Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 169 Season 3


__ADS_3

Di tengah sejuknya udara malam hari di kota London, tampak seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya sedang duduk di atas sebuah kursi yang berada di back yard mansion mewahnya. Wanita itu tampak mengelus perutnya yang terlihat sedikit membuncit dengan senyum dibibirnya. Ia begitu bahagia karena kehamilannya yang sudah menginjak usia tiga bulan, berjalan dengan lancar tanpa kendala apa pun. Bahkan selama masa kehamilannya wanita itu tidak pernah sedikitpun merasa mual atau muntah-muntah seperti wanita hamil pada umumnya.


Dan rasa kebahagiaan itu semakin bertambah saat seluruh keluarga besarnya ikut mensupport kehamilannya, tanpa menghakimi kondisinya yang hamil tanpa suami. Sang Daddy yang dulu begitu menginginkan dirinya meneruskan perusahaan keluarga, kini mendukung untuk mengejar apa yang menjadi cita-citanya. Dan sang mommy kini semakin menjaga dirinya bahkan terkesan sangat overprotektif.


"Nona ponsel Anda berbunyi." Salah satu pelayan membawa ponsel nona Venus yang tertinggal di atas meja.


"Terima kasih." Venus mengambil ponselnya lalu menatap layar tersebut dengan kening yang berkerut. "Boy...." Venus mengangkat panggilan video call dari sepupu mesumnya itu.


"Halo cantik...." Boy mengerlingkan satu matanya.


"Ish.. ada apa kau menghubungiku?" tanya Venus tanpa basa-basi, karena ia tahu seorang Boy Arbeto tidak akan menghubungi dirinya kalau tidak ada sesuatu yang sangat penting.


"Venus Graham dua bulan kita tidak bertemu kau berubah menjadi lebih galak...." gerutu Boy sambil melirik kearah dua orang yang berada di tengah ruangan, yang sedang bertarung bebas tanpa ada nya wasit.

__ADS_1


"B.. suara apa itu?" tanya Venus saat sayup-sayup mendengar suara aneh dari tempat Boy.


"Suara apa? Aku tidak mendengar apa pun." Boy menyeringai tipis.


"Boy Arbeto..." Venus memutar malas bola matanya. "Cepat katakan ada perlu apa kau menghubungiku? Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni teka-teki mu itu." Ujar Venus dengan mengerucutkan bibirnya.


Boy tertawa saat melihat wajah Venus yang kesal. "Kau jangan marah-marah seperti itu, karena tidak baik bagi wanita hamil." Seloroh Boy.


Venus yang terkejut sampai membelalakkan kedua matanya. "B.. kau tahu aku —" Venus tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Tentu saja aku tahu bahkan aku tahu siapa pria itu." Boy mengarahkan ponselnya pada dua orang yang sedang saling baku hantam.


Venus yang awalnya tidak terlalu melihat dengan jelas gambar yang ditampilkan oleh Boy, kini menutup mulut dengan satu tangannya saat melihat Agam tengah beradu jotos dengan pria yang selama ini mengisi pikirannya.

__ADS_1


"B... hentikan!" Teriak Venus dengan tubuh yang bergetar ketakutan. "Apa yang kau lakukan?" Venus semakin histeris saat melihat Aries yang terjatuh setelah mendapatkan bogem mentah dari Agam.


"Bagaimana? Apa kau suka?" Boy mengarahkan kamera ponsel kearah dirinya, dan betapa terkejutnya Boy saat melihat wajah Venus yang menangis.


"Aku mohon hentikan, B lepaskan Aries!" pinta Venus dengan terisak.


"Ck, rupanya kau begitu mencintai manusia domba itu sampai kau melindunginya dengan menyembunyikan rekaman CCTV hotel. Dan sekarang kau menangisinya?" Boy berdecak dengan kesal. "Dia itu tidak pantas kau cintai! Dia pria bajingan yang pengecut karena tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya." Ucap Boy dengan amarah yang memuncak saat melihat Venus begitu melindungi Aries.


"Bukan begitu B, kau tidak tahu masalah yang sebenarnya." Venus yang sudah berdiri dari duduknya segera berjalan cepat menuju kamarnya. "Aku mohon lepaskan Aries, sekarang!" Pinta Venus dengan tegas dan air mata yang berlinang di kedua pipinya.


"Datang ke sini jika kau ingin membebaskannya!" Boy balik menantang Venus.


"Aku akan datang." Venus mematikan ponselnya sembari mengusap air matanya dengan kasar, ia segera menghubungi Dad Aiden dan memintanya untuk menyiapkan pesawat pribadi mereka untuk pulang ke Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2