghimpit tubuh kejora, mengukungnya dengan kedua tangannya. "Kau mengijinkan pria lain menciummu, dan kau masih bertanya aku kenapa?
"Aku mengijinkan pria lain menciumku?" Kejora balik bertanya. "Pria yang mana?"
"Kau jangan pura-pura lupa! Tadi di pantry, kau diam saja, saat pria itu hendak menciummu." Sentak Mars. Semakin menghimpit tubuh Kejora, hingga tidak ada jarak diantara mereka. Matanya menatap dengan tajam, kedua netra hitam milik istrinya.
"Pria di pantry? Maksud anda Rian?" Kejora menautkan kedua alis matanya. "Apa benar, Rian ingin menciumku? Anda pasti salah lihat, karena Rian tidak mungkin ..." Perkataan Kejora terhenti, saat bibirnya dibungkam oleh sebuah ciuman. Sebuah ciuman yang sangat menuntut, hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas.
Mars terus mencium kejora, dengan sedikit memaksa. Dan melepaskan pangutannya, setelah sadar mereka hampir kehabisan oksigen.
__ADS_1
"Tuan, kau ingin membunuhku!" napas kejora terengah-engah, setelah tuan Mars melepaskan ciumannya.
Mars hanya diam dan terus menatap wajah wanita yang ada dibawanya. Wanita yang sudah membuat jantungnya berdetak tidak karuan, dan wanita yang selalu membuat emosinya naik turun.