
Dengan segera Kejora berjalan menghampiri tuan Mars, dan duduk di sofa yang ditunjuk oleh tuannya. Beberapa menit setelah duduk, hanya ada keheningan diantara mereka. Kejora hanya bisa merasakan dirinya ditatap dengan tajam oleh tuan Mars.
"Tuan, apa ada yang ingin kau tanyakan?" Kejora mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Nyonya Veronica, apa kau mengenalnya?" Mars menatap lekat wajah Kejora yang sedang menundukkan kepalanya.
"Deg ...."
Kejora yang terkejut dengan pertanyaan tuan Mars, hanya bisa terdiam. Tangannya meremas ujung pakaiannya, menahan rasa gugup yang menyelimuti dirinya.
"Apa kau mengenalnya?" Mars mengulangi pertanyaannya.
"Aku ... aku ...." Kejora tidak bisa meneruskan perkataannya, suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
"Aku tahu kau mengenal Nyonya Veronica dengan sangat baik, dan aku juga tahu betul kau menerima pernikahan ini untuk balas dendam kepadanya." Mars berkata dengan ekspresi datarnya.
"Tu-tuan, bagaimana anda bisa tahu?" Kejora yang semakin terkejut, memberanikan diri untuk menatap wajah tuan Mars.
"Cih, apa yang tidak bisa aku ketahui di dunia ini ...." Ucap Mars, dengan senyum pongahnya.
__ADS_1
Kejora hanya bisa tersenyum kaku, saat mendengar kesombongan tuan Mars. Ingin sekali Kejora mengatakan, jika mengetahui semuanya. Kenapa kekasihnya pergi di hari pernikahan mereka, tuan Mars tidak tahu akan hal itu. Tapi niat itu diurungkannya, dari pada dirinya terkena hukuman dan amukan dari tuan Mars.
"Kau tahu? Aku bisa membalaskan dendammu kepada Nyonya Veronica." Ucap Mars, masih menatap lekat wajah Kejora. Ia ingin melihat wajah Kejora, yang memohon padanya untuk membalaskan dendam.
"Oh ... " Kejora beroho ria, lalu kembali terdiam.
Mars langsung terbengong saat Kejora hanya beroho ria, karena bukan hanya ucapan oh yang ingin didengar oleh Mars. Mars ingin Kejora memohon padanya untuk membantu membalaskan dendam pada Nyonya Veronica.
"Kenapa kau diam? Kenapa kau tidak meminta bantuan aku untuk membalaskan dendammu?" Selidik Mars.
"Membalas dendam? Untuk apa?" tanya Kejora, dengan menautkan kedua alis matanya.
"Tuan Mars, aku sudah tidak berniat untuk balas dendam. Karena niat jelek aku untuk balas dendam, justru membuat diriku mengalami nasib yang sial." Terang Kejora.
"Apa maksudmu?" Mars bertanya dengan wajah yang bingung.
Kejora menghela napasnya dengan panjang. "Jadi begini tuan Mars, karena niat aku yang ingin balas dendam pada Nyonya Veronica. Justru membuat hidup aku terjebak di dalam pernikahan bersama anda selamanya." Terang Kejora.
Mars yang masih bingung, sampai menautkan kedua alis matanya. "Lalu bagian mana yang disebut nasib sial?"
__ADS_1
"Ya tentu saja, hidup bersama anda selamanya. Kalau bukan disebut sial? Lalu apa namanya?" Kejora mengatakan semua yang ada di hatinya, dengan santai tanpa beban.
"What? Jadi hidup bersama aku kau bilang nasib sial?" Geram Mars, dengan tangan yang terkepal.
Dengan penuh keyakinan dan tanpa rasa bersalah, Kejora menganggukkan kepalanya.
"Sial ...! Dia itu benar-benar." Mars menahan emosi dihatinya, dan segera berdiri dari duduknya. "Kau ikut aku!" Mars mulai berjalan menuju kamarnya.
"Ikut kemana tuan?" Kejora menatap tuan Mars yang berjalan menuju kamar.
"Tentu saja ke kamarku! Apa kau lupa tugasmu adalah melayaniku?" Mars menyeringai tipis. "Akan aku tunjukan, nasib sial menikah denganku itu yang seperti apa!" gumam Mars, segera masuk kedalam kamar.
Kejora yang masih duduk di sofa ruang tengah, hanya bisa menelan saliva nya dengan susah. "Melayani? Melayani apa? Apa jangan-jangan." Kejora menutup mulutnya, dengan wajah yang bergidik ngeri.
"Kejora ....! Jika dalam hitungan ke tiga kau tidak masuk ke kamar aku. Maka aku akan menghukummu." Ancam Mars, dari dalam kamar.
"Tapi tuan." Kejora yang bingung dan ketakutan, hanya bisa berjalan bolak-balik di ruang tengah.
"Satu ... ti .... "
__ADS_1
Kejora langsung berlari masuk kedalam kamar tuan Mars, karena hitungan tuan Mars yang curang. Tuan Mars menghitung dari angka satu langsung ke angka tiga.