
Melihat ekspresi ketakutan di wajah Tom, reflek membuat Aries tertawa.
"Baru digertak segitu saja kau sudah ketakutan!" ejek Aries dengan seringai tipis dibibirnya.
"Cih, aku tidak takut sedikit pun pada Anda. Ingat itu baik-baik!" Tom balas menggertak tuan Aries dengan berpura-pura tidak takut pada pria tersebut, padahal saat ini jantungnya sudah berdetak dengan keras karena ketakutan.
"Well aku akan mengingatnya." Sahut Aries dengan santai. "Oh ya, sebaiknya cepat kau katakan perasaanmu itu pada Nona Venus, sebelum ada pria lain yang datang dan merebutnya darimu!" Aries menutup pintu kamarnya lalu berjalan hendak pergi dari tempat tersebut.
"Tunggu! Apa maksud Anda?" tanya Tom.
"Ck, kau tahu jelas apa maksud perkataan ku!" sahut Aries tanpa membalik badannya. "Jangan lupa apa yang aku katakan tadi, sebelum nasibmu berakhir sama sepertiku!" Aries mengenakan kacamatanya lalu berjalan menuju pintu lift.
Tom menatap punggung tuan Aries yang menjauh, sambil memikirkan perkataan rivalnya itu.
"Benar juga apa yang dikatakan domba itu, secepatnya aku harus mengatakan perasaanku pada Venus." Tom bergegas masuk ke dalam kamarnya, yang letaknya tidak jauh dari kamar Aries. Ia ingin menyiapkan acara makan malam yang romantis untuk Venus dan mengungkapkan perasaan cintanya malam ini juga.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Venus tengah mendatangi tempat proyek yang kemarin. Ia ingin tahu kenapa bisa terjadi kelalaian yang hampir membuat nyawanya melayang, dan lebih dari itu semua Venus yang seorang perfeksionis merasa nama perusahaannya sedikit tercoreng, karena kelalaiannya itu terjadi di depan rekan bisnisnya yaitu Tuan Aries.
"Jadi kau sudah memecatnya?" tanya Venus.
"Sudah Nona." Jawab Billy selaku pimpinan yang menangani proyek tersebut.
__ADS_1
"Bagus! Aku tidak mau sampai ada kesalahan seperti itu lagi! Kau mengerti?" Venus berkata dengan tegas.
"A-aku mengerti Nona." Jawab Billy dengan terbata-bata. "Kami benar-benar sangat menyesal dengan kejadian kemarin, untung saja ada Tuan Aries yang berhasil menyelamatkan Anda. Kalau tidak-"
"Tunggu dulu! Tuan Aries menyelamatkan aku?" Venus menautkan kedua alis matanya.
"Ya Nona, apa Anda lupa?" tanya Billy.
Venus terdiam lalu matanya menatap tajam pada Eva, ia butuh penjelasan secara rinci dari asisten pribadinya itu. Dan setelah selesai berbicara dengan Billy, Venus segera masuk ke dalam mobil.
"Ceritakan semuanya padaku!" pinta Venus pada asisten pribadinya.
"Pantas saja pakaian tuan Aries kotor, ternyata dia yang menyelamatkan aku." Gumam Venus dalam hati.
Ia menghela napasnya lalu menatap kearah jendela mobil, ia sungguh bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Tom tidak bilang padanya kalau bukan dia yang menyelamatkannya, dan kenapa Tuan Aries tidak mengatakan kalau dia yang menyelamatkannya.
Di saat Venus tengah bingung, suara ponsel miliknya yang berdering membuyarkan lamunannya.
"Ya Tom." Sahut Venus saat tahu yang menghubunginya adalah sahabat baiknya.
"Ve, kau dimana?" tanya Tom.
__ADS_1
"Aku di jalan arah pulang ke hotel, kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya saja aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kau mau?" tanya Tom dengan gugup.
"Oke," jawab Venus singkat.
"Yes." Pekik Tom dalam hati. "Jam tujuh malam aku akan menjemputmu."
Venus mengiyakan lalu menutup ponselnya.
"Eva, coba kau hubungi Mark dan tanyakan padanya saat ini tuan Aries ada di mana!" Perintah Venus.
"Baik nona." Eva segera mengambil ponselnya lalu menghubungi tuan Mark.
...🍀🍀🍀...
The Bare Bottle.
Aries saat ini tengah duduk di salah satu cafe terkenal yang ada di Bali, dengan santainya ia menikmati secangkir kopi sambil menatap pemandangan disekitarnya. Aries sendiri datang ke cafe tersebut tanpa Mark, karena asistennya itu sedang mengurusi beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan Tim Black Shadow.
"Tuan Aries, maaf mengganggu waktumu." Ujar Venus yang langsung duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan rekan bisnisnya itu.
__ADS_1