Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 97


__ADS_3

"Tentu saja bisa!" Agam menunjuk ke arah Golf cart, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Shit!" umpat Mars.


Karena ia begitu bodoh, tidak bisa melihat Golf cart di area villa.


"A, minggir!" Sentak Mars, sambil berjalan menuju pintu.


"Dengan senang hati, silahkan masuk!" Sahut Agam, dengan senyum tipis dibibirnya. Ia begitu senang melihat Mars yang kelelahan, dan itu artinya Mars tidak akan punya tenaga untuk baku hantam dengan Boy.


"Cih, kau jangan tersenyum seperti itu! Karena kau juga akan aku beri pelajaran, setelah aku memberikan pelajaran pada B." Ketus Mars, lalu berjalan masuk ke dalam villa.


"Tentu saja! Aku juga sudah tidak sabar menunggu pelajaran darimu." Agam ikut berjalan di belakang Mars.


Mars yang berjalan masuk ke dalam villa, terus-menerus memanggil nama Kejora. Ia sudah tidak sabar melihat istrinya, dan memeluknya dengan erat. Namun yang dilihatnya di ruang tengah bukanlah Kejora, melainkan seseorang yang membuat amarah di hatinya membuncah.


"B ...." Geram Mars, menatap tajam pada sepupunya yang terlihat sedang duduk santai di atas sofa.


"Mars ... akhirnya kau sampai juga!" Seru Boy, dengan tersenyum sinis.


"Dasar bajingan!" Mars yang sangat marah, langsung berlari menuju Boy dan bersiap melayangkan tinjunya.


Bugh

__ADS_1


Suara pukulan yang sangat keras terdengar begitu nyaring di telinga.


"A ...." Seru Mars, saat menyadari pukulan yang ia layangkan justru mengenai wajah Agam.


Boy yang tidak terima Agam terkena pukulan, langsung membalas Mars dengan cepat.


Bugh


Mars sampai terjatuh ke belakang, saat mendapatkan pukulan keras dari Boy. Ia memegang bibirnya yang robek, lalu mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Bugh


Boy yang tengah berdiri di depan Mars, sampai mundur beberapa langkah saat menerima pukulan di wajahnya. Ia tidak menyangka jika Agam berani memukul wajah tampannya.


Dan suasana di ruang tengah berubah menjadi hening, mereka bertiga saling pandang dalam diam dengan wajah yang sama-sama terkena pukulan. Dan beberapa saat kemudian, tawa pun pecah diantara ketiganya.


"Kita ini satu! Dan jika satu orang merasakan sakit maka yang lainnya juga sakit." Ucap Agam, menepuk pundak Mars.


"Cih, tapi itu sudah tidak berlaku padanya!" Mars menunjuk Boy, yang duduk di atas sofa. "Dia tahu betul aku sakit, karena mencari istriku. Aku bahkan sampai tiga kali masuk rumah sakit, tapi dia tidak juga mengembalikan Kejora ku!"


"Itu bukan salah B!" Seru Agam, yang ikut duduk di samping Boy, sambil mengusap pipinya yang terkena pukulan.


"Ck, lagi-lagi kau lebih membela B dari pada aku!" Gerutu Mars, lalu ikut duduk di samping kedua sepupunya.

__ADS_1


"Aku tidak membelanya, tapi aku berbicara kenyataan. B bukan tidak mau mengembalikan Kejora, tapi istrimu yang tidak mau pulang." Agam lalu menjelaskan panjang lebar pada Mars, saat kejadian di Bali sampai dengan saat ini.


"Jika kau ingin menyalahkan seseorang! Maka yang salah itu adalah kau!" Tunjuk Boy, dengan geram. "Kenapa sampai istrimu itu tidak mau pulang, pasti ada yang salah dengan dirimu!" Boy sengaja menyindir sepupunya yang bodoh itu, karena Boy tahu betul alasan Kejora tidak mau pulang.


Mars terdiam karena membenarkan perkataan Boy, di sini memang dialah yang salah sampai membuat Kejora tidak mau bertemu dengannya.


"Sudahlah, jangan saling menyalahkan." Agam mencoba berada ditengah-tengah. "Dan kau Mars, pergilah ke kolam ikan yang ada di belakang! Istrimu ada di sana."


"Kolam ikan dibelakang? Sebenarnya ada berapa bagian belakang di villa ini?" Gerutu Mars.


"Kau jangan mengeluh dulu! Tempatnya tidak jauh!" Agam menunjuk pintu kaca yang tidak jauh dari ruang tengah.


Mars melihat arah yang ditunjuk oleh Agam, lalu kembali bersemangat saat mengetahui akan berjumpa dengan pujaan hatinya. Ia pun segera berjalan menuju kolam ikan, tanpa mempedulikan rasa sakit di wajahnya.


Boy dan Agam hanya meng-gelengkan kepalanya saat melihat Mars yang begitu bersemangat bertemu Kejora.


"Cinta itu sangat aneh, karena bisa membuat orang menjadi gila, dan tidak terkendali." Gumam Agam, sambil menatap punggung Mars.


"Dan kau juga aneh! Berani-beraninya kau memukul wajah tampan aku ini!" geram Boy, dengan tatapan tajamnya.


Glek


Agam menelan salivanya dengan sangat susah, saat mendapatkan tatapan tajam dari sepupunya. Ia merasa inilah saat yang tepat untuk melarikan diri.

__ADS_1


"A ... berhenti!" Sentak Boy, saat melihat sepupunya berlari cepat keluar dari villa. "Kau pikir bisa pergi begitu saja, setelah memukul wajah tampan ku ini!" Teriak Boy, dengan wajah yang kesal.


Sementara Agam terus berlari tanpa mendengarkan teriakan dari sepupunya. Ia tidak punya pilihan lain, selain menghilang selama tiga hari agar tidak terkena amukan dari seorang Boy Arbeto.


__ADS_2